BK Mineral 20 Persen Asosiasi Nikel Pasrah

Senin, 07 Mei 2012, 09:24 WIB
BK Mineral 20 Persen Asosiasi Nikel Pasrah
ilustrasi, Nikel

RMOL. Asosiasi Nikel Indonesia (ANI) menyambut baik lang­kah pemerintah yang me­ne­rapkan bea keluar (BK) mi­neral rata-rata 20 persen untuk me­nekan ekspor bahan baku yang berlebihan.

Ketua Umum ANI Shelby Ihsan Hasan mengatakan, sejak awal pihaknya mengu­sul­kan angka bea keluar tam­bang mineral 15 sampai 25 per­sen.

“Bea keluar 20 persen dam­paknya tidak begitu be­sar,” kata Shelby kepada Rak­yat Merdeka di Jakarta, kemarin.

Ia mengakui, penerapan bea keluar secara tidak langsung akan berdampak pada pene­ri­maan atau keuntungan peru­sa­haan. Dengan aturan itu, para pengusaha nikel harus me­lakukan efisiensi.

Ditanya apakah pihaknya juga melakukan tekanan agar bea keluar lebih rendah dari usulan pemerintah antara 30-50 persen, Shelby mengaku tidak ada. Menurut dia, pihak­nya hanya meminta agar pe­merintah tidak terlalu tinggi menerapkan bea keluar supaya tidak mengganggu kinerja.

Dia juga mengaku, sepan­jang 2009 hingga 2011 ekspor mi­neral mengalami kenaikan 500-800 persen. Kenaikan jum­lah ekspor itu disebabkan anjloknya harga jual.

Selain itu, kenaikan itu juga disebabkan industri dalam negeri tidak ada yang menye­rap nikel. “Saat ini masih nol per­sen. PT Aneka Tambang (An­tam) juga hanya mengam­bil dari hasil tambangnya sen­diri,” kata Shelby.

Terkait pembangunan pab­rik pemurnian (smelter), kata Shelby, pihaknya optimis pem­bangunan itu bisa dila­kukan dalam waktu cepat dan pada 2014 dan siap men­ja­lankan keputusan peme­rin­tah untuk tidak lagi meng­ekspor bahan tambang.

“Pemerintah sudah mena­war­kan insentif yang dita­warkan pemerintah. Cuma yang men­jadi kendala adalah ke­tersedia­an infrastruktur,” katanya.

Menurut Shelby, pemba­ngu­nan smelter tidaklah mu­dah karena membutuhkan in­ves­tasi yang sangat besar. Tapi, itu bukan masalah kare­na ada beberapa negara yang menjual smelter bekas, mi­salnya China.

“Saat ini harga alat-alat smel­ter yang standar 50 juta do­lar AS. Sedangkan yang bekas harganya 10 juta dolar AS,” jelasnya. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA