Bukaka Cs Diajak Amankan Pasokan Listrik Ke Smelter

Selasa, 07 Agustus 2012, 08:17 WIB
Bukaka Cs Diajak Amankan Pasokan Listrik Ke Smelter
ilustrasi/ist
rmol news logo .Para investor tambang selama ini mengeluhkan ketersediaan jaminan listrik untuk pembangu­nan fasilitas industri seperti smelter. Kewajiban investasi pengo­lahan dan pemurnian bahan mi­neral di dalam negeri (smelter) selama ini dianggap dinilai tidak feasible alias tidak layak.

Sebab, dibutuh­kan investasi 1 miliar do­lar AS atau sekitar Rp 9 triliun un­tuk mem­bangun smelter baru. Ken­dala lain inves­tasi smelter, yakni soal infra­struk­tur dan pa­so­kan energi yang belum memadai.

Untuk itu, PLN telah melaku­kan penandatanganan nota kese­pahaman (MOU) dengan bebe­rapa peru­sahaan di Sulawesi, Jawa Timur dan Jawa Barat. MOU ini ditandata­ngani dengan em­pat perusa­haan besar yang berin­vestasi di bidang pengolahan biji nikel dan industri semen.

Direktur Utama PT PLN Nur Pamudji menjelaskan, ada empat perusahaan yang akan bekerja­sama dengan PLN. Pertama, PT Central Omega Resources yang siap memasok listrik 220 mega watt (MW) ke smelter di Sula­wesi dan Jawa Timur. Kedua, PT Bukaka Teknik Utama Tbk yang mampu memasok listrik 90 MW ke smelter di Kabupaten Palopo, Sulawesi.

Ketiga, PT Bakti Bu­mi Sula­wesi terkait persiapan paso­kan listrik 120 MW ke smel­ter di Kabupaten Bantaeng Pro­vinsi Sulawesi Selatan dan PT Semen Jawa terkait pasokan lis­trik 2 X 45 MW ke pabrik semen di Suka­bumi, Jawa Barat.

“Central Omega Resources, Bu­kaka, Bakti akan melayani smel­ter secara khusus, yakni secara bu­si­ness to business dan akan di­tuang­­kan dalam perjanjian kerja­ sama Pe­nya­­luran Tenaga Listrik (PKS),” jelas Nur di Jakarta, kemarin.

Nur menambahkan, sifat beban smelter yang sangat spesifik, ma­ka PLN akan terlebih dahulu me­lakukan kajian menyeluruh ter­kait dengan pemakaian listrik terkini pada sistem kelistrikan Sula­wesi dan Jawa-Bali.

“Menja­murnya industri smelter nikel ini merupakan dampak dari kebija­kan pemerintah bahwa mineral tidak boleh lagi diekspor dalam bentuk mentah. Untuk itu, PLN akan mendukung sepe­nuh­nya pengembangan industri smelter baik di Jawa-Bali mau­pun Sula­wesi,” tandasnya.

Kepala Divisi Niaga PLN Benny Marbun mengungkapkan, pembangunan smelter dilakukan secara sendiri-sendiri, karena se­tiap perusahaan tambang me­miliki desain smelter sendiri.

Sebelumnya, pemerintah men­catat terdapat 153 investor yang berminat menanamkan modalnya di bidang pemurnian bahan mine­ral (smelter) di Indonesia.

Men­teri Perindustrian MS Hi­dayat menuturkan, ratusan in­vestor itu berasal dari sejumlah ne­gara, seperti China, Hong Kong, Singa­pura dan Korea Selatan.

“Yang telah masuk setidaknya ada 153 proposal. Mereka tertarik untuk mengembangkan industri smelter di dalam negeri,” kata Hidayat.  [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA