Pertamina Diminta Tak Ambil Jalan Pintas Impor BBM

Janji Cukupi Kebutuhan Masyarakat

Kamis, 23 Agustus 2012, 07:24 WIB
Pertamina Diminta Tak Ambil Jalan Pintas Impor BBM
ilustrasi

rmol news logo PT Pertamina dinilai hanya ingin mengambil jalan pintas dengan melakukan impor bahan bakar minyak (BBM) tambahan pasca Lebaran.

Direktur Niaga dan Pema­saran Pertamina Hanung Budya Yuktyanta mengatakan, untuk me­ngamankan stok BBM na­sional selama menjelang Le­ba­ran, Pertamina telah melakukan im­por sebesar 1,2 juta barel. Dari total impor tersebut terdiri dari pre­mium 740.000 barel, solar 200.000 barel dan avtur (bahan bakar pesawat) 80.000 barel.

“Impor yang dilakukan ini semuanya dilakukan anak peru­sahaan Pertamina yakni Petral,” katanya.

Bahkan, rencananya untuk mengamankan stok BBM seusai Lebaran, Pertamina akan m­la­kukan impor BBM tambahan.

Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan menjanjikan stok BBM aman dan mampu mencukupi kebutuhan ma­syarakat. Pihaknya meng­instruk­sikan kepa­da para pengelola Sta­siun Pengi­sian Bahan Bakar Umum (SPBU) agar beroperasi 24 jam. Dimulai H-15 hingga H+15, di sepanjang jalur mudik di kawasan pantai utara (pantura) dan Sumatera.

Pertamina juga akan meng­hi­langkan hambatan distribusi BBM, dengan menyiapkan SPBU kantong. Mobil tersebut akan berfungsi sebagai tempat mo­bil tangki berisi BBM yang akan dikirimkan ke SPBU yang ke­kurangan stok. Selain itu, ada langkah switching tangki pendam di SPBU dari solar ke premium/pertamax di 45 titik lokasi SPBU.

Pertamina juga mengoptima­lisasi dan menambah jumlah mo­bil tangki di wilayah Sumatera Sela­tan, Jawa Barat, Jawa Te­ngah, Jawa Timur dan Bali-Nusa Tenggara dengan jumlah persen­tase 6,5 persen dari armada mobil tangki yang ada.

Jalur juga menjadi perhatian, dengan melakukan pengaturan pembedaan jalur pelayanan antara motor dan mobil konsu­men serta menyediakan pelaya­nan SPBU Transit khusus sepeda motor (di 117 titik lokasi SPBU). Per­tamina juga mempersiapkan pola RAE (Regular Alternative on Emergency) jika terjadi kendala distribusi BBM di titip suplai tertentu.

Langkah selanjutnya adalah berkoordinasi dengan pemda, aparat kepolisian dan instansi ter­kait lainnya demi terciptanya ke­amanan yang kondusif dalam men­jaga kelancaran distribusi BBM.

Di luar BBM, sebanyak 4.874 SPBU juga diinstruksikan untuk meningkatkan pelayanan mu­shala, toilet, ATM, serta mem­per­hatikan aspek kebersihan, juga memper­banyak layanan Perta­mina DEX dalam kemasan di jalur mudik.

Anggota Komisi VII DPR Dito Ganinduto menegaskan, sebaik­nya pe­merintah tidak terus-teru­san me­lakukan impor BBM yang setiap ta­hunnya selalu meningkat. Ini dikha­watirkan membuat de­fisit ne­raca perdagangan semakin tinggi.

“Heran, masalah ini kan tidak pernah terselesaikan oleh pemerintah dari tahun ke tahun. Memang permintaan masa Le­baran pasti meningkat. Tapi ja­ngan ambil jalan pintas dengan langsung impor saja, kan masih ada opsi lain,” kritiknya.

Dito menyarankan pemerintah segera membangun kilang mi­nyak untuk kebutuhan konsumsi BBM di Indonesia, mengingat ke­butuhan dalam negeri selalu me­ningkat daripada ambil kebi­jakan impor setiap saat yang mem­bebankan dana ABPN. “Kilang minyak yang bangun harus pemerintah, jangan dari swasta lagi. Selain itu, kilang yang ada saat ini harus diting­katkan lagi produksinya,” tan­dasnya. [HARIAN RAKYAT MERDEKA]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA