Emas Kedodoran, Antam Siap Koreksi Target Penerimaan

Akui Sulit Naikkan Produksi Logam Mulia

Kamis, 09 Agustus 2012, 08:16 WIB
Emas Kedodoran, Antam Siap Koreksi Target Penerimaan
ilustrasi, emas
rmol news logo PT Aneka Tambang (Antam) siap melakukan koreksi target pene­rimaan negara tahun 2012 jika krisis keuangan di Eropa tidak kun­jung mereda. Apalagi, harga emas masih kedodoran. Harga logam mulia ini kemarin berhasil menguat ke level 1.618 dolar AS per troy ons. Namun pergerakan ma­sih sideways seperti tidak men­dapatkan momentum untuk naik.

“Potensi penurunan ke level 1.590-an mungkin terjadi hari ini dengan catatan support di 1.606 dapat terlewati,” kata Head of Research and Analysis PT Monex Investindo Futures  Ariston Tjen­dra di Ja­karta, kemarin.

Untuk perdagangan kemarin, ujar Ariston, fundamental yang ber­pengaruh bagi pergerakan emas adalah perkembangan dari Eropa. Menurut dia, masih ada per­debatan mengenai peran Bank Sentral Eropa (ECB), terutama dalam hal pembelian obligasi pemerintah di pasar sekunder yang dapat menurunkan biaya pinjaman. “Pasar tidak melihat emas sebagai safe haven,” im­buh­nya. Dengan belum meredanya ke­ce­masan terhadap zona Euro, emas hampir dihindari oleh investor.

Direktur Ke­uang­an PT Aneka Tambang (Antam) Jaya Tambunan me­nyebutkan, penjualan emas ber­hasil menutupi kekurangan pe­­nerimaan Antam. Sepanjang Semester I-2012 hingga saat ini, harga emas rata-rata berada di kisaran 1.600 dolar AS per troy onces. Lebih rendah dari 2011 yang pernah mencapai di atas 1.600 dolar AS per troy ons. Sejauh ini hasil penjualan emas berhasil menutupi hingga 51 per­sen penerimaan Antam.

“Namun kita tidak bisa se­enak­nya menaikkan produksi emas, karena biaya produksi juga pas­ti naik. Terlebih tambang emas kita di Pongkor, Jawa Ba­rat dan Ci­baliung, Banten adalah tambang bawah tanah, yang se­cara teknis sulit dilakukan pe­ning­­katan pro­duksi dalam waktu cepat. Target produksi emas An­tam sendiri di 2012 sebesar 3,1 ton,” jelas Jaya.         

Terkait kompleksitas kondisi tersebut, menurut Dirut Antam Alwin Syah Lubis, yang paling memungkinkan dilakukan guna mengantisipasi turunnya peneri­maan akibat tak kunjung naiknya har­ga ferronickel ialah menaik­kan pro­duksi dan penjualan bijih  nikel.

Makanya, Alwin berharap, krisis ekonomi global khususnya di Eropa, bisa berangsur pulih pada Semester II-2012. Atau pa­ling tidak krisis itu tidak meluas.

“Kalau China dan Korea Sela­tan tidak terkena krisis atau kri­sisnya tidak terlalu parah pada semester II-2012, mungkin kita bisa menggenjot penerimaan. Ta­pi kalau tidak, ya terpaksa kita harus mengoreksi target peneri­ma­­an di 2012,” ujarnya.  [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA