Berita

Cristiano Ronaldo. (@TouchmineX)

Publika

Piala Dunia Paling Menyedihkan

MINGGU, 19 JULI 2026 | 04:22 WIB | OLEH: AGUNG NUGROHO*

DATANG ke Piala Dunia 2026 sebagai salah satu favorit juara, Portugal membawa skuad yang penuh bintang. Lini tengahnya disebut-sebut sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Di depan, tentu saja masih ada Cristiano Ronaldo.

Buat Ronaldo, ini kemungkinan besar adalah Piala Dunia terakhirnya. Kesempatan terakhir mengejar trofi yang belum pernah ia raih. Kalau berhasil juara, perdebatan soal siapa GOAT mungkin akan semakin seru.

Hasil undian grup juga terasa ramah. Portugal satu grup dengan Kolombia, Kongo, dan Uzbekistan. Di atas kertas, ini jalur yang cukup mulus. 


Kalau lolos sebagai juara grup, mereka juga bisa menghindari raksasa-raksasa seperti Prancis, Belanda, Spanyol, atau Jerman hingga fase yang lebih jauh.

Ibarat naik mobil, jalannya sudah seperti jalan tol.

Eh... ternyata GPS berkata lain.

Laga pertama melawan Kongo malah bikin jantung pendukung Portugal naik turun. Portugal tampil jauh dari meyakinkan. Entah gugup, entah terlalu banyak beban.

Yang bikin makin pedih, beberapa jam sebelumnya Lionel Messi baru saja mencetak hattrick. Sementara Ronaldo? Jangankan gol, tampil menonjol saja tidak.

Setelah menang atas Uzbekistan, Portugal kembali terpeleset. Mereka ditahan imbang Kolombia dan akhirnya cuma finis sebagai runner-up grup.

Nah, di sinilah masalah dimulai.

Kalau juara grup dapat jalan yang relatif nyaman, runner-up justru masuk jalur neraka. Spanyol, Belgia, Belanda, Prancis, sampai Jerman siap menyambut.

Portugal memang sempat lolos dari Kroasia lewat laga yang penuh kontroversi. Tapi langkah mereka berhenti di babak 16 besar setelah dikalahkan Spanyol. Gol Moreno di menit ke-90 dari umpan Ferran Torres memupus mimpi Ronaldo.

Tangisan pertama pun dimulai.

Setelah Portugal pulang, fans Ronaldo otomatis mencari harapan baru.

Harapannya sederhana: kalau Ronaldo gagal, ya Messi juga jangan juara.

Kesempatan itu sempat muncul saat Mesir unggul 2-0 atas Argentina sampai menit ke-78. Fans Ronaldo mulai senyum-senyum.

"Kayaknya kali ini selesai."

Ternyata... terlalu cepat bahagia.

Messi bangkit. Satu assist, satu gol, lalu Enzo Fernández mencetak gol kemenangan di menit ke-90.

Harapan berubah jadi keheningan.

Lalu datang Swiss.

Mendadak banyak fans Portugal berubah profesi menjadi fans Swiss dadakan. Sayangnya, hasilnya tetap sama.

Argentina lolos lagi.

Mulailah muncul kalimat-kalimat yang sudah sangat akrab di media sosial.

"Piala Dunia settingan."

"Wasit dibayar."

"Anak emas FIFA."

Masuk semifinal, doa agar Argentina kalah semakin kencang. Lawannya Inggris, tim yang juga punya tempat spesial di hati banyak fans Ronaldo karena Cristiano pernah menjadi legenda Manchester United.

Sampai menit ke-84, doa itu hampir terkabul.

Argentina tertinggal 0-1.

Tapi lagi-lagi...

Messi.

Bukan lewat gol, melainkan dua assist yang mengubah semuanya. Argentina menang, Inggris pulang.

Di titik ini, fans Ronaldo benar-benar kehabisan stok harapan.

Mereka lalu melihat final yang rasanya sama-sama menyakitkan.

Argentina melawan Spanyol.

Dukung Argentina?

Wah, kalau Messi juara lagi, debat GOAT bisa makin berat sebelah.

Dukung Spanyol?

Lho... nanti Lamine Yamal yang baru 19 tahun sudah punya Piala Eropa dan Piala Dunia. Itu juga bikin pusing.

Mau dukung siapa?

Serba salah.

Karena itulah, buat banyak fans Ronaldo, ini mungkin menjadi Piala Dunia paling menyedihkan.

Tapi kalau dilihat dari sudut pandang pecinta sepak bola, justru sebaliknya.

Ini adalah salah satu Piala Dunia terbaik.

Final mempertemukan juara Amerika melawan juara Eropa. Tim paling produktif melawan tim dengan pertahanan paling kokoh. Finalissima versi Piala Dunia.

Dan yang paling menarik...

Seolah menjadi simbol pergantian zaman.

Sang raja yang masih bertahan menghadapi pangeran yang sedang bersiap mengambil takhta.

Viva España!

¡Vamos Argentina!.

*Pemain bola kampung

Populer

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Langkah Polri Bongkar Kasus Dugaan Korupsi Kejagung Tuai Apresiasi

Kamis, 09 Juli 2026 | 03:59

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

UPDATE

Kekuasaan Otoriter Hanya Melahirkan Kekacauan dan Masa Depan Gelap

Minggu, 19 Juli 2026 | 12:10

Mafia BBM Pantura Harus Disikat Habis Demi Selamatkan Hak Nelayan

Minggu, 19 Juli 2026 | 12:05

Kementan Jangan Sampai Kecolongan El Nino Gagalkan Target Swasembada Pangan

Minggu, 19 Juli 2026 | 12:02

Kepala Daerah Tergoda Korupsi Demi Balik Modal Ongkos Pilkada Selangit

Minggu, 19 Juli 2026 | 11:55

Budaya Olah dan Pilah Sampah Harus Dimulai sejak Usia Dini

Minggu, 19 Juli 2026 | 11:55

MUI Ungkap Jejak Seabad Solidaritas Bangsa Indonesia untuk Palestina

Minggu, 19 Juli 2026 | 11:45

Indonesia Tangkap dan Deportasi Aktivis Palestina ke Siprus

Minggu, 19 Juli 2026 | 11:01

AS Serang Iran usai Dua Tentaranya Tewas di Yordania

Minggu, 19 Juli 2026 | 10:40

Israel Larang Azan Subuh di Masjid Bethlehem Tepi Barat

Minggu, 19 Juli 2026 | 09:47

Serangan Iran Rusak Fasilitas Migas Kuwait, Bandara Sempat Ditutup

Minggu, 19 Juli 2026 | 09:13

Selengkapnya