Penyaluran Dana FLPP Nggak Jelas

DPR: Anggaran Subsidi Rumah MBR Rawan Penyimpangan

Kamis, 31 Mei 2012, 08:08 WIB
Penyaluran Dana FLPP Nggak Jelas
ilustrasi/ist
RMOL.Bunga dana dari alokasi anggaran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) pada 2011 dinilai tidak transparan dan tak jelas penyalurannya. DPR meminta Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz segera menjelaskan kemana penyaluran bunga tersebut.

Selain itu, Djan juga diminta me­ngurangi pelesiran ke daerah-daerah yang hanya sekedar teken Memo­randum of Understanding (MOU) sana-sini tanpa ada rea­lisasi yang jelas.

“Kami sudah mempertanyakan berkali-kali masalah bunga dana sub­sidi FLPP di 2011 ke peme­rin­tah, tetapi hingga kini belum ada la­­poran penyaluran bunga tersebut.  Anggaran subsidi rumah rawan penyimpangan,” kata Anggota Ko­misi V DPR bidang Perumahan Riswan Tony di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, anggaran subsidi rumah yang berasal dari Ang­garan Pendapatan dan Belanja Ne­gara (APBN) diperuntukkan bagi Mas­yarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Bunga dari dana penyertaan pe­me­rintah untuk FLPP dipatok se­besar 0,5 persen dan digunakan un­tuk keperluan administrasi Badan La­yanan Umum (BLU) Pusat Pem­­bia­yaan Perumahan Kemenpera.

Namun, Kemenpera justru me­nem­patkan dana bunga tersebut da­lam bentuk deposito di bank yang bukan penyalur Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi. Dengan asumsi bunga deposito 6 persen, terdapat sejumlah dana bunga yang tidak jelas peruntukannya.

“Kalau itu benar terjadi, itu pe­langgaran karena dana APBN ti­dak boleh dibungakan. Kalau di deposito siapa yang mengguna­kan bunga tersebut? Ini patut di­per­tanyakan,” cetus Riswan.

Riswan menyatakan, dana bunga FLPP sebesar 0,5 persen itu seha­rusnya ditempatkan dalam re­ke­ning bank penyalur FLPP. Dana itu bisa dimanfaatkan oleh pihak bank sebagai sumber dana untuk kredit komersial. Sebagai imbal balik pemanfaatan dana bunga FLPP oleh perbankan untuk kre­dit ko­mersial, pemerintah bisa me­minta pihak bank untuk mene­kan suku bunga FLPP lebih rendah.

“Dengan porsi dana penyer­taan pe­merintah dan perbankan 50:50 per­sen, suku bunga FLPP dapat menjadi 3,5-4 persen ka­rena suku bunga FLPP yang di­patok 7,25 selama 15 tahun di­nilai masih tinggi,” ujarnya.

Politisi Golkar ini menegaskan, tidak ada alasan bagi pe­merintah untuk mendepositokan dana FLPP yang bersumber dari APBN, ka­rena tujuan utama ske­ma FLPP adalah menurunkan suku bunga kredit rumah subsidi.

“Transparansi dana yang di­pakai oleh BLU harus jelas alo­ka­­sinya. Tahun ini diharapkan tidak terulang lagi bunga dana APBN diendapkan dalam depo­sito bank,” warning Riswan.

Soal pelesiran MOU Men­pera ke dae­rah, Riswan menga­ta­kan, se­baiknya distop karena dinilai ti­dak ada gunanya dan memboros­kan uang negara. Djan sebaiknya fo­kus pada program ru­mah murah agar bisa direa­li­sasikan dengan cepat dan meng­genjot penyerap­an dana FLPP buat masyarakat kecil.

“Kalau sekedar pelesiran teken MOU sana-sini tanpa ada yang bisa direalisasikan, buat apa? Itu pem­borosan uang negara. Ini ha­rus jadi catatan penting buat Djan di ka­binet,” tegasnya.  

Berdasarkan data Bank Indo­nesia (BI) realisasi penyaluran FLPP pada kuartal I/2012 sebanyak 4.959 unit atau hanya 0,82 persen dari target Kemenpera sepanjang tahun ini sebanyak 600.000 unit.

Realisasi penyaluran KPR ber­subsidi di DKI Jakarta 57 unit.  Realisasi KPR bersub­sidi terba­nyak di Jawa Barat se­banyak 1.183 unit, diikuti Kali­mantan Selatan 843 unit, Jawa Tengah 546 unit, Jawa Timur 507 unit dan Kepulauan Riau 265 unit.

Penyaluran FLPP terendah ter­jadi di Papua hanya 1 unit, Nusa Tenggara Timur hanya 2 unit, lalu Bali, Bandung, Bangka Be­litung dan Nusa Tenggara Barat 3 unit, Sulawesi Utara 5 unit dan Sula­wesi Tengah 6 unit.

Kepala BLU Kemenpera Dyah Tjahjani Saraswati tidak menye­butkan berapa realisasi FLPP ka­rena masih dalam perhitungan. “Kami belum bisa menyebut­kan berapa angkanya karena ma­sih ada kendala terbatasnya pa­sokan yang disediakan pengem­bang di Jabo­de­tabek,” kilah Sa­rasw­ati.

Ketua Lembaga Pengkajian Pe­ngem­bangan Perumahan dan Per­kotaan Indonesia Zulfi Syarif Koto sebelumnya mengatakan, seha­rus­nya penyerapan FLPP sudah mi­ni­mal 25 persen dari yang ditargetkan.

“Saya rasa sulit untuk menge­jar target hingga akhir tahun,” kata Zulfi. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA