“Sekarang pemerintah haÂnya fokus pada pembuatan reÂgulasi, sementara pengawasan impor makanan dan minuman masih kurang,†kata Sekjen Gabungan Asosiasi Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmi) Franky Sibarani kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.
Franky mengatakan, sepanjang 2011 impor mamin tercatat 238,28 juta dolar AS atau naik 10,29 persen dibanding 2010, yakni 216,05 juta dolar AS.
Menurutnya, serbuan impor mamin masih banyak berasal dari negara-negara ASEAN seperti MaÂlaysia. Tingginya impor secaÂra tidak langsung berdampak paÂda penÂjualan komoditi tersebut.
“Apalagi, industri makanan dan minuman masih terkendala paÂsoÂkan gas yang berdampak paÂda proÂÂduksi. Saat ini 50-60 pabrik maÂkanan dan minuman masih keÂkurangan pasokan gas,†jelas Franky.
Terkait ekspor, Franky memÂperÂkirakan nilai ekspor makanÂan dan minuman tahun ini bisa meÂningkat, paling besar 15 perÂsen menjadi 3,45 miliar dolar AS dibanding tahun lalu sekitar 3 miliar dolar AS.
“Pasar ekspor terbesar IndoÂnesia memang ke Amerika SeriÂkat dan Eropa, tidak bisa diÂpungÂÂkiri ada tekanan. Tetapi, ekspor masih bisa tetap tumbuh karena ada pasar-pasar non traÂdisional,†jelasnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai impor InÂdonesia pada Maret 2012 sebesar 16,43 miliar dolar AS atau naik 10,49 persen dibanding impor Februari 2012 yang besarnya 14,87 miliar dolar AS.
Dibanding impor pada Maret 2011 yang sebesar 14,49 miliar dolar AS, berarti tahun ini naik sebesar 13,40 persen. SemenÂtaÂra selama Januari-Maret 2012, niÂlai impor Indonesia mencapai 45,85 miliar dolar AS atau naik 18,18 persen jika dibanding peÂriode yang sama tahun sebeÂlumnya sebesar 38,79 miliar dollar AS.
Impor non migas sepanjang Januari-Maret 2012 tercatat 35,41 miliar dolar AS atau naik 16,47 persen ketimbang periode yang sama tahun 2011 sebesar 30,4 miliar dolar AS.
Menteri Perdagangan (MenÂdag) Gita Wirjawan menegasÂkan, KeÂmenterian Perdagangan (KeÂmenÂdag) akan berupaya meÂnggenÂjot ekspor nasional agar bisa meÂmeÂnuhi target tahun ini, yakÂni 230 miliar dolar AS. Salah saÂtu upaÂyanya, pemerinÂtah akan menganÂtisipasi impor produk yang tidak mengikuti aturan atau ilegal.
Salah satu upaya yang akan dilakukan pemerintah adalah meÂngantisipasi derasnya produk impor ilegal. Menurut Gita, itu penting agar pemerintah bisa menjaga surplus ekspor impor seperti tahun lalu.
Gita mengatakan, sebagian beÂsar komoditas impor ilegal adalah produk mainan, besi baja, helm, ponsel, hingga sayuran dan buah.
Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan InÂdustri (Kadin) Bidang PerdaÂgangan, Distribusi dan Logistik Natsir Mansyur meminta peÂmeÂrintah lebih proaktif melaÂkukan pengawasan terhadap perÂedaran barang impor ilegal, serta memÂperketat masuknya produk ileÂgal itu melalui sejumlah pintu maÂsuk yang ada.
Dengan kian maraknya produk ilegal di tengah-tengah masyaÂrakat, dikhawatirkan akan meruÂgikan produsen nasional dan membahayakan pasar domestik yang semestinya dijaga. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: