Proyek Blok Cepu Terkendala Izin

Selasa, 26 Juni 2012, 08:00 WIB
Proyek Blok Cepu Terkendala Izin
ilustrasi, Blok Cepu
RMOL.Pelaksanaan proyek Banyu Urip, Blok Cepu, masih ter­ken­dala masalah non teknis seperti perizinan, sumber daya manusia dan penyerapan kom­ponen lokal.

Perkembangan pelaksanaan kontrak engineering, procure­ment and construction (EPC) yang terhubungan dengan kondisi sosial lebih lambat dari target yang ditentukan. Seperti, EPC I yang mengerjakan fasilitas proses produksi, EPC 2 yang mem­ba­ngun jalur pipa di darat, serta EPC 5 dengan kontrak pem­ba­ngunan fasilitas infrastruktur dan waduk penampung air injek­si.

Contoh kendala yang menge­muka, pekerjaan EPC 5 belum dimulai karena terhalang belum keluarnya 29 Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dari Pemerintah Daerah (Pemda) Bojonegoro.

Sebaliknya, kontrak yang tidak terkait kondisi sosial, misalnya EPC 3 yang membangun jalur pipa laut dan EPC 4 yang mem­bangun fasilitas penyimpanan dan alir muat terapung reali­sa­sinya lebih tinggi dari target.

Menurut Kepala Divisi Humas, Sekuriti dan Formalitas Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Mi­gas) Gde Pradnyana, pihaknya terus berusaha proyek Cepu dapat se­suai target, yakni produksi 90.000 barel minyak per hari (bph) pada Mei 2014.

“Semua pihak, termasuk pem­da mesti mendukung penuh se­lu­ruh kebutuhan proyek,” katanya.

Berdasarkan data BP Migas, produksi di blok Cepu pada Mei 2014 baru sekitar 50 persen dari total kapasitas fasilitas produksi. Produksi secara bertahap akan meningkat seiring bertambahnya jumlah sumur produksi. Ditar­getkan, produksi 150.000 bph dapat terjadi pada Agustus 2014 dan akan menyentuh 185.000 bph pada November 2014.

Dengan jadwal proyek yang sangat ketat itu, BP Migas me­minta Mobil Cepu Ltd, operator blok Cepu, melipatgandakan volume pekerjaan tanpa meng­abaikan kualitas

Seperti diketahui, lima EPC dengan total nilai kontrak sekitar 1,3 miliar dolar AS telah ditanda tangani sepanjang tahun 2011. Dengan cadangan sekitar 450 juta barel minyak, Banyu Urip meru­pakan lapangan dengan ca­dangan minyak terbesar yang masih be­lum tereksploitasi.

Gde menjelaskan, melihat trend eksplorasi yang lebih banyak menemukan gas, penemuan ca­dangan minyak sebesar Banyu Urip kemungkinan belum akan terulang dalam lima tahun ke de­pan. “Proyek inilah yang mem­buat produksi minyak nasional da­pat mencapai 1 juta bph,” kata Gde.

Pembangunan fasilitas pro­duksi penuh Lapangan Banyu Urip me­rupakan pekerjaan besar de­ngan kompleksitas yang tinggi. Fasilitas itu mencakup 49 sumur yang ter­hubung pada tiga anjung­an, se­buah fasilitas pusat pengo­lahan, pipa sepanjang 95 kilo­meter untuk mengalirkan minyak ke fasilitas penyimpanan dan alir-muat ter­apung (Floating Storage and Offloading/FSO) bermuatan mini­mal 1,7 juta barel, dan kapal tanker yang akan meng­angkut minyak dari FSO tersebut.

MCL dan Ampolex (Cepu) PTE Ltd. keduanya merupakan anak perusahaan dari Exxon­Mobil Corporation merupakan pemegang 45 persen saham par­tisipasi dalam Blok Cepu. Kedua perusahaan ini berpartner de­ngan Pertamina EP Cepu yang juga me­megang 45 persen saham partisipasi, serta Badan Kerja Sama (BKS) blok Cepu yang memegang 10 persen saham partisipasi. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA