Akibatnya, harga rumah warÂtawan yang semula dipatok seÂharga Rp 45 juta tampaknya akan mengalami kenaikan. Pasalnya, Direktur Pemasaran Perumnas Teddy Robinson mengÂungÂkapÂkan, harga tanah yang sedang dinego itu kini naik, maka harga rumahnya bakal naik menjadi Rp 75 juta hingga Rp 80 juta. Teddy mengakui, masalah laÂhan meÂmang menjadi kenÂdala dalam pelaksanaan ruÂmah muÂrah ini.
“Menpera kan maunya menÂjual rumah murah wartawan ini sekitar Rp 75 juta sampai Rp 77 juta. Tapi kan karena ini tanah milik perusahaan swasta, untuk harga segitu ya tidak bisa. MeÂreka maunya jual Rp 86 juta,†tutur Teddy tanpa menyeÂbutkan nama peruÂsahan itu.
Tanah seluas 28 hektar (ha) di pinggiran kota Jakarta ini, meÂnurut dia, memang lokasinya cuÂkup strategis dan tergolong saÂngat mahal.
“Jadi, wajar jika pasaran harga tanah di wilayah tersebut mahal. Lokasinya bagus, akses menuju stasiun hanya 10-15 menit saja,†ucap Teddy yang pernah meninÂjau lokasi tersebut.
Untuk memperoleh kesepaÂkatan harga itu pun, saat ini MenÂteri Perumahan Rakyat (MenÂpera) Djan Faridz tengah meÂlaÂkukan negosiasi terkait harga yang cocok di wilayah Citayam.
“Kalau kami disuruh menguÂrusi harga tanah ya kami nggak sanggup lah, jadi sekarang Pak Menteri yang sedang bernego deÂngan pihak perusahaan. Untuk harga kasarnya pun kami juga belum tahu berapa pastinya,†imbuh Teddy.
Namun, pihak Perumnas yang ditunjuk membangun proyek ruÂmah murah ini menyatakan keÂsiapannya untuk membangun sekitar 1.000 unit rumah bagi warÂtawan.
Selagi menunggu kepastian tanah, pihaknya telah memÂperÂsiapkan berbagai hal, seperti segÂmentasi rumah, desain, konsÂtrukÂsi maupun lay out-nya. DaÂlam waktu dekat, Perumnas juga akan meminta data base dari KeÂmenÂpera terkait siapa saja warÂtawan dan dari media mana yang akan menjadi calon konsumen.
DÂeÂputi Pembiayaan KemenÂpera Sri Hartoyo mengaku, proÂyek rumah murah wartawan itu masih dalam tahap perencanaan.
“Yang pasti tetap akan diÂlakÂÂsaÂnakan, cuma semua masih dibiÂcarakan soal harga dan insÂÂtruÂmen lainnya. Diupayakan pembanguÂnÂannya bisa segera direalisasikan dengan baik, kaÂrena peminat ruÂmah muÂrah ini sudah sangat memÂÂbluÂdak,†janji Sri kepada Rakyat Merdeka, Selasa (12/6).
Sekretaris Kemenpera Iskandar Saleh menambahkan, program rumah murah saat ini masih biÂcara dalam tataran perencanaan seÂperti tipe bangunan, keterseÂdiaan lahan, hingga harga yang cocok untuk proyek tersebut.
Sebelumnya, Djan Faridz meÂngatakan, akan melakukan pemÂbicaraan terkait mekanisme pemÂÂbayaran yang tepat dengan peÂrusahaan media. “Nanti, gajinya dipotong dari perusahaan, untuk rumah. Gaji maksimal Rp 3,5 juta. Selanjutnya, yang lebih dari itu tidak dapat bunga 7,5 perÂsen,†kata Djan.
Djan menjelaskan, bunga seÂbesar 7,5 persen akan diberikan selama 2-3 tahun. Sedangkan unÂtuk jenis rumah dipukul rata seÂcara keseluruhan. “Bunganya cuÂma 7,5 persen selama 2-3 tahÂun dan sisanya floating, tapi kita usaÂhakan jangka waktunya tepat 15 tahun dan harganya sama,†ucap menpera.
Djan menegaskan, pembaÂngunan yang akan diÂrenÂcanakan di wilayah Depok akan diutaÂmakan bagi wartawan deÂngan tugas lapangan. [Harian Rakyat Merdeka]
< SEBELUMNYA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: