Duh, Bahan Baku IKM Masih Impor

Tingkatkan Rantai Pasokan Pangan

Jumat, 17 Agustus 2012, 10:09 WIB
Duh, Bahan Baku IKM Masih Impor
Atih Sur­yati

rmol news logo Pemerintah diminta meningkatkan rantai pasokan bahan baku industri kecil dan menengah (IKM) pangan untuk meningkatkan program hilirisasi.

Peneliti Utama Badan Peng­kajian Iklim dan Mutu In­dustri Kementerian Per­indus­trian (Kemenperin) Atih Sur­yati mengatakan, saat ini in­dustri pangan olahan di dalam negeri ketergantungan ter­hadap bahan baku impor­nya masih tinggi.

Padahal, industri pangan olahan merupakan bagaian ter­besar dalam kelompok IKM, yakni 1,5 juta unit dari 3,8 juta unit total IKM pada 2009. Kecepatan pertum­bu­hannya juga relatif tinggi de­ngan rata-rata 16 persen an­tara 2005-2009. Sementara pertumbuhan IKM secara kese­luruhan hanya 10 persen.

“Namun sayang, IKM yang ber­kontribusi tinggi pada per­tumbuhan itu bahan bakunya masih impor,” kata Atih.

Atih mengatakan, hilirisasi industri berbasis sumber daya alam perlu ditingkatkan. Me­nurutnya, meski pertum­buhan industri terus tumbuh atau men­capai 6,2 persen pada 2011, tapi ketergantungan ter­hadap bahan bakunya juga terus meningkat.

Sementara, struktur ekspor Indonesia masih didominasi oleh bahan mentah. Sedang­kan impor oleh industri rata-ra­ta mencapai 30 persen dari biaya produksi dan 760 per­sen di antaranya berubaha ba­han baku.

Menurut dia, bahan baku IKM pangan saat ini masih diperoleh dari usaha pertanian non perkebunan yang dikelola oleh petani kecil dengan luas lahan di bawah 1 hektar. Kon­disi ini menyebabkan pema­sok bahan baku dilakukan oleh pedagang pengumpul dan membuat mata rantai panjang.

Ke depan, kebijakan IKM pangan harus didasarkan pada potensi sumber daya alam setempat sehingga bersifat unik bagi setiap daerah. Atih juga meminta pemerintah memberikan diinsentif bea keluar untuk bahan mentah guna mengurangi ekspor bahan mentah dan menarik masuknya investor masuk ke dalam negeri.

Dirjen IKM Kemenperin Euis Saedah menambahkan, saat ini pihaknya sudah memiliki program hilirasi singkong. Pada 2013, pihak­nya juga akan melakukan hilirisasi untuk beberapa jenis umbi-umbian dan kacang-kaca­ngan. “Ini bentuk kepri­hatinan kita terhadap tinggi­nya impor bahan baku seperti terigu dan kedelai. Semuanya sudah ada di Litbang,” tan­dasnya.

Untuk diketahui, dalam mem­percepat proses indus­trialisasi, pada 2012-2014 pengembangan industri na­sional difokuskan pada tiga pro­gram utama, pertama hili­risasi industri berbasis agro, migas dan bahan tambang mineral, kedua, peningkatan daya saing industri existing dan ketiga, pengembangan IKM.

Program hilirisasi industri berbasis agro, migas dan bahan tambang mineral dila­tarbelakangi oleh masih banyaknya ekspor bahan mentah/bahan baku komoditi tersebut. Hilirisasi industri di dalam negeri akan mampu menghasilkan nilai tambah, memperkuat struktur industri serta menyediakan lapangan kerja dan peluang usaha di dalam negeri.  [Harian Rakyat Merdeka]


Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA