Anggota Komisi VII Dewi Ariani mengatakan, jual beli lisÂtrik dengan Malaysia yang diÂrencanakan pada 2017 tidak ada bagusnya. Menurutnya, ekspor listrik makin tidak masuk akal dilakukan jika rasio elektrifikasi dalam negeri sendiri masih seÂbatas lampunisasi atau hanya cukup untuk penerangan.
“Esensi elektrifikasi adalah dengan listrik, pemberdayaan ekoÂnomi dapat berjalan dan meÂmiliki value dalam proses pemÂbangunan ekonomi suatu wilaÂyah,†jelas Dewi kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, Jumat (20/4).
Terbengkalainya tata kelola listrik di Indonesia, lanjutnya, bukan merupakan kesalahan PLN semata. Hal itu terjadi akibat dari buruknya kebijakan pemerintah di sektor energi dan tidak terinÂtegrasinya seluruh komponen kebijakan yang terkait.
Sebab, selama ini listrik yang menjadi pondasi perekonomian hanya dianggap enteng pemeÂrintah. Pemerintah tidak menÂduÂdukkan bahan bakar minyak (BBM) dan kelistrikan sebagai public value (nilai umum).
Dikatakan, pemerintah wajib mengatur dengan cermat dan mengutamakan listrik dan BBM untuk kepentingan masyarakat banyak. Pemenuhan suplai bahan bakar untuk pemÂbangkit listrik harus menjadi perÂtimbangan utama dalam meÂngemÂbangkan pembangkit.
Dia menyarankan agar jangan memperbanyak pembangkit deÂngan suplai BBM, melainkan harus diperbanyak berbasis batuÂbara dan gas. Bahkan batubara juga harus di klasifikasikan batuÂbara low calorie yang dapat di proÂÂses gasanisasi sehingga meÂnguÂÂrangi ongkos produksi listrik.
“Pemerintah harus segera meÂmutuskan produksi gas mana yang bisa diserap PLN, dan sisaÂnya bisa diekspor. Jangan terbalik diekspor dulu dan sisanya untuk PLN. Sangat lucu, kita mau ekspor tapi juga impor listrik ke Negeri Jiran,†tandas politisi PDIP itu.
Dirinya optimistis, PLN meÂmiliki anggaran untuk harga gas yang wajar, sehingga investor juga masih mempunyai margin yang baik. Ia mendesak pemerinÂtah untuk melakukan untuk memÂperjuangkan DMO (Domestic Market Obligation) gas lebih utama daripada EMO (Export Market Obligation).
Setali tiga uang, pengamat keÂlistrikan Febby Tumiwa mengimÂbau PLN agar memperhatikan pasokan listrik dalam negeri dulu sebelum mengekspor listrik ke Negeri Jiran.
Selain itu, dia meminta agar PLN berkoordinasi dengan pihak terkait dalam meningkatkan rasio elektrifikasi di seluruh wilayah Indonesia, khususnya kawasan Indonesia Timur. Sebab, rasio elektrifikasi di kawasan ini masih di bawah 50 persen.
Pekerjaan rumah tersebut harus dipikul bersamaan dengan PeÂmerintah Daerah (Pemda), pemeÂrintah Pusat (Pempus) dan KeÂmenterian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
“Pemerintah sebaiknya melaÂkukan kontrak jual beli listrik dalam jangka pendek. Sebab, hal ini harus disesuaikan dengan pembangkit listrik di wilayah terkait serta bertambahnya beban listrik di kemudian hari,†jelas Febby kepada Rakyat Merdeka.
Manajer Senior Komunikasi Korporat PLN Bambang DwiÂyanto mengaku rencana ekspor listrik ke Malaysia baru sebatas wacana, belum ada perjanjian apapun. Pihaknya memastikan, pada 2017, pasokan listrik di Sumatera akan mengalami surÂplus seiring dibangunnya pemÂbangkit baru yang berkapasitas 3000 Megawatt.
“Saat ini, rasio elektrifikasi tetap kita tingkatkan. Karena itu juga merupakan persyaratan daÂlam jual beli listrik,†ungkapnya kepada Rakyat MerÂdeka. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: