Dirjen Pengolahan dan PemaÂsaran Hasil Perikanan (P2HP) Kementerian Kelautan dan PerÂikanan Saut P Hutagalung menjelaskan, pihaknya sudah membangun sentra pengolahan ikan sebanyak 24 sentra dan semuanya sudah beroperasi.
“Sentra itu antara lain 1 sentra rumput laut, 1 sentra teripang, 4 senÂtra pindang, 2 sentra fillet, 2 senÂtra patin asap dan fillet. Yang lainÂnya sentra ikan asap, kerupuk, teri, dan produk nilai tambah lainnya,†katanya kepada Rakyat Merdeka.
Menurut Saut, lokasi penyeÂbaran sentra pengolahan ikan ada di berbagai tempat, misalnya proÂduk Pindang (Trenggalek-Jatim, Klungkung-Bali, Pati-Jateng dan Lombok Timur), Fillet (Tegal), Patin Asap dan Fillet (Kampar-Riau, Muaro Jambi), Ikan asap (JeÂpara, Demak, Boyolali, MinaÂhasa Selatan).
Sedangkan untuk anggaran tahun 2012 termasuk fisik, pemÂbinaan oleh daerah dan pemÂbinaan pusat sekitar Rp 9 miliar.
Perlu diketahui, Unit PengoÂlahan Ikan (UPI) seperti unit peÂngalengan ikan utilitasnya meÂningkat sekitar 15 persen pada Oktober tahun lalu, namun untuk tahun ini terdapat sekitar 100 persen peningkatan termasuk di utilitas pemindangan. Untuk UPI yang berskala besar ekspor berÂjumlah sekitar 500 unit, seÂdangkan UPI yang kecil meruÂpakan sektor UMKM dan traÂdisional berjumlah 60 ribu tersebar di berbagai daerah.
Untuk distribusi hasil tangÂkaÂpan ikan, kerja sama antar daerah terus diperkuat untuk mewuÂjudÂkan Sistem Logistik Ikan NaÂsional (SLIN) yang terintegrasi. Salah satu contoh daerah yang muÂlai menerapkan sistem SLIN yakÂni Provinsi Jawa Timur yang telah bekerja sama antara lain dengan Provinsi Maluku dan Maluku Utara.
“Kerja sama itu untuk menÂdatangkan produksi ikan dari daerah Maluku ke Jawa Timur,†jelas Saut.
Menteri Kelautan dan PerÂikanan Sharif Cicip Sutardjo mengÂklaim pihaknya sudah memÂbantu nelayan di Provinsi Lampung Selatan untuk meÂningÂkatkan kapasitas produksi. Bantuannya berupa kapal yang kaÂpasitasnya 10-30 gross ton (GT), ada juga kapal nelayan yang kecil.
“Karena para nelayan di sini (Lampung Selatan) melaut dengan jarak 5-10 mil sudah menÂdapatkan ikan. Kalau kaÂpalnya besar maka biaya opeÂrasionalnya juga sangat besar. MaÂka nelayan akan meÂnunggu banÂtuan dari pemerintah daerah atau swasta untuk opsi melaut 1 mingÂgu hingga 1 bulan,†ucapnya.
Dikatakan Cicip, di Lempasing Lampung Selatan, hanya memerÂlukan back up pengolahan ikan dan penambahan armada kapal. Jadi ikan yang ditangkap, nanÂtinya bisa dimasukan ke cold storage. Saat ini, cold storage kapasitas terpasang hingga 20 ribu ton, sedangkan yang ada sekarang hanya dapat menamÂpung sekitar 5 ribu ton.
Padahal itu sangat dibutuhkan oleh para pengolah ikan untuk meningkatkan usaha perikanan. Untuk itu, pihaknya terus berÂupaya mengembangkan industri pengolahan perikanan dalam negeri yang berdaya saing tinggi, sehingga dapat memberikan nilai bagi industri perikanan domestik. [HARIAN RAKYAT MERDEKA]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.