Telanjur Loncat, Harga Sembako Tak Turun Lagi

BPS Prediksi Dampak Psikologis Rencana Kenaikan Harga Bensin

Selasa, 03 April 2012, 08:30 WIB
Telanjur Loncat, Harga Sembako Tak Turun Lagi
ilustrasi
RMOL. Kenaikan harga bahan pokok yang disebabkan dampak psikologis rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi diprediksi tidak akan turun lagi. Pasalnya, pedagang sudah telanjur mengambil untung.

“Harga sudah telanjur naik dan itu tidak akan turun lagi, tetap stag­­nan sampai ada kenaikan har­ga,” ujar Direktur Statistik Harga Badan Pusat Statistik (BPS) Sasmito Hadi Wibowo kepada war­tawan di kantornya, kemarin.

Ia mengatakan, kenaikan har­ga itu mulai terjadi pada minggu ketiga dan keempat Maret. Har­ga-harga yang naik itu di luar be­ras. Padahal, minggu pertama dan kedua harga bahan pokok ma­sih cenderung stabil.

Kepala BPS Suryamin me­nga­takan, kenaikan harga sangat ter­lihat pada minggu keempat. Hal itu bisa dilihat dari terca­pai­nya angka inflasi 0,07 persen. Pa­dahal, dua tahun terakhir, Maret adalah bu­lannya deflasi. Sedang­kan in­flasi tahun kalender men­capai 0,88 per­sen dan inflasi year on year (YOY) mencapai 3,97 persen.

Dari 66 kota, inflasi terjadi di 34 kota, sedangkan deflasi terjadi di 32 kota. “Inflasi tertinggi terjadi di Ambon 1,33 persen dan Manado 1,12 persen dan deflasi terjadi di Jayapura 1,44 persen,” katanya.

Menurut Suryamin, faktor yang menyebabkan terjadi in­fla­si adalah kenaikan harga cabe rawit yang cukup tinggi awal Ma­ret yang disebakan kurang­nya pasokan.

“Harga cabe terjadi kenaikan di 46 kota. Kenaikan paling tinggi di Kediri 86 persen dan Goron­ta­lo 84 persen. Sedangkan kota lain­nya mengalami kenaikan an­tara 10 sampai 70 persen,” jelasnya.

Selain itu, inflasi juga dipe­nga­ruhi kenaikan harga cabe me­rah, apalagi kurangnya pasokan dan terjadi di 57 kota. Kenaikan harga ter­jadi di Denpasar 68 persen dan Ke­diri 66 persen. “Kota lainnya naik 10 sampai 50 persen. Faktor yang lain adalah kenaikan rokok kretek,” kata Suryamin.

Sedangkan yang menghambat inflasi adalah turunnya harga beras, karena bulan ini cenderung mengalami panen raya. Jadi stok beras untuk tahun ini banyak. Penurunan harga beras terjadi di Serang 9 persen, Sukabumi dan Mataram mencapai 8 persen

Faktor lainnya, penurunan har­ga daging ayam ras yang ter­jadi di 56 kota pada minggu per­tama Maret. “Penurunan di Sa­ma­rinda men­capai 13 persen, se­dangkan Tara­kan 12 persen,” jelasnya.

Suryamin mengatakan, BPS melihat kenaikan harga dalam satu bulan. Sebenarnya rencana ke­naikan harga ini sangat di­pengaruhi masuknya panen raya. Meskipun harga naik inflasinya masih terjaga.

Dia menambahkan, dengan di­tundanya kenaikan harga BBM oleh pemerintah, maka laju in­flasi akan tetap aman.

Untuk diketahui, harga ber­bagai kebutuhan pokok di pasar tra­disional Palmerah, Jakarta Barat, merangkak naik. Kenaikan harga terutama terjadi pada ba­han-bahan pangan dengan kisaran Rp 500-1.000.

Beras jenis IR-64 yang banyak diminati masyarakat bawah naik dari harga Rp 6.800 menjadi Rp 7.200 per kilogram. Beras jenis IR-42 juga naik menjadi Rp 8.400 per kilogram.

Kenaikan juga terjadi pada harga telur menjadi Rp 16.500 per kilogram. Minyak goreng curah naik menjadi Rp 12.000 per kilogram. Sementara gula putih naik menjadi Rp 12.000 dari sebelumnya Rp 10.500 per kilogram.

Untuk diketahui, dalam rapat paripurna DPR akhirnya menolak rencana kenaikan harga BBM 1 April 2012. Dalam keputusan tersebut, DPR memberikan kele­luasaan pemerintah untuk me­naikan harga jika Indonesia Cru­de Price (ICP) di atas 15 per­sen yang ditentukan peme­rintah. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA