Menperin Minta Industri Kosmetik Dan Produk Herbal Kurangi Impor Bahan Baku

Selasa, 24 April 2012, 08:00 WIB
Menperin Minta Industri Kosmetik Dan Produk Herbal Kurangi Impor Bahan Baku
ilustrasi, Industri Kosmetik

RMOL. Kementerian Perindustrian (Ke­menperin) meminta industri ko­mestik dan produk herbal me­ngurangi ketergantungan ter­hadap bahan baku impor dan me­waspadai serbuan produk-produk dari China

“Saat ini bahan baku impor un­tuk industri komestik dan produk her­bal mencapai 50 persen dari ke­butuhan bahan baku,” ujar Men­teri Perindustrian (Men­perin) MS Hidayat saat peletakan batu pertama pembangunan pabrik PT Martina Berto Tbk di Cikarang, kemarin.

Menurut dia, salah satu penye­bab tingginya impor akibat mi­nim­nya penyediaan bahan baku lo­kal yang berkualitas dan me­menuhi standar. Kondisi itu yang menyebabkan Indonesia masih ketergantungan terhadap bahan baku impor.

Padahal Indonesia merupakan negara penghasil obat, kosmetik dan aromatik nomor dua di dunia. Karena itu, Kemenperin terus melakukan riset dan pengem­ba­ngan teknologi yang dapat meng­hasilkan bahan baku yang ber­kua­litas dan standar.

Hidayat mengatakan, saat ini omzet industri komestik nasional mencapai Rp 7 triliun, sedangkan produk herbal nasional Rp 11 triliun pada 2011.

Namun, dia mengakui, dengan besarnya pangsa pasar komestik dan jamu di Indonesia, pelaku industri patut mewaspadai ser­buan produk komestik dan pro­duk herbal dari China. Apalagi serbuan produk ilegal juga tinggi.

“Kami juga akan terus men­ciptakan iklim usaha yang kon­dusif agar industri produk herbal dan komestik bisa bersaing de­ngan produk impor,” janjinya.

Di tempat yang sama, Direktur Utama PT Martina Berto Tbk Bryan Tilaar mengaku pihaknya ma­sih mengimpor bahan baku un­tuk komestik meski jumlahnya tidak banyak. Sedangkan untuk ba­han baku produk herbalnya su­dah 100 persen dari dalam negeri.

Menurut Bryan, pada 2011 pen­jualan produk jamu dan ko­mestik perseroaan meningkat 80,79 persen dan 10,80 persen. Se­mentara penjualan produk ja­mu dan kosmetik pada 2010 ma­sing-masing sebesar Rp 7,148 juta dan Rp 546,107 juta.

Dituturkan, pada 2010, produk jamu baru berkontribusi 1,3 persen dari total penjualan per­seroan, sedangkan 2011 produk jamu berhasil meningkat­kan kontribusi dua persen.

Untuk meningkatkan produksi, pihaknya juga membangun pa­brik obat tradisional senilai in­vestasi Rp 44 miliar.

“Pabrik ini direncanakan se­lesai dalam waktu 10 bulan dan akan beroperasi pada kuartal kedua 2013,” ujar Bryan.

Pabrik yang akan dibangun di areal seluas 9,5 hektar itu akan menggunakan cara pembuatan obat tardisional yang baik (CPOTB) terbaru. Pabrik ini juga menerapkan konsep green fac­story (ramah lingkungan).

Dari luas 9,5 hektar itu, 6,5 hektar akan digunakan untuk bangunan dan pabrik, sisanya akan digunakan untuk Kampoeng Djamoe Organik (Kado). [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA