“Kalau sekarang kita hanya mengeluh soal infrastruktur gas dan tidak pernah mulai memÂbangunnya, kapan selesainya,†sindir Wakil Ketua Badan PengÂawas Hilir Minyak dan Gas BuÂmi (BPH Migas) A Qoyum TjanÂdraÂnegara kepada Rakyat MerÂdeka, kemarin.
Pernyataan ini menanggapi keluhan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudi Rubiandini yang mengaku pemerintah tidak bisa melakukan moratorium ekspor gas karena infrastruktur gas dalam negeri belum maksimal.
“Nggak mungkin moratorium. Permasalahan di dalam negeri itu hanya harga dan infrastrukÂtur,†kata Rudi.
Rudi menambahkan, jika inÂfrastruktur sudah tersedia di JaÂwa dan Sumatera, pihaknya opÂtimis kebutuhan gas untuk sektor transÂportasi dan industri akan terpeÂnuhi dengan maksimal.
Qoyum mengaÂtakan, pembaÂnguÂnan infraÂstrukÂtur gas bumi nasional hingga 2017 membutuhÂkan investasi Rp 77,93 triliun. Pembangunan ini unÂtuk meningÂkatkan kemampuan gas bumi daÂlam negeri dan seÂbagai pengganti bahan bakar miÂnyak (BBM), seÂhingga subÂsiÂdinya bisa berkurang.
Bekas Dirut PT Perusahaan Gas Negara (PGN) itu juga meÂngaÂtakan, peningkatan infraÂstrukÂtur gas berpotensi menghemat konsumsi BBM hingga 17,38 juta kilo liter per tahun. “Sebenarnya, kalau dana tidak ada masalah, pemerintah bisa bekerja sama dengan swasta,†ujarnya.
Menurut Qoyum, sekarang tinggal keinginan pemerinÂtah untuk membangun infrastruktur gas itu. Apalagi membangun infrastrukÂtur memerlukan waktu lama. SeÂbab, sumber gas bumi pada umumnya terletak di daeÂrah terÂpencil, seperti di laut daÂlam SuÂmatera dan KaÂliÂÂmanÂÂtan, sementara konÂsumen terbesar berada di Pulau Jawa.
Karena itu, kata Qoyum, saat ini BPH Migas sedang memÂbaÂngunan infrastruktur pipa gas dari Natuna ke Jawa Barat unÂtuk memenuhi kebutuhan gas dalam negeri.
Dirjen Minyak dan Gas (Migas) Kementerian ESDM Evita LeÂgowo meÂngataÂkan, pihaknya meminta banÂtuan perbankan naÂsional agar dapat mengucurÂkan dan meminÂjamkan dananya unÂtuk memÂbangun infrastruktur gas di negeri ini. “Memang risiÂko luÂmaÂyan tinggi, tapi pada saat eksÂplorasi saja. Setelah itu risiÂkonya sangat rendah,†ujarnya
Menurut Evita, pembangunan itu untuk kebutuhan industri naÂsional dan kebutuhan masyaÂraÂkat. Apalagi gas akan menjadi enerÂÂgi primadona di masa menÂdatang. Karena itu, dia akan meÂrayu perbankan nasional untuk mengucurkan anggaran daÂlam pembangunan infrastruktur gas.
Direktur Energy Watch Mamit Setiawan mengatakan, pemeÂrintah masih kurang serius memÂbangun infrastruktur energi berÂsih itu. Hal itu bisa dilihat dari proyek pipanisasi gas di Pulau Jawa seperti Semarang-Cirebon, Semarang-Surabaya dan KaliÂmantan Timur-Jawa, yang sudah direncanaan sejak 1998 sampai saat ini belum terlaksana.
“Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) banyak yang sudah tidak beroperasi lagi,†kata Mamit.
Yang terjadi, kata Mamit, seÂlama ini gas dalam negeri lebih banyak diekspor dengan harga yang lebih murah. Padahal, inÂdustri dalam negeri masih keÂkurangan pasoÂkan energi. Bila peÂmerintah seÂrius meÂngemÂbangkan infraÂtsrukÂtur gas, maka subsidi subsidi BBM yang sekarang sudah menÂcapai Rp 200 triliun bisa ditekan.
Sebelumnya, Direktur Utama PT Pertamina Gas Gunung SarÂdjono Hadi mengatakan, kendala pemÂbangunan infraÂstruktur baÂhan bakar gas (BBG) adalah staÂsiun induk (mother station) dan stasiun cabang (daughter station) adalah masalah perizinan. [Harian Rakyat Merdeka]
< SEBELUMNYA
BERIKUTNYA >
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: