“LumaÂyan juga hasilnya 10 haÂri pertama ini. Dibanding pada 1-10 Mei, suÂdah ada kemajuan seÂdikit yaitu penuÂrunan penjualan atau pemÂbelian premium dan peÂningkatan yang cukup baik untuk perÂtamax,†kata Dirjen Migas KeÂmenterian ESDM Evita H LeÂgowo di Jakarta, kemarin.
Selain penurunan konsumsi preÂmium, kata Evita, kebijakan terÂsebut juga sudah meningÂkatÂkan penjualan pertamax hingga 8,5 persen. Menurut dia, hasil evaÂluasi tersebut dengan catatan beÂlum semua stiker penggunaan BBM non subsidi dibagikan.
Dia optimis, setelah stiker seÂleÂsai dibagikan untuk JaÂboÂdeÂtabek maka jumlah penghematan yang diperÂoleh akan lebih banyak lagi.
Ketua Tim Nasional PengheÂmaÂtan Energi dan Air Tanah KarÂdaya Warnika mengingatkan, pengÂhematan ini baru diberÂlaÂkukan untuk wilayah JaboÂdeÂtaÂbek. Sementara untuk Jawa-Bali, akan dimulai Agustus.
“Ini penting disampaikan kaÂrena banyak laporan yang masuk ke kaÂmi, kalau di beberapa daerah masih banyak kendaraan dinas yang beli BBM subsidi. Padahal di daerah itu belum diatur,†ujar Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi itu.
Wakil Menteri ESDM Rudi RuÂbiandini menambahkan, seteÂlah pelarangan penggunaan BBM subsidi untuk kendaraan dinas pemerintah, BUMN dan BUMD, pada tahap selanjutnya akan meÂlibatkan perusahaan swasta.
Rudi mengatakan, penghemaÂtan akan semakin besar jika conÂverter kit untuk konversi BBM ke bahan bakar gas telah tersedia. “Ini sebuah kegiatan jangka penÂdek, kita harapÂkan dalam wakÂtu dua tahun ini, baik pengÂhematan maupun konÂversi dapat terlakÂsana,†katanya.
Untuk jangka menengah, kata Rudi, pemerintah juga akan meÂlakukan konversi dari BBM ke baÂhan bakar gas (BBG) untuk keÂgiatan industri dan listrik. KeÂbijakan tersebut dapat dilakukan dalam waktu 3-5 tahun karena gas telah tersedia di Kalimantan, NaÂtuna dan kawasan lainnya. SeÂkarang tinggal mengangkutnya, diperlukan infrastruktur.
“Kita perlu liquefied natural gas (LNG) carrier, alat pemamÂpat gas jadi compressed natural gas (CNG) atau LNG, perlu reÂceiving facilities,†katanya.
Jika itu dapat dikerjakan bersaÂmaan dengan pemasangan pipa-pipa di Jawa termasuk sampai ke industri, maka solusi jangka meÂnengah di mana menggunakan gas untuk menggantikan BBM dan listrik bisa terjadi. Efeknya akan cukup signifikan.
Untuk dikatahui, diversifikasi energi merupakan program jangÂka panjang Kementerian ESDM. Sudah saatnya pengguÂnaan enerÂgi migas yang hingga kini masih mencapai 65 persen harus dituÂrunkan dan digeser pada diverÂsifikasi energi lain. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: