Hal tersebut disampaikan KeÂpala Badan Pelaksana Kegiatan UsaÂha Hulu Minyak dan Gas BuÂmi (BP Migas) R Priyono saat peÂresmian penyaluran gas perdana LaÂpangan Terang Sirasun Batur, KaÂngean Energy Indonesia Ltd, Gresik, Jawa Timur, kemarin.
Menurut dia, gas dari seluruh proÂÂduksi lapangan Jawa Timur tiÂdak akan diekspor. “100 perÂsen proÂÂÂÂduksi gas Jawa Timur saat ini seÂÂÂÂpenuhnya untuk daÂlam negeri, tiÂÂdak ada yang diÂekspor,†janji Priyono.
Menurut dia, itu mempertegas komitmen BP Migas dan pelaku inÂdustri hulu migas untuk memÂprioritaskan pemenuhan gas bagi kebutuhan dalam negeri.
Dengan mulai tersalurnya gas dari Kangen Energy Indonesia seÂbesar 300 juta kaki kubik feet per hari akan menambah pasokan gas ke industri di Jawa Timur yang sangat haus gas.
“Dari 300 juta kaki kubik feet per hari tersebut, sebesar 130 BBTUD untuk PLN, Petrokimia GreÂsik sebesar 65 BBTUD, PerÂtamina gas (Pertagas) sebesar 100 BBTUD, dan Indogas seÂbesar 20 BBTUD,†katanya.
Priyono berharap, dengan berÂhentinya ekspor gas, tidak ada lagi aksi demonstrasi di Jawa TiÂmur. BP Migas juga tidak ada niatan untuk mengekspor gas JaÂwa Timur. Apalagi, di sana juga tiÂdak ada fasilitas untuk meÂlaÂkukan kegiatan itu.
Untuk diketahui, Lapangan Terang Sirasun Batur merupakan bagian dari Blok Kangean yang dikembangkan berdasarkan Plan of Development (POD) revisi yang disetujui BP Migas pada 2005.
Gas dari lapangan ini diproÂdukÂsikan melalui 9 sumur yang dikumpulkan dan diproses hingga meÂmenuhi spesifikasi gas jual di Floating Production Unit (FPU) Joko Tole dan selanjutnya gas jual ini dikirim ke pembeli meÂlalui pipa 18 East Java Gas Pipeline (EJGP).
Pengamat energi Kurtubi meÂngatakan, pemerintah harus seÂgera menghentikan seluruh eksÂpor gas ke luar negeri. Pasalnya, ekspor yang dilakukan sekarang tidak memberikan pemasukan untuk negara dan justru merugikan.
“Kerugian itu karena harga jual ekspor sangat rendah dibanding harga jual dalam negeri. Dalam negeri saja bisa mencapai 10 dolar AS per MMBTU (Million MeÂtric British Thermal Unit), sementara harga jual gas ke China cuma 3 dolar AS per MMBTU,†kritiknya.
Menurutnya, lebih baik gas terÂsebut untuk memenuhi keÂbuÂÂtuÂhan dalam negeri. Terkait alaÂsan infrastruktur, KurÂtubi meÂngatakan, itu bisa dibaÂngun jika pemerintah serius. Apalagi peÂmerintah sudah meÂnargetkan proÂgram konversi BBM ke gas. Hal itu tentu akan berdampak pada peningkatan kebutuhan dalam negeri.
Direktur Pembinaan Usaha Hulu Minyak dan Gas KemenÂteÂrian ESDM Edy Hermantoro meÂngatakan, alasan pemerintah maÂsih melakukan ekspor gas kaÂrena infrastruktur dalam negeri belum siap untuk menyerap gas.
Edy juga menolak jika dibilang pemerintah lebih memperioriÂtaskan gas untuk ekspor dibanÂdingkan untuk dalam negeri.
“Kalau pembeli di hilirnya beÂlum siap juga jadi permasalahan, tidak bisa gas yang diproduksi didiamÂkan saja hanya untuk meÂnunggu pembeli,†tegasnya.
Menurut Edy, proyek gas baru bisa dimulai produksinya apabila sudah ada pembeli, ini berbeda dengan minyak. Beberapa sumur peÂngembangan gas ada di SulaÂweÂsi, Papua dan wilayah timur lainÂnya sementara kebutuhan indusÂtrinya ada di Jawa.
“Nah, karena terkendala infraÂsturktur sehingga gas yang sudah proÂduksi diambil pembeli di luar negeri yang paling. Di sisi lain, neÂgara juga memÂbuÂtuhkan penÂdapatan. Karena itu, untuk seÂmenÂtara gas dalam negeri diÂekspor,†katanya.
Sebelumnya, bekas Dirut PT Perusahaan Gas Negera (PGN) Qoyum Tjandranegara mengaÂtakan, Indonesia mengaÂlami keÂrugian Rp 183 triliun per tahun akibat mengekspor gas bumi dengan harga murah. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: