.Kementerian Perdagangan (Kemendag) seolah ketagihan untuk melakukan impor beras. Setelah meneken Memorandum of Understanding (MoU) dengan Kamboja, Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan kembali menandaÂtangani persetujuan imÂpor beras dari Vietnam. Vietnam bisa mengirim beras ke Indonesia sebesar 1,5 juta ton per tahun.
Hal itu terungkap dalam peÂnanÂdatanganan nota kesepahaÂman antara Gita Wirjawan deÂngan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Vietnam Vu Hui Hoang di kantornya, Jakarta, keÂmarin. Gita menuturkan, MOU itu dilakukan agar Vietnam bisa memasok beras ke Indonesia sampai tahun 2017.
“Nota kesepahaman ini ditanÂdaÂtaÂngani karena nota kesepaÂhaÂÂman yang lama akan habis wakÂÂtuÂnya pada 1 Januari 2012. Kita perpanÂjang masanya samÂpai 31 DesemÂber 2017,†kata GiÂta daÂlam perteÂmuan Joint ComÂmission on EcoÂnoÂmic, ScienÂÂtific and TechÂnical CooÂperation keenam antara IndoÂnesia dan Vietnam di KeÂmenÂÂÂteÂrian PerdaÂgangan, Jakarta, kemarin.
Menurut Gita, kerja sama ini seÂbagai langkah antisipasi apaÂbila Indonesia membutuhkan beÂÂras tambahan, untuk memeÂnuhi caÂdaÂngan beras nasional. Sebab, dalam beberapa tahun terÂÂakhir produksi beras nasional tidak daÂpat memenuhi kebutuhÂan masÂyarakat.
“Nantinya impor yang akan diÂlakukan harus meÂlalui berbaÂgai pertimbangan dari pemerinÂtah. Di antaranya, pertimÂbangan jumÂlah pasokan beras, keÂbutuÂhan di Indonesia dan juga harga beras di pasar internasioÂnal,†jeÂlas bekas bos JP Morgan itu.
Dikatakan, tidak hanya dengan Vietnam, Indonesia juga menjalin kerja sama dengan Kamboja dan Thailand. Menurut bos Ancora Group ini, lewat kerja sama deÂngan leÂbih dari satu negara dalam satu kaÂÂwasan (ASEAN-red), membuat IndoÂnesia tidak hanya bergantung kepada satu negara saja kalau inÂgin impor beras.
“Kita jadi puÂnya baÂnyak piliÂhan kalau mau imÂpor beras. Kita juga bisa menÂseÂleksi beras yang akan kita impor,†ungÂkapnya.
Gita menambahkan, instrumen impor ini adalah opsi terakhir yang dilakukan untuk menjaga stabilitas harga di dalam negeri agar masyarakat berpenghasilan rendah bisa menikmati beras.
Anggota Komisi VI DPR NasÂril Bahar meÂÂnegaskan, seringnya pemerinÂtah impor beras menunÂjukkan kegagaÂlan swaÂsemÂbada pangan pada sektor beras.
“Pemerintahan Pak SBY sudah delapan tahun faktanya gagal membuat bangsa ini berdaulat terhadap pangan,†cetus Nasril kepaÂda Rakyat Merdeka. [Harian Rakyat Merdeka]
BERIKUTNYA >
BERITA TERKAIT: