Direktur Energi Watch MaÂmit Setiawan mengatakan, pemÂbaÂngunan kilang minyak baru di InÂdonesia mandeg dalam 10 taÂhun terakhir ini. Dia curiga, ada piÂhak-pihak tertentu yang mengÂhambat pembangunan kilang agar Indonesia terus mengimpor baÂhan bakar minyak (BBM).
“Pihak-pihak yang menggaÂgalÂkan (jika memang ada), mungÂkin terÂmasuk yang selama ini diunÂtungkan dengan impor minyak,†ujarnya di Jakarta, Jumat (22/6).
Menurut Mamit, selama ini pubÂÂlik memang tidak mengetahui pasti berapa jumlah impor BBM yang dilakukan pemerintah. KeÂmenterian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) pun cenderung terÂtutup soal impor BBM tersebut.
Bahkan tidak diketahui, dari maÂna pemerintah melakukan impor BBM serta berapa dana yang dihabiskan untuk mengÂimpor BBM.
Anggota Komisi VII DPR Dito Ganinduto mengatakan, pemeÂrintah harus segera mereaÂlisaÂsiÂkan pembangunan kilang baru. Sebab, kebutuhan BBM dalam negeri terus meningkat. “Jika swasÂta tidak bisa diharapkan, peÂÂmerintah bisa membaÂngunÂnya sendiri,†katanya.
Untuk anggarannya, pemerinÂtah bisa mengambilnya dari hasil pengÂhematan BBM yang bisa menÂcapai Rp 20 triliun. Namun, peÂmerintah juga harus tegas, jika ada perusahaan yang sudah meÂnerima izin pembangunan kilang tapi belum melakukannya, harus seÂgera dicabut izinnya.
Dito mengatakan, pemÂbaÂnguÂnan kilang itu perlu dibarengi deÂngan kepastian pasokan miÂnyak mentah. Karena itu, PerÂtaÂmina harus melakukan kerja saÂÂma deÂngan negara-negara pengÂhasil minyak.
Menurutnya, kilang yang ada sekarang sudah tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan dalam neÂgeri. Kebutuhan BBM dalam neÂgeri saat ini sekitar 33 persen diÂÂpeÂnuhi dari impor.
“Penyediaan kiÂlang baru saÂngat penting untuk menÂÂjaga keÂtahanan energi atau meÂningkatÂÂkan kehandalan penyeÂdiaan BBM dalam negeri,†tuturnya.
Dirjen Migas Kementerian ESDM Evita H Legowo mengaÂtakan, pemerintah akan memÂbaÂngun sendiri kilang minyak agar dapat memenuhi kebutuhan daÂlam negeri. Dia mengatakan, seÂlama ini keinginan Indonesia unÂtuk memiliki kilang bekerja sama deÂngan investor asing masih sulit direalisasikan meski sejumlah insentif telah diberikan.
Menurut Evita, waktu yang diÂbutuhkan untuk membangun kiÂlang mulai dari studi hingga pemÂbangunan sekitar 5-7 tahun. Studi untuk membangun kilang memÂbutuhkan 1-2 tahun. SeÂdangÂkan untuk pembangunan fisiknya diperlukan 3-4 tahun.
Studi pembangunannnya bakal mulai dilakukan tahun depan, anggarannya akan menghabisÂkan sekitar Rp 90 triliun. PemÂbaÂnguÂnan kilang tersebut juga beÂkerja sama dengan Pertamina. RenÂcaÂnanya, kilang akan dibaÂngun di Sumatera.
Namun, untuk membangun kilang ada dua persyaratan yang harus dipenuhi. Yaitu modal dan pasokan crude oil yang berkeÂsinamÂbungan. “Nah uangnya ini yang kita usahakan sendiri. SeÂdangkan suplai crude belum, maÂsih kita cari,†jelas Evita.
Sebelumnya, Pertamina menÂcaÂtat nilai impor BBM akan terus meningkat seÂtiap tahunnya jika pembanguÂnan kilang baru tidak dilakukan. Vice President CorÂporate ComÂmunication Pertamina M Harun mengatakan, saat ini kapasitas produksi BBM dari kilang yang dioperasikan perseÂroaannya menÂcapai 40,6 juta kiloliter (KL) per tahun dengan tingkat konÂsumsi 2012 diperkiÂrakan menÂcapai 57,1 juta KL.
Pada 2018, kata Harun, perÂminÂtaan BBM nasional diproÂyekÂsikan akan mencapai 72,2 juta KL, sehingga diperlukan peÂnamÂbahan kilang-kilang baru untuk mengÂhindari Indonesia dari keterÂgantungan yang tinggi terhadap impor BBM.
“Kami telah menyusun roadÂmap pembangunan kilang baru dan juga revamping terhadap kiÂlang-kilang yang sudah ada. DiÂharapkan, pada 2018 tingkat proÂduksi BBM dari kilang-kilang Pertamina dan mitra akan meÂningÂkat menjadi 66,7 juta KL sehingga impor dapat ditekan,†ujar Harun.
Menurut dia, perseroaan sudah bekerja sama dengan Kuwait PetÂroÂleum Corporation dan Saudi Aramco Asia Company Limited untuk membangun kilang baru deÂngan masing-masing berkaÂpaÂsitas 300.000 barel per hari. UnÂtuk pembangunan kedua kilang tersebut, kini masih dalam proses pembahasan insentif fiskal dan non fiskal bersama pemerintah.
Harun mengatakan, Pertamina sangat berkepentingan untuk meÂrealisasikan rencana proyek dua kilang. Pembangunan kedua kiÂlang itu juga untuk meningÂkatÂkan ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan InÂdonesia akan impor BBM.
Harun mengatakan, rencana pembangunan itu terkendala laÂhan. Menurutnya, saat ini semaÂkin marak praktek spekulasi laÂhan. Akibat ulah spekulan, harga tanah di Tuban maupun Balongan menjadi tidak rasional karena keÂnaikannya berkali-lipat. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: