Biaya Transportasi Logistik Indonesia Tertinggi Di Dunia

Produk Dalam Negeri Tidak Mampu Bersaing

Senin, 07 Mei 2012, 09:31 WIB
Biaya Transportasi Logistik Indonesia Tertinggi Di Dunia
Transportasi Logistik

RMOL. Biaya transportasi logistik In­donesia salah satu yang tertinggi di dunia. Kondisi ini berdampak pa­da berkurangnya daya saing pro­duk dalam negeri.

Deputi Menko Perekonomian Bi­dang Industri dan Perdagang­an Edy Putra Irawadi mencatat, saat ini biaya logistik mencapai 14,42 per­sen dari total biaya produksi atau 27 persen dari PDB (Produk Do­­mestik Bruto). Padahal, di Ame­rika Serikat (AS) hanya 9 persen dari PDB.

“Dengan tingginya biaya logis­tik itu, banyak komoditas atau pro­duk dalam negeri tidak mam­pu bersaing dengan produk-pro­duk dari luar,” katanya.

Edy mencontohkan, terkait de­ngan membanjirnya produk-pro­duk yang berasal dari China aki­bat perjanjian perdagangan bebas.

Mahalnya biaya logistik juga menciptakan disparitas harga an­tar daerah. Karena itu, dia ber­harap masalah logistik ini di­benahi. Ia juga mengusulkan agar sistem logistik dalam negeri ber­basis maritim karena Indone­sia merupakan negara kepulauan.

Dikatakan Edy, untuk menca­pai target pendapatan per kapita 16.000 dolar AS pada 2025,  ma­salah sistem logistik ini harus diselesaikan dan dibenahi.

 Anggota Lembaga Pengkajian Penelitian dan Pengembangan Ekonomi (LP3EI) Kamar Da­gang dan Industri (Kadin) Ina Pri­miana mengatakan, biaya logistik di In­donesia terbilang sangat tinggi ketimbang Malaysia yang hanya 15 persen atau Jepang 10 persen.

Biaya logistik itu terbagi dalam biaya penyimpanan sebesar Rp 546 triliun, biaya transportasi Rp 1.092 triliun dan biaya adminis­trasi Rp 182 triliun.

“Selain biaya yang sangat ting­gi, mutu pelayanan logistik di In­donesia juga buruk. Seperti wak­tu jeda di Indonesia untuk barang-ba­rang impor tersebut mencapai 5,5 hari dan biaya angkut yang mahal,” jelas Ina.

Kondisi itu ditambah dengan pra­sarana logistik yang masih kon­vensional seperti jalan, pe­labuhan dan hubungan antar mo­da. Juga belum terbangunnya konektivitas antara satu lokasi dengan lokasi lainnya. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA