“Mereka yang tidak mau meÂngÂimunisasikan anaknya meruÂgikan diri sendiri, masyarakat, melangÂgar hak-hak anak, UnÂdang-UnÂdang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Kesehatan. OrangÂtua yang menolak memÂbeÂrikan imunisasi apapun alaÂsanÂnya berpotensi terjadi waÂbah,†kata dr Soedjatmiko.
Ia mencontohkan wabah difÂteri di Jawa Timur, baru-baru ini. Salah satu penyebabnya adaÂlah sebagian orangtuanya tidak mengimunisasi anakÂÂnya secara lengkap.
Difteri merupakan penyakit yang menyerang saluran napas. Penyakit ini disebabkan bakteri Corynebacterium Diphtheriae yang dapat dilihat pada laring, amandel, dan tenggorokan.
Bila seorang anak mengÂalaÂmi difteri, komplikasi yang diÂtimÂbulkan pun tidak ringan karena difteri menyumbat saÂluran perÂnafasan.
“Jika sudah begini, maka yang dibutuhkan adalah pemÂbolongan leher agar anak dapat bernafas,†ujar dr Soedjatmiko.
Selain itu, katanya, difteri juga dapat menyerang jantung seÂhingga menyebabkan aliran darah ke jantung terhambat yang dapat menyebabkan kematian. Ini keÂmungkinan dapat terjadi pada awal pekan kejadian.
Difteri ditularkan lewat perÂnafasan, bersin, pilek batuk dan percikan ludah dari orang yang sudah terkontamonasi bakteri. Namun, kata dr Soedjatmiko, penyakit ini dapat dicegah lewat imunisasi DPT sesuai jadwal.
Vaksin DPT ini merupakan campuran dari tiga vaksin, yaitu untuk mencegah penyakit difÂteri (yang menyerang tengÂgoÂrokan), pertusis (batuk rejan), dan tetanus (infeksi akibat luka yang menimÂbulkan kejang-kejang).
Gejala yang muncul di antaÂranya demam, nyeri tenggorokan ringan, nyeri saat menelan, amanÂdel tertutup selaput lendir, mungÂkin terjadi pembengkakan keÂlenjar getah bening di leher dan naÂpas berbunyi. [rm]
< SEBELUMNYA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: