Untuk proyek sekelas JemÂbatan Selat Sunda (JSS) senilai di atas Rp 100 triliun, Menteri KeÂuangan (Menkeu) Agus MartoÂwardojo meÂnguÂÂsaÂhakan agar pendanaanÂnya bisa dilakukan lewat AnggaÂran PenÂdapatan BeÂlanja Negara (APÂBN). Namun, untuk proyek Trans Jawa yang nilainya hanya berÂkisar Rp 20 triliun, KeÂmenkeu justru ogah menÂdanai.
Menteri PekerÂjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto meÂÂngÂataÂkan, pemÂÂbeÂrian duÂkuÂngan dana untuk pemÂbangunan tol Trans Jawa akan tetap dilaÂkukan, mesÂkipun KeÂmenÂterian KeuangÂan (KemenÂkeu) menyaÂtakan tidak akan memÂberiÂkan dana Viability Gap Funding (VGF) proÂyek itu.
Menurut Djoko, pemÂbiayaan meÂlalui APBN bentuknya buÂkan haÂnya VGF, tapi juga bisa duÂkuÂngan berupa pelakÂsanaan pemÂÂÂbebasan tanah atau pemÂbanguÂnan sebaÂgian konstrukÂsi tol yang selama ini sudah diÂteÂrapÂÂkan unÂtuk bebeÂrapa ruas. Misalnya saja tol SemaÂrang-Solo dan akses TanÂjung Priok.
“Pembiayaan bukan hanya bisa melalui VGF, tapi bisa dari aloÂkasi DIPA (Daftar Isian Padu AnggaÂran) langsung, atau BLU (Badan Layanan Umum) tanah. Kan sama saja berasal dari dana APBN yang menjadi dukungan pemerintah,†ujar Djoko di JaÂkarta, keÂmaÂrin.
DiperÂkirakan, hanya enam dari sembilan ruas tol Trans Jawa yang dapat beroperasi pada 2014. Antara lain, Cikampek-PaÂlimaÂnan, Semarang-Solo, Solo-Ngawi, Ngawi-KertoÂsono, KertoÂsono-Mojokerto dan MojoÂkerto-Surabaya. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: