Jelang Lebaran, Pasar Dibanjiri Makanan & Minuman Impor

Bulog Segera Dijadikan Katup Pengaman Pangan

Kamis, 09 Agustus 2012, 08:23 WIB
Jelang Lebaran, Pasar Dibanjiri Makanan & Minuman Impor
ilustrasi/ist
rmol news logo Pasar Indonesia benar-benar menjadi surga bagi produk ma­ka­nan dan minuman (mamin) impor, terutama menjelang Le­ba­r­an. Lemahnya daya saing in­dustri nasional diduga jadi sa­lah satu pemicu banjirnya mamin impor. Pemerintah harus segera mengambil langkah kon­kret sebe­lum pasar habis tergerus.

 Sekjen Gabungan Industri Ma­kanan dan Minuman Indo­nesia (Gapmmi) Franky Sibarani memprediksi, penjualan produk makanan impor di bulan puasa dan Lebaran tahun ini bakal me­ningkat 15-20 persen.

“Setiap ada peningkatan kon­sumsi di dalam negeri pasti mem­berikan peluang bagi makanan dan minuman im­por masuk ke pasar lokal,” ujar­nya di Jakarta, kemarin.

 Menurut Franky, lonjakan pen­jualan makanan impor  kare­na tidak terpenuhinya permintaan beberapa jenis produk makanan oleh produk domestik. Misal­nya, produk olahan berbahan baku daging dan ikan.

 â€œLonjakan impor makanan mu­lai terjadi sejak Mei lalu. Se­cara tradisi, impor makanan me­ning­kat dua bulan sebelum pua­sa. Saat mendekati puasa, status ma­kan­an impor ini sudah masuk ta­hap distribusi dan siap dipasok ke berbagai daerah, termasuk ke luar Jawa,” jelasnya.

Franky mengungkapkan, per­tumbuhan penjualan mamin di pasar dalam negeri yang selalu di atas 10 persen setiap tahun, menjadi peluang bagi produsen makanan impor. “Apalagi ada­nya keter­ba­tasan pasokan untuk pro­duk ter­tentu, seperti yang ber­ba­han baku daging dan ikan,” ujarnya.

Dengan demikian, peningkatan penjualan produk makanan impor jelang Lebaran nanti pun bakal berkontribusi di semester kedua ini. Franky memprediksi, penju­al­an produk makanan impor di se­mester kedua tahun ini bisa tumbuh 10-12 persen dari periode yang sama tahun lalu.

“Akibatnya, impor produk ma­kanan sepanjang tahun ini di­pre­diksi akan melonjak 10 per­sen di­banding tahun lalu. Kalau tahun lalu nilai impor mamin sebesar Rp 33 triliun, maka tahun ini diprediksi sebesar Rp 36 triliun,” katanya.

Produk makanan asal Malaysia diprediksi masih menyumbang kue pasar makanan impor yang terbesar. Tahun lalu, pangsa pasar produk makanan asal negeri jiran mencapai 23,69 persen. Diikuti makanan asal China sebanyak 14,22 persen, makanan Thailand sebesar 9,79 persen dan Singa­pura mencapai 8,48 persen.

Bulog Diaktifkan

Terkait pengendalian harga pa­ngan,  Presiden SBY memerintah­kan Pe­rum Bulog untuk menjadi pe­nyangga lima bahan pangan uta­ma, yakni beras, gula, jagung, ke­delai, dan daging sapi.  

“Saya sudah mengambil kepu­tus­an, Bulog akan direvitalisasi. Bulog ditugasi kembali untuk men­­sta­bilkan harga dan menjadi katup pengaman bahan pangan,” kata SBY. Langkah revi­talisasi peran Bulog, telah di­bahas sejak empat tahun lalu ketika terjadi lonjakan har­ga minyak dan bahan pangan.

Sejak 1998, Bulog hanya ber­tu­gas menangani komoditas beras, sedangkan komoditas lain diserah­kan ke pasar. Kewenangan itu me­­ngikuti syarat Dana Moneter In­ternasional (IMF) seperti ter­tuang dalam Letter of Intent (LoI).

Dalam berbagai kesempatan, Dirut Perum Bulog Sutarto Ali­moeso menyatakan siap jadi badan penyangga dan stabilisator pang­an utama. Seperti beras, kedelai, gula, minyak goreng dan jagung.

Dia me­nawarkan dua pi­lihan un­tuk penguatan peran Bulog. Per­tama, Bulog kembali diberikan hak monopoli seperti sebelum dipre­teli oleh IMF. Kedua, pemerintah serius membatasi ruang gerak swasta besar yang mem­bentuk kartel atas bahan pangan.  [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA