Pemerintah diminta tidak hanya mengklaim kenaikan investasi tanpa membereskan berbagai hambatannya secara konkret.
Staf Khusus (Stafsus) Presiden SBY bidang Ekonomi dan PemÂbanguÂnan Firmanzah menilai, peluang memperkuat industri naÂsional Indonesia masih terbuka lebar. Pasalnya, pertumbuhan inÂvesÂtasi baik Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal Asing (PMA) terus meningkat signifikan.
Perkembangan realisasi invesÂtasi Indonesia selama semester perÂtama 2012 mencapai Rp 148,1 triliun. Dengan rincian, PMDN seÂbesar Rp 40,5 triliun atau naik 22,7 persen dari peÂrioÂde yang saÂma taÂhun sebelumnya. Lalu PMA Rp 107,6 triliun atau naik sekitar 30,4 persen dari periode yang sama pada tahun sebelumÂnya.
“Realisasi ini ekuiÂvaÂlen dengan 52 persen dari target 2012 sebesar Rp 76,7 triliun (PMDN) dan Rp 206,8 triliun (PMA),†ujar FirÂmanzah di Jakarta, kemarin.
Tingginya investasi baik PMA dan PMDN, menurutnya, meruÂpakan indikasi mulai meningÂkatÂnya kembali peran industri nasioÂnal. Pada tahun 2011, pertumbuÂhan industri pengolahan non miÂgas telah melewati pertumbuÂhan nasional, yaitu sebesar 6,83 perÂsen dengan nilai ekspor inÂdustri non-migas berjumlah 122,18 dolar AS miliar atau 60 persen dari total ekspor nasional.
Sedangkan pada akhir tahun 2012, pertumbuhan industri peÂngoÂlahan non migas diharapÂkan dapat tumbuh sebesar 7,05 persen dan pada 2013 tumÂbuh sebesar 8,02 persen.
Menguatnya sektor inÂdusÂÂtri, khususnya non migas, juga meÂrupakan respons dari perkemÂbaÂngan impor barang modal periode Januari-Mei 2012 yang naik 13,1 persen atau 58,4 miliar dolar AS.
“Meningkatnya impor barang modal dan bahan baku penolong merupakan salah satu indikasi bergeliatnya industri dalam neÂgeri, khususnya sektor manufakÂtur. Hal ini sekaligus memberi siÂnyal positif bagi potensi aliran inÂvestasi,†ujar bekas Dekan FaÂkultas Ekonomi UI itu.
Menurut Firmanzah, keinginan sejumlah investor baik dalam neÂgeri maupun asing berinvestasi di sektor manufaktur, membutuhÂkan dukungan SDM yang komÂpetitif. TerÂakhir, persoalan hard infraÂstructure (seperti jalan, jemÂbatan, peÂlabuhan dan listrik) serta soft infraÂstructure (birokrasi, periziÂnan, reÂgulasi dan ICT) menÂjadi prioÂritas ke depan untuk tetap memÂperÂtaÂhanÂkan kinerja ekonoÂmi, di samÂping memperÂsiapkan SDM berÂkualitas untuk akseÂlarasi pembaÂngunan nasional.
Lembaga pemeringkat Doing Business mengeluarkan hasil peÂÂneÂlitiannya tentang perbanÂdingan kebijakan di 20 kota di Indonesia. Penelitian itu meliÂbatkan KeÂmenÂterian PenÂdayagunaan ApaÂratur Negara dan Reformasi BiroÂkrasi dan KoÂmite Pemantau PelaksaÂnaan Otonomi Daerah (KPPOD).
Ada 20 kota yang diÂsurÂvei, yaiÂtu Balikpapan, Banda Aceh, BanÂdung, Batam, Denpasar, GoÂronÂtalo, Jakarta, Jambi, MaÂkassar, MaÂnado, MataÂram, MeÂdan, PaÂlangÂka Raya, PaÂlemÂbang, PeÂkanÂÂÂbaru, PonÂtianak, Semarang, SuraÂÂÂbaya, SuÂrakarta dan YogyaÂkarta.
Manager Hubungan Eksternal KPPOD Robert Endi Jaweng meÂngatakan, Indonesia mengÂÂÂhadapi banyak tantangan yang mengÂhamÂbat perkembaÂngan sektor swasta.
“Kekurangan tenaga kerja terÂdidik, infrastrukÂtur yang buruk dan kerangka keÂbijakan yang berÂbelit-belit meruÂpakan tiga pengÂhambat terbesar usaha,†katanya.
Dia menambahkan pula, dua hambatan terÂbesar terhadap keÂgiatan invesÂtasi perusahaan adaÂlah tidak meÂmaÂdaiÂnya jumlah teÂnaga kerja terdiÂdik dan tinggiÂnya tingkat inforÂmalitas atau ketidakÂnormalan dalam berbisÂnis. “BahÂkan, hamÂpir 30 perÂsen dari peÂruÂÂsaÂhaan-perusahaan di IndoneÂsia meÂmulai kegiatanÂnya tanpa menÂdaftarkan diri seÂcara formal,†pungÂkas Jaweng. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: