Bos Nissan: Insiden Juke Bukan Karena Produk Gagal

Penyidik Polda Minta Datangkan Tenaga Ahli Jepang

Sabtu, 17 Maret 2012, 08:24 WIB
Bos Nissan: Insiden Juke Bukan Karena Produk Gagal
ilustrasi/ist
RMOL.PT Nissan Motor Indonesia (NMI) menepis jika insiden kebakaran Nissan Juke di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Sabtu (10/3) adalah produk gagal Nissan.

Untuk mencari faktor pe­nye­bab kebakaran Juke yang me­newaskan pengemudinya, Pe­nyidik Polda Metro Jaya meminta NMI mendatangkan tenaga ahli dari Jepang.

Seperti diberitakan sebe­lum­nya, Direktur Lalulintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Po­lisi Dwi Sigit Nurmantyas me­nga­takan, tenaga ahli Nissan asal Jepang akan bekerja sama de­ngan tim Pusat Laboratorium Fo­rensik (Puslabfor) Mabes Pol­ri guna me­meriksa kelayakan Juke.

Tim Puslabfor Mabes Polri te­lah memeriksa kelayakan ken­da­raan Juke, meliputi kondisi rem, gas, dan tekanan angin ban. Ber­dasarkan hasil peme­rik­saan se­mentara, kecelakaan yang mene­waskan model Olivia Dewi Soerijo itu diduga kesala­han manusia yang mengendarai kendaraan di luar kontrol.

Direktur Pemasaran NMI Teddy Irawan membantah ke­ba­karan mobil Juke lantaran me­sinnya tidak sesuai standar di Indonesia. “Semua mesin yang masuk ke Indonesia itu sudah memenuhi standar kualitas,” kilah Teddy di Jakarta, kemarin.

Teddy juga menepis jika in­siden kebakaran Juke adalah produk gagal Nissan. “Insiden itu murni kecelakaan, bukan error system,” jelasnya.

Ia mengaku sudah memberi­kan penjelasan kepada Kepoli­sian tentang insiden tersebut. “Kami sudah berikan keterangan dan penjelasan kepada Kepoli­sian. Jadi, kita tunggu saja pro­sesnya,” kata Teddy.

Olivia yang mengendarai Juke bernomor polisi B-60-GOH, me­na­brak tiang reklame lalu ken­daraannya terbakar. Dia tewas terpanggang dan terjepit stir.

Pengamat otomotif Suhari Sargo mengatakan, ada beberapa faktor yang  bisa membuat Juke yang dikendarai Olivia itu ter­bakar. “Bisa jadi, tangkinya bo­cor, bensin menetes. Ada per­cikan api atau listrik yang bisa langsung mem­bakar mobil ter­sebut,” ka­tanya.

Kata Suhari, Juke tersebut bu­kan cacat produksi. Selama ini, Juke di dalam dan luar negeri tidak bermasalah. Ia menilai, varian ini termasuk yang terbaik di kelasnya. “Saya yakin produk­si Juke sudah me­me­nuhi banyak tes kela­ya­kan. Ta­hun lalu, se­buah ma­jalah oto­mo­tif menda­puk Juke merupakan salah satu model yang terbaik,” ujarnya.

Mencermati spesifikasinya, Suhari menilai, Nissan sudah teruji di jalanan. Apalagi sejak diluncurkan 2010, Juke belum terdengar ditarik dari pasaran. Jika terjadi kecelakaan, ke­mung­kinan berasal dari pengemudi atau situasi jalanan.

Pendapat berbeda dikatakan anggota Komisi VI DPR dari Fraksi PDIP Sukur Nababan. Menurut dia, berbicara soal in­dustri otomotif, berkaitan de­ngan perlakuan pemerintah ter­hadap agen tunggal pemegang merek (ATPM) asing yang men­jamur di Tanah Air.

“Di negeri kita ini kan ada yang disebut BSN (Badan Stan­darisasi Indonesia) yang ber­fungsi men­jaga keselamatan pemakai. Itulah yang harus  dite­rapkan. Jadi, bu­kan semata-mata memikirkan kepentingan atau keuntungan  industri,” ujar Sukur kepada Rakyat Merdeka.

Ia berharap, pemerintah kon­sen melakukan proses standari­sasi se­cara teliti. Pasalnya, le­mah­nya pe­me­rintah untuk stan­darisasi nasi­onal turut mele­mahkan per­lin­du­ngan terhadap konsumen. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA