Berita

Kuliah umum bertajuk Jalan Buntu Reformasi di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu 18 Juli 2026.(Foto: PPID DKI Jakarta)

Politik

30 Tahun Kudatuli, Vedi Hadiz Bongkar Jalan Buntu Reformasi Indonesia

MINGGU, 19 JULI 2026 | 05:50 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Peringatan 30 tahun peristiwa Kerusuhan 27 Juli 1996 atau Kudatuli digelar dalam bentuk kuliah umum bertajuk "Jalan Buntu Reformasi" di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Sabtu 18 Juli 2026. Acara ini menghadirkan Guru Besar Studi Asia dari University of Melbourne, Australia, Vedi Hadiz, sebagai pembicara utama.

Dalam paparannya, Vedi menjelaskan bahwa dirinya menggunakan konsep oligarki untuk membaca perjalanan reformasi Indonesia. Menurutnya, definisi oligarki tidak bisa dibatasi hanya sebagai kekuasaan segelintir orang kaya yang melindungi kekayaannya lewat politik, seperti yang umum dipahami banyak orang.

"Oligarki sebetulnya adalah suatu hubungan yang terstruktur, bersifat struktural, bukan individual, di mana ada aliansi atau fusi kepentingan antara birokrasi atas, politisi, dan modal besar," kata Vedi.


Vedi menegaskan, konglomerat besar di Indonesia tidak bisa bergerak sendiri tanpa restu birokrasi dan politisi, mulai dari izin proyek, dana subsidi, hingga lisensi lahan. Karena itu, kata dia, menyalahkan kebuntuan reformasi hanya kepada segelintir taipan adalah kekeliruan.

Vedi menelusuri akar oligarki hingga era Orde Baru, yang menurutnya lahir dari hubungan bisnis modal, birokrasi, dan keluarga Cendana yang tersentralisasi di bawah kekuasaan Soeharto. Setelah reformasi 1998 bergulir, struktur oligarki itu tidak runtuh, melainkan beradaptasi dengan menyusup ke partai politik, organisasi masyarakat, hingga media massa.

"Tidak ada satu partai besar pun yang tidak dikuasai oleh oligarki, atau tidak ditandai oleh dominasi oligarki pada partai tersebut. Tidak ada satu pun," kata Vedi.

Vedi menyebut dua dekade awal reformasi ditandai oleh desentralisasi kekuatan oligarki ke daerah, sementara satu dekade terakhir justru diwarnai resentralisasi kekuasaan. 

Proses desentralisasi yang semula diharapkan melahirkan pemerintahan lokal yang lebih akuntabel, menurutnya, justru membuka celah bagi munculnya "raja-raja kecil" di daerah dan memicu desentralisasi korupsi.

Vedi turut menyoroti sosok Presiden ketujuh Joko Widodo alias Jokowi yang dianggap sebagai presiden pertama pascareformasi yang berasal dari luar lingkaran oligarki. Namun karena tidak memiliki basis partai dan ekonomi sendiri, Jokowi dinilai justru tertarik masuk ke dalam pusaran oligarki demi mempertahankan kekuasaan.

"Kasus dia itu menunjukkan bahwa seorang yang dianggap reformer pun, karena tidak punya basis politik dan ekonomi, akan terserap juga ke dalam vortex oligarki," kata Vedi.

Vedi menambahkan bahwa langkah-langkah resentralisasi kekuasaan ekonomi dan politik yang dimulai pada era Jokowi turut membuka jalan bagi konsolidasi kekuasaan di era pemerintahan Prabowo Subianto saat ini, yang menurutnya semakin mempercepat proses resentralisasi tersebut lewat sejumlah kebijakan yang bersifat sentralistis.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

UPDATE

Main di Kandang PSIM, Persija Menang Telak 4-0

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 19:49

Cukai MBDK Mulai Dipungut Semester II/2027, Target Rp1,7 Triliun

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 19:30

DPR Ingatkan Bijak di Ruang Digital dan Cegah Perundungan Siber

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 18:51

Ekspor Emas Anjlok, Bea Cukai Ungkap Perusahaan Tahan Pengiriman

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 18:38

Usai Dilantik, Kapolda Metro Jaya Serap Aspirasi Insan Pers

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 17:49

Pertamina Perkuat Ekosistem MyPertamina di MotoGP Mandalika

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 17:30

Tegas dan Loyal, Demokrat: Tidak Ada Nama Selain Prabowo untuk Kontestasi 2029

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:36

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

YLBHI Minta Polresta Solo Hentikan Dugaan Kriminalisasi Kasus Perdata jadi Pidana

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 15:36

Pertamina Perkuat Pengelolaan Sampah Mandalika Lewat Dukungan untuk Bank Sampah Putri Nyale

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 15:09

Selengkapnya