Berita

Representative Image (Foto: Ilustrasi AI)

Dunia

AS Serang Iran usai Dua Tentaranya Tewas di Yordania

MINGGU, 19 JULI 2026 | 10:40 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara ke wilayah Iran setelah dua tentaranya tewas akibat serangan Teheran terhadap pasukan Washington di Yordania. 

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi militer dimulai pada Sabtu, 18 Juli 2026, sekitar pukul 18.00 waktu setempat.

"Serangan-serangan ini dirancang untuk semakin melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz dan dengan cepat menghukum pasukan Garda Revolusi Islam yang melancarkan serangan terhadap anggota militer Amerika di Yordania tadi malam," ungkap CENTCOM tanpa mengungkapkan rincian target yang diserang.


CENTCOM sebelumnya mengumumkan dua prajurit AS gugur pada Jumat, 17 Juli 2026 akibat serangan Iran di Yordania, sementara seorang personel lainnya masih dinyatakan hilang. 

Dengan insiden tersebut, jumlah personel militer Amerika yang tewas sejak perang pecah meningkat menjadi 16 orang, sedangkan lebih dari 420 lainnya mengalami luka-luka. 

Di pihak lain, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei memperingatkan Washington akan menanggung konsekuensi berat karena terus meningkatkan eskalasi konflik. 

Dalam pernyataan resminya, Khamenei menyebut tindakan Amerika membuktikan bahwa tanda tangan Presiden Trump dalam kesepakatan sebelumnya sama sekali tidak berharga dan tidak memiliki kredibilitas.

Kantor berita Mehr melaporkan serangan udara AS menghantam wilayah dekat Sirik, Iran selatan. Meski demikian, otoritas Iran mengklaim tidak ada korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur. 

Pada saat yang sama, Iran dilaporkan memperluas serangannya ke sejumlah negara sekutu Washington di kawasan, termasuk Kuwait, Bahrain, dan Yordania. Reuters menyatakan belum dapat memverifikasi secara independen klaim Teheran terkait kerusakan pangkalan militer AS di negara-negara tersebut.

Ketegangan juga menjalar ke Arab Saudi setelah sistem peringatan dini mengimbau warga di Al-Kharj dan Yanbu mencari perlindungan menyusul dugaan serangan rudal Iran. 

Menyikapi situasi yang terus memburuk, Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan peringatan perjalanan global bagi seluruh warga negaranya karena meningkatnya risiko eskalasi di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu penerbangan dan memicu penutupan wilayah udara.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Ini Pertimbangan Hakim

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:25

UPDATE

Harga Daging Sapi Tembus Rp153 Ribu/Kg, Zulhas Buka Opsi Subsidi APBN-APBD

Selasa, 25 Agustus 2026 | 14:18

LPSK Beri Perlindungan kepada Ferry Hongkiriwang, Saksi Kasus Febrie Adriansyah

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:54

Urusan Gula Konsumsi Aman, Kementan Kini Bidik Target Gula Industri di 2028

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:45

Ahmed al-Sharaa Sambut Keputusan AS Hapus Suriah dari Daftar Sponsor Teror

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:42

Geng Haiti Bantai 40 Pengungsi yang Berlindung di Gereja

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:42

Wajah Baru Jakarta, Wagub Rano Resmikan Jaksinema Pasar Rumput

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:29

BMKG Maksimalkan OMC di Kaltim Sepekan Ini untuk Tangani Karhutla

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:19

Dugaan Setoran Importasi Blueray, KPK Cecar Dua PNS Bea Cukai

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:50

Kasus OTT Unsoed Bisa Saja Terjadi di Kampus Lain

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:46

Perketat Imigrasi, Trump Bersiap Cabut 200 Ribu Visa WNA

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:46

Selengkapnya