Atasi Gizi Buruk Pada Balita Pemerintah Siapkan Taburia

Kucurkan Dana Rp 15 Miliar

Jumat, 24 Juni 2011, 01:17 WIB
Atasi Gizi Buruk Pada Balita Pemerintah Siapkan Taburia
ilustrasi, Gizi Buruk
RMOL.Kekurangan gizi masih jadi persoalan serius di Indonesia, terutama pada bayi lima tahun (balita). Untuk mengatasi gizi buruk, pemerintah menyiapkan dana sebesar Rp 15 miliar untuk pengadaan suplemen Taburia.

Nilai anggaran untuk pe­nga­daan Taburia ini naik lebih dari tiga kali lipat dibandingkan ta­hun 2010 yang hanya Rp 4 miliar.

Direktur Bina Gizi, Ditjen Gizi dan Kesehatan Ibu & Anak (KIA) Kementerian Kese­hatan (Kemen­kes) dr Minarto menga­ta­kan, ang­garannya me­ningkat karena ca­kupan pem­berian bu­buk makan­an balita tersebut diperluas dari tiga pro­vinsi di sembilan kabupa­ten pada 2010 menjadi enam provinsi di 24 kabupaten pada tahun ini.

“Suplementasi lewat Taburia adalah solusi jangka pendek un­tuk mengatasi kekurangan nut­risi. Ideal­nya, tetap melalui pe­rubahan pola makan menjadi lebih se­im­bang dan beragam,” kata dr Minarto.

Suplemen Taburia mengan­dung vitamin dan mineral. Cara pakainya relatif lebih gampang, tinggal ditaburkan ke atas ma­kanan. Taburia berupa serbuk ta­bur mengandung 12 vitamin dan empat mineral penting, yakni yo­dium, selenium, seng dan zat besi.

Seluruhnya merupakan nu­t­risi pokok yang dibutuhkan da­lam masa tumbuh kembang anak yang berusia antara 6-24 bu­lan. Selain harus segera di­san­tap sampai habis, Taburia sebaiknya tidak dicampur de­ngan makanan panas karena lemak yang menye­lubungi zat besi bi­sa rusak se­hingga memi­cu rasa tidak enak.

Program suplemen Taburia ini sudah mulai sejak tahun 2009. Orangtua tak mampu yang me­miliki anak usia 6-24 bulan bisa mendapat Taburia setiap bu­lan. Serbuk multivitamin tersebut diberikan untuk mem­bantu ba­lita tumbuh secara op­timal, me­ning­katkan daya tahan tubuh, me­ningkatkan nafsu ma­kan, mence­gah anemia dan men­cegah keku­rangan zat gizi.

Sama seperti penambahan vitamin A dalam minyak goreng, pemberian Taburia ke dalam ma­kanan juga termasuk salah satu bentuk fortifikasi atau pe­nam­bahan zat gizi. Perbedaannya adalah fortifikasi minyak goreng dilakukan dalam skala industri. Sementara penambahan Taburia dilakukan di level rumah tangga.

Menurut dia, persoalan gizi buruk seharusnya ditangani me­nye­luruh karena gizi buruk ini dipengaruhi berbagai faktor, seperti tingkat pendidikan, ke­miskinan, ketersediaan pangan, transportasi adat istiadat dan sebagainya. [rm]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA