Pansel Komisioner OJK Mengecewakan

Disinyalir Jadi Ladang Cari Duit Pensiunan Birokrat

Rabu, 11 April 2012, 08:12 WIB
Pansel Komisioner OJK Mengecewakan
ilustrasi/ist
RMOL.Meski nama calon belum diserahkan ke DPR, Indonesian Corruption Watch (ICW) berharap Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diisi oleh orang muda yang berkualitas dan memiliki pengalaman luas. Bukan menampung calon yang akan masuk masa pensiun. Karena hal itu bisa merusak independensi lembaga dalam pengawasan perbankan.

ICW juga mewarning Ke­tua Pa­nitia Seleksi (Pansel) Agus Mar­towardojo untuk tidak m­e­mak­sa­kan kelompoknya masuk dan ha­rus berani mendepak calon yang diduga memiliki masalah hukum.

Koordinator Indonesian Corrup­tion Watch (ICW) Danang Wi­doyoko mengaku, tidak puas me­lihat kinerja pansel dalam me­nye­leksi sejumlah calon Dewan K­o­misioner (DK-OJK).  Ia meli­hat, calon yang diloloskan keba­nya­kan usia tua yang mau me­masuki ma­sa pensiun.

“OJK itu butuh orang muda yang progresif, berkualitas dan berintegritas. Bukan orang yang sudah mau pensiun dipaksakan masuk  untuk mencari duit. Ini bi­s­­a membahayakan kredibilitas pe­ngawasan bank ke depan,” war­ning Danang.

Danang juga menyesalkan ba­nyaknya nama calon dan anggota pansel yang berlatar belakang dari Bank Mandiri. Diantaranya, Agus Martowardojo selaku Ke­tua Pansel, I Wayan Agus Me­r­tayasa, Ogi Prastomiyono dan Ris­winandi. “Ini lembaga OJK, atau Otoritas Jasa Kawan-kawan Mandiri Cs ?,” sindir Danang.

Untuk itu, ICW menyarankan pansel dan anggota OJK yang lo­los mestinya dievaluasi ulang agar keberadaan OJK benar-be­nar bisa menjaga stabilitas ke­uangan nasional.

“Kewenangan OJK melebihi KPK, karena lembaga ini bisa mengajukan tuntutan sekaligus mengeksekusi. Sedangkan KPK cuma investigasi,” tegasnya.  

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Har­tati menyatakan, keraguannya ter­hadap DK OJK untuk men­jawab permasalahan di sektor ke­uangan nasional. Pasalnya, baik pansel maupun calon DK yang lolos sebagian besar berasal dari dua lembaga yakni Bank Indo­nesia (BI) dan Bapepam-LK yang dinilai penuh masalah keuangan.

“Walaupun belum diumumkan secara resmi oleh pemerintah, 14 nama yang keluar lebih banyak dari kalangan birokrat. Hal ini mungkin dilihat dari komposisi pansel OJK didominasi dari birokrasi dan bukan dari pihak luar,” katanya.

Ditempat terpisah, Wakil Ketua Komisi XI DPR Harry Azhar Azis akan memeriksa keterkaitan dua calon Ketua OJK dalam ka­sus Bank Century.

“Kami akan periksa semua ca­lon, termasuk dalam kasus Bank Century. Ya kita lihat saja nanti nama-nama yang akan dise­rah­kan presiden ke DPR,” kilah Harry.

Saat ini beredar nama yang di­kabarkan masuk dalam 14 ang­gota calon DK OJK yang akan di­usulkan presiden ke DPR. Yaitu, bekas  Deputi Gubernur BI Ach­jar Iljas, Hekinus Manao (Di­rek­tur Eksekutif Bank Dunia),  I Wayan Agus Mertayasa (Direktur Pelaksana Bank Mandiri), Ku­sumaningtuti Sandriharmy Soe­tiono (bekas Kepala Kantor Per­wa­kilan BI di New York), Mulia P Nasution (bekas Sekjen Ke­men­­keu), dan Muliaman Hadad (De­­puti Gubernur BI).

Selain itu ada Nelson Tam­pu­bolon (Mantan Direktur Di­rektorat Internasional BI), Nur­haida (Ke­tua Bapepam-LK), Ogi Pras­to­miyono (Direktur Com­plian­ce Hu­man Capital Bank Man­diri), Pe­ter Benyamin Stok (Komisaris Utama BNI/bekas Dirut Bank Niaga), Rijani Tirtoso (Executive vice president coor­dinator internal audit Bank Man­diri), Riswinandi (Wakil Direktur Bank Mandiri), Sahala Lumban Gaol (Staf Ahli Bidang Kebijakan Publik Kemen­terian BUMN), dan Yunus Husein (bekas Ketua PPATK).

Sedangkan nama calon yang bakal memasuki masa pensiun adalah Staf Ahli Kementerian Keuangan Mulia Nasution dan Komisaris PT Bank Mandiri Tbk Achjar Ilyas. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA