Tarif Listrik Mau Naik, Tapi PLN Masih Boros

Selasa, 18 September 2012, 09:21 WIB
Tarif Listrik Mau Naik, Tapi PLN Masih Boros
Perusahaan Listri Negara (PLN)
Kecil Besar

rmol news logo Komisi VII DPR menuding Perusahaan Listri Negara (PLN) tidak efisien dalam penggunaan energi primer untuk memenuhi ke­­butuhan pembangkitnya. Alha­sil, biaya pokok produksi (BPP) terus tinggi yang berdampak pada bengkaknya biaya subsidi.

Anggota Komisi VII DPR Agus Sulistyono mengatakan, Komisi VII sebenarnya sudah meminta PLN dan Kementerian ESDM un­tuk lebih efisien. Caranya, dengan mengurangi peng­gunaan BBM dan menam­bah penggu­naan gas sebagai energi primer pem­bangkit. Tapi, langkah itu belum juga di­lakukan PLN.

“Belum ada langkah konkret PLN untuk memperbaiki keti­dak­efisiensian itu,” sentil Agus di Jakarta, kemarin.

Agus membeberkan indikasi ke­ti­dak­efisiensian itu. Kata dia, dalam asumsi APBN Perubahan 2012, subsidi listrik dianggarkan Rp 64,97 triliun. Namun reali­sasinya mencapai lebih dari Rp 90 triliun. “Ini karena BPP yang terus membengkak,” katanya.

Sayangnya, untuk 2013, BPP lis­trik malah naik. Di APBN Peru­ba­han 2012, BPP ditetapkan Rp 1.152 per kWh (kilowatt hour). Dalam Rancangan APBN 2013, ang­ka BPP berubah men­jadi Rp 1.163 per kWh. Se­dang­kan volu­me penjual­an listrik tahun de­pan naik dari 167,23 TWh (terawatt hour) men­jadi 182,28 TWh, atau tumbuh 9 persen dari tahun lalu.

“Kondisi ini memperlihatkan PLN memang tidak ada niat un­tuk melakukan penghematan. Padahal, pemerintah merenca­nakan menaikkan tarif dasar listrik,” katanya.

Wakil Direktur Reforminer Institute Komaidi Notonegoro mengatakan, masalah utama ting­ginya BPP bukan hanya dari peng­gunaan BBM di pem­bang­kit PLN. Tapi juga penggunaan BBM di pembangkit swasta (in­depen­dent power producer/IPP). Padahal, sebagian besar listrik PLN dibeli di IPP. Dengan be­gitu, otomatis harga beli listrik PLN jadi mahal.

“Memang BBM di pembangkit PLN turun, tapi BBM di pem­bang­kit IPP naik. Jadi, itu ma­salahnya,” jelasnya, kemarin.

Akibat hal ini, terang Komaidi, subsidi listrik terus naik. Di APBN 2012, total subsidi listrik di­ang­garkan Rp 44 triliun. Kemu­dian di APBN Perubahan 2012, subsi­dinya ditambah menjadi Rp 65 triliun. Ternyata angka ini juga ma­sih kurang. Dari hitungan semen­tara, total subsidi listrik 2012 di­perkirakan tembus Rp 96 triliun.

Karena itu, dia meminta PLN lebih banyak memakai pembang­­- kit non-BBM, khususnya energi panas bumi. Bukan hanya untuk pem­bangkit PLN, tapi juga pem­bangkit milik IPP.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wa­cik menyatakan, pihaknya akan terus menggurangi penggunaan BBM untuk pembangkit PLN. Untuk 2013, penggunaan BBM pem­bangkit PLN dipangkas men­jadi 9,7 persen dari 13,83 persen pada 2012.

Sayangnya, penggunaan gas juga malah turun. Padahal, peng­gunaan gas maksimal akan me­mangkas BPP. Tahun 2013, peng­­­gunaan gas direncanakan 22,12 persen dari 23,18 per­sen pada 2012. “Target untuk pa­so­kan gas PLN pada 2013 s­ebesar 357,5 TBTU (Trillion Bri­tish Ther­mal Unit). Angka itu naik di­banding 2012 yang hanya 340,3 TBTU,” klaim Wacik.  [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA