Industri Kreatif Bisa Sokong 75 Persen Ekspor Nasional

Asal Didukung Pengembangan Ekonomi Daerah

Kamis, 05 April 2012, 08:03 WIB
Industri Kreatif Bisa Sokong 75 Persen Ekspor Nasional
Sapta Nir­wan­dar
RMOL.Polemik tentang harga Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak akan mempengaruhi potensi industri kreatif di daerah. Saat ini, trend per­tumbuhan industri ini men­ca­pai 7,7 persen atau hampir sama de­ngan pertumbuhan ekonomi na­sional.

Wakil Menteri Pari­wi­sata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nir­wan­dar menyatakan, keter­gan­tungan industri kreatif ter­hadap BBM sangat minim.

“Se­benar­nya, jika industri kreatif masih banyak bergantung pada BBM, mereka bisa mengguna­kan BBM non subsidi. Hingga saat ini, industri krea­tif masih kom­petitif meski ke­bijakan pem­batas­an BBM sub­sidi telah gencar di­wacanakan,” tandas Sap­ta di Ja­karta, kemarin.

Untuk itu, calon Ketua Ikatan Alumni Unpad Periode 2012-2016 ini akan meng­em­bangkan ber­­­bagai potensi ekono­mi kreatif, baik di daerah atau kampus. Untuk di kam­pus, pihak­nya akan mendorong pe­nelitian ekonomi kreatif.  “Selama ini Unpad punya kontribusi besar bagi pengem­bangan ekonomi kreatif di Jawa Barat,” cetusnya.

Sementara Direktur Jenderal Nilai Buda­ya, Seni dan Film Ke­men­terian Pariwisata dan Eko­nomi Kreatif Ukus Kuswara me­ngatakan, potensi Indonesia pa­da sektor ekonomi kreatif ter­buka luas.

“Kurang lebih 27 per­sen dari total penduduk Indonesia adalah pemuda dalam usia pro­duktif dan tentunya memiliki potensi untuk mengembangkan ekonomi krea­tif,” kata Ukus.

Namun, ada beberapa perma­sa­lahan utama ekonomi kreatif ber­basis seni dan budaya antara lain kuantitas dan kualitas sum­ber daya manusia (SDM), lem­baga pen­didikan serta masih ku­rang­nya pembinaan profesi, pe­ma­sar­an dan permasalahan infra­struktur.

Menurut Ukus, untuk pasar dalam negeri sudah mulai tum­buh, terutama untuk sub­sek­tor film dan musik. Untuk musik dan kerajinan, telah menyumbang le­bih dari 96 persen produk do­mes­tik bruto (PDB) ekonomi kreatif berbasis seni dan budaya.

“Pertumbuhan jumlah peru­sa­ha­an ekonomi kreatif berbasis seni budaya memiliki tren me­ning­kat, bah­kan berhasil menya­mai per­tum­buhan nasional di 2010 se­besar 7,7 persen. Semen­tara un­tuk kerajinan menyum­bang rata-rata 37 persen dari total nilai ekspor industri kreatif, de­ngan rata-rata kontribusi 3 persen ter­hadap total nilai ekspor na­sional,” terang Ukus.

Secara terpisah, bekas Ketua Himpunan Pengusaha Muda In­donesia (Hipmi) Sandiaga S Uno mem­punyai mimpi sektor eko­nomi kreatif bisa menyum­bang 20 per­sen PDB Indonesia.

“Sekarang di ba­wah 10 persen. Karena kalau di­lihat di Indonesia ada begitu ba­nyak kebutuhan, banyak budaya dan aneka ra­gam,” kata Sandiaga.

Menurut CEO Saratoga Capital ini, yang berpeluang mem­bang­kit­kan industri kreatif itu anak-anak muda. “Mereka dapat meng­ang­kat ke­bu­da­yaan Indo­nesia yang beragam,” ujarnya.

Untuk itu, dia berharap se­mua generasi mu­da dapat ber­gabung untuk me­ngum­pulkan semua po­tensi yang dimiliki sehingga da­pat semakin meng­global. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA