RMOL. Pemerintah tidak serius meÂnyeÂlesaikan masalah infraÂstruktur penyeberangan. Ini terkait kemÂbali terjadinya antrean panjang di PeÂlabuhan Merak, Banten.
Wakil Sekjen Asosiasi PenguÂsahan Indonesia (Apindo) Franky Sibarani mengatakan, kondisi ini memperlihatkan pemerintah tiÂdak siap mengantisipasi perÂtumÂbuhan ekonomi dan kendaraan angkut yang cepat. Alhasil, anÂtrean kerap terjadi di pelaÂbuahan.
“Pembangunan infrastruktur dan pengembangan pelabuhan juga masih sangat minim,†cetus Franky di Jakarta, kemarin.
Kondisi ini, menurutnya, memÂbuat para pengusaha harus meÂngeluarkan biaya logistik tamÂbahan 10-20 persen. Selain itu, untuk jenis makanan yang diÂangÂkut menjadi cepat busuk. SaÂyangnya, Franky tak meÂnyebut berapa kerugian yang ditanggung oleh para pengusaha akibat keÂmacetan dan antrean panjang itu.
Menurut Franky, untuk tahun ini kerugian pengusaha lebih beÂsar dibanding tahun lalu. SeÂbab, dalam tahun ini sudah terjadi beÂberapa kali antrean di pelaÂbuhan. Karena itu, dia meminta peÂmeÂrinÂtah serius mengantisipasi anÂtrean di pelabuhan.
Berdasrkan data Organisasi Pengusaha Nasional Angkutan Bermotor Jalan Raya (Organda), kerugian pengusaha angkutan akibat antrean di Pelabuhan Merak pada 2011 mencapai Rp 1,5 miliar per hari.
Ketua Umum DPP Organda Eka Sari Lorena mengÂungÂkapÂkan, setiap harinya Pelabuhan Merak melayani hingga 3.300 truk yang menyeberangi Pulau Jawa dan Sumatera. Namun, kaÂpasitas kapal dan pelabuhan haÂnya mampu menampung seÂkitar 1.850-2.100 truk per hari.
Ia menilai, penumpukan kenÂdaraan di pelabuhan tersebut diÂsebabkan tidak adanya upaya pemerintah untuk mengantisipasi pertumbuhan kendaraan yang mengÂgunakan jasa penyeÂbeÂraÂngan tersebut. Kapasitas kapal yang melayani penyeberangan Merak-Bakauheni nyaris tidak mengalami pertumbuhan dalam 10 tahun terakhir.
Padahal dalam tiga tahun terÂakhir, pertumbuhan kendaraan khususnya truk mencapai 8-10 persen. Selain itu, terjadi peruÂbaÂhan ukuran truk dari light truck menjadi heavy truck karena truk besar dapat menampung kapaÂsitas yang lebih besar. [Harian Rakyat Merdeka]
< SEBELUMNYA
BERIKUTNYA >
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.