Dirjen Migas Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Evita H Legowo meÂngatakan, pihaknya bekerja sama dengan aparat kepolisian setemÂpat akan menangani penjarahan minyak yang merugikan negara.
â€Kami sudah identifikasi dan kirim orang ke sana untuk beÂkerja sama dengan polisi,†kata Evita di Jakarta, kemarin.
Menurut dia, kasus penjarahan minyak tersebut memprihatinkan karena membahayakan keselaÂmaÂtan manusia dan meruÂgikan negara. Dia berharap, maÂsalah itu segera ada penyelesaian.
Evita mengklaim, sebenarnya sudah dilakukan beberapa upaÂya mengatasi penjarahan miÂÂnyak tersebut. “Sudah dilaÂporÂkan ke polisi, tapi belum berÂkurang, tetap saja ada. DitangÂkap sebentar, daÂtang lagi, daÂtang lagi. Kami ingin ini tidak terjadi lagi,†curhatnya.
Pertamina EP mengeluhkan aksi penjarahan minyak mentah yang terjadi di Sumsel dan Jambi tidak mendapat penanganan aparat kepolisian setempat.
Juru Bicara Pertamina EP Agus Amperianto mengatakan, tindak kriminal penjarahan yang terjadi di jalur pipa yang mengalirkan minyak mentah dari lapangan produksi di Tempino, Jambi ke kilang PT Pertamina (Persero) di Plaju, Sumsel bertambah banyak dan makin mengkhawatirkan.
Pada 2009, aksi penjarahan hanya terjadi 10 kali, namun naik 131 kasus pada 2010, meningkat lagi 420 kali pada 2011 dan seÂlama Januari-Juni 2012 melonÂjak menjadi 431 kali.
Menurut dia, kalau sebelumnya aksi penjarahan tidak mencapai 5.000 barel per bulan, maka pada Mei 2012 tercatat 39.000 barel. Lalu, pada Juni 2012 meningkat hingga 59.000 barel.
Atau, selama dua bulan terÂakÂhir minyak Pertamina EP di jalur pipa Tempino-Plaju yang dijarah mencapai 98.000 barel. Kalau diasumsikan harga miÂnyak menÂtah 100 dolar per barel, maka keÂrugian negara hanya dalam dua bulan, yakni Mei-Juni 2012 menÂcapai Rp 80 miliar.
Pada jalur pipa Tempino-Plaju, dialirkan sebanyak 330.000 barel per bulan, sehingga aksi penjaraÂhan pada Mei mencapai 12 perÂsennya dan Juni naik 18 persen. Selain kerugian negara dan aset, aksi penjarahan tersebut berÂpotenÂsi menimbulkan ledakan dan kebakaran, sehingga memÂbahayakan masyarakat. Selain di jalur Tempino-Plaju, aksi penÂcurian minyak juga makin memÂprihatinkan di wilayah PraÂbumulih, Sumsel dengan 56 kasus pada Juni 2012. [Harian Rakyat Merdeka]
< SEBELUMNYA
BERIKUTNYA >
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: