Selain itu, Djan juga diminta meÂngurangi pelesiran ke daerah-daerah yang hanya sekedar teken MemoÂrandum of Understanding (MOU) sana-sini tanpa ada reaÂlisasi yang jelas.
“Kami sudah mempertanyakan berkali-kali masalah bunga dana subÂsidi FLPP di 2011 ke pemeÂrinÂtah, tetapi hingga kini belum ada laÂÂporan penyaluran bunga tersebut. Anggaran subsidi rumah rawan penyimpangan,†kata Anggota KoÂmisi V DPR bidang Perumahan Riswan Tony di Jakarta, kemarin.
Menurut dia, anggaran subsidi rumah yang berasal dari AngÂgaran Pendapatan dan Belanja NeÂgara (APBN) diperuntukkan bagi MasÂyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Bunga dari dana penyertaan peÂmeÂrintah untuk FLPP dipatok seÂbesar 0,5 persen dan digunakan unÂtuk keperluan administrasi Badan LaÂyanan Umum (BLU) Pusat PemÂÂbiaÂyaan Perumahan Kemenpera.
Namun, Kemenpera justru meÂnemÂpatkan dana bunga tersebut daÂlam bentuk deposito di bank yang bukan penyalur Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi. Dengan asumsi bunga deposito 6 persen, terdapat sejumlah dana bunga yang tidak jelas peruntukannya.
“Kalau itu benar terjadi, itu peÂlanggaran karena dana APBN tiÂdak boleh dibungakan. Kalau di deposito siapa yang menggunaÂkan bunga tersebut? Ini patut diÂperÂtanyakan,†cetus Riswan.
Riswan menyatakan, dana bunga FLPP sebesar 0,5 persen itu sehaÂrusnya ditempatkan dalam reÂkeÂning bank penyalur FLPP. Dana itu bisa dimanfaatkan oleh pihak bank sebagai sumber dana untuk kredit komersial. Sebagai imbal balik pemanfaatan dana bunga FLPP oleh perbankan untuk kreÂdit koÂmersial, pemerintah bisa meÂminta pihak bank untuk meneÂkan suku bunga FLPP lebih rendah.
“Dengan porsi dana penyerÂtaan peÂmerintah dan perbankan 50:50 perÂsen, suku bunga FLPP dapat menjadi 3,5-4 persen kaÂrena suku bunga FLPP yang diÂpatok 7,25 selama 15 tahun diÂnilai masih tinggi,†ujarnya.
Politisi Golkar ini menegaskan, tidak ada alasan bagi peÂmerintah untuk mendepositokan dana FLPP yang bersumber dari APBN, kaÂrena tujuan utama skeÂma FLPP adalah menurunkan suku bunga kredit rumah subsidi.
“Transparansi dana yang diÂpakai oleh BLU harus jelas aloÂkaÂÂsinya. Tahun ini diharapkan tidak terulang lagi bunga dana APBN diendapkan dalam depoÂsito bank,†warning Riswan.
Soal pelesiran MOU MenÂpera ke daeÂrah, Riswan mengaÂtaÂkan, seÂbaiknya distop karena dinilai tiÂdak ada gunanya dan memborosÂkan uang negara. Djan sebaiknya foÂkus pada program ruÂmah murah agar bisa direaÂliÂsasikan dengan cepat dan mengÂgenjot penyerapÂan dana FLPP buat masyarakat kecil.
“Kalau sekedar pelesiran teken MOU sana-sini tanpa ada yang bisa direalisasikan, buat apa? Itu pemÂborosan uang negara. Ini haÂrus jadi catatan penting buat Djan di kaÂbinet,†tegasnya.
Berdasarkan data Bank IndoÂnesia (BI) realisasi penyaluran FLPP pada kuartal I/2012 sebanyak 4.959 unit atau hanya 0,82 persen dari target Kemenpera sepanjang tahun ini sebanyak 600.000 unit.
Realisasi penyaluran KPR berÂsubsidi di DKI Jakarta 57 unit. Realisasi KPR bersubÂsidi terbaÂnyak di Jawa Barat seÂbanyak 1.183 unit, diikuti KaliÂmantan Selatan 843 unit, Jawa Tengah 546 unit, Jawa Timur 507 unit dan Kepulauan Riau 265 unit.
Penyaluran FLPP terendah terÂjadi di Papua hanya 1 unit, Nusa Tenggara Timur hanya 2 unit, lalu Bali, Bandung, Bangka BeÂlitung dan Nusa Tenggara Barat 3 unit, Sulawesi Utara 5 unit dan SulaÂwesi Tengah 6 unit.
Kepala BLU Kemenpera Dyah Tjahjani Saraswati tidak menyeÂbutkan berapa realisasi FLPP kaÂrena masih dalam perhitungan. “Kami belum bisa menyebutÂkan berapa angkanya karena maÂsih ada kendala terbatasnya paÂsokan yang disediakan pengemÂbang di JaboÂdeÂtabek,†kilah SaÂraswÂati.
Ketua Lembaga Pengkajian PeÂngemÂbangan Perumahan dan PerÂkotaan Indonesia Zulfi Syarif Koto sebelumnya mengatakan, sehaÂrusÂnya penyerapan FLPP sudah miÂniÂmal 25 persen dari yang ditargetkan.
“Saya rasa sulit untuk mengeÂjar target hingga akhir tahun,†kata Zulfi. [Harian Rakyat Merdeka]
< SEBELUMNYA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: