Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Politik

Perpres 111/2025 soal LGBT Ancaman Nirmiliter jadi Langkah Preventif Terukur

SENIN, 06 JULI 2026 | 02:12 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Perpres Nomor 111 Tahun 2025 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara Tahun 2025-2029 yang menggolongkan penyebaran budaya LGBT sebagai ancaman nonmiliter terus menjadi perbincangan. 

Di tengah dinamika itu, dosen Ilmu Politik Universitas Udayana sekaligus pendiri Malleum Iustitiae Institute, Efatha Filomeno Borromeu Duarte, menilai kebijakan Presiden Prabowo Subianto ini harus dibaca dalam kerangka comprehensive security dan grand strategy nasional. 

Menurutnya, ini bukanlah langkah represif, melainkan bentuk kehadiran negara yang sistemik untuk melindungi critical infrastructure of the mind atau infrastruktur kognitif yang menjadi fondasi ketahanan bangsa.


"Ini bukan tentang membenci kelompok tertentu. Ini tentang negara yang sedang menjalankan fungsi early warning system terhadap disrupsi nilai yang berpotensi menurunkan social cohesion kita secara gradual. Saya melihat ini sebagai sebuah state-society nexus yang sangat sehat," ujar Efatha dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Minggu, 5 Juli 2026.

Ia menjelaskan bahwa dalam literatur keamanan kontemporer yang dikembangkan oleh lembaga think-tank seperti dunia, ancaman terhadap negara tidak lagi bersifat linear dan konvensional. Ada pergeseran paradigma dari traditional state-centric security menuju human security yang juga mencakup dimensi sosial, budaya, dan psikologis.

"Ketika kita berbicara tentang cognitive resilience atau ketahanan kognitif, kita sedang membahas kemampuan suatu bangsa untuk mempertahankan cara berpikir, sistem nilai, dan orientasi kolektifnya di tengah gempuran informasi dan propaganda lintas batas. Ini bukan isu agama semata, ini adalah isu eksistensial tentang bagaimana sebuah bangsa tetap menjadi dirinya sendiri di era disrupsi," jelasnya.

Ia menambahkan, kebijakan ini justru menempatkan Indonesia setara dengan negara-negara maju yang juga memiliki normative boundary atau batas-batas normatif dalam kebijakan pertahanannya. 

"Banyak negara di Eropa pun mulai membatasi arus nilai yang dianggap mengganggu kohesi sosial. Jadi ini bukan kemunduran, ini adalah adaptasi strategis yang sangat manusiawi," tegasnya.

Dengan 60 persen penduduk Indonesia berada pada rentang usia produktif dan digital native, Efatha menyebut bonus demografi sebagai pisau bermata dua. Di satu sisi, ini adalah kekuatan besar; di sisi lain, ini adalah kerentanan besar jika tidak dikelola dengan pendekatan terpadu.

"Generasi Z dan milenial adalah generasi yang paling terpapar oleh algorithmic warfare, perang algoritma yang secara halus menggeser preferensi nilai mereka. Dalam istilah strategis, ini disebut sebagai socio-cultural vulnerability atau kerentanan sosial-budaya. Jika kita abai, bonus demografi yang kita banggakan bisa berubah menjadi demographic disaster dalam 15 tahun ke depan, karena generasi kita kehilangan moral compass," bebernya.

Lanjut Efatha, memasukkan isu ini ke dalam matriks pertahanan nirmiliter adalah langkah preventif yang sangat terukur. 

"Pak Prabowo tidak menunggu sampai keadaan darurat. Beliau bekerja dengan logika risk assessment yang matang. Ini menunjukkan bahwa pemerintah memiliki long-term vision yang jarang dimiliki oleh pemimpin di kawasan ini," pungkas dia.



Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Baru 10 Jam, Tulisan SBY Soal Politik Liar Tembus 9 Juta Tayangan di X

Rabu, 04 November 2026 | 20:21

Menag Dorong PTKIN Jadi Pelopor Hilirisasi dan Inovasi Teknologi

Rabu, 04 November 2026 | 20:19

Polri Harus Jaga Integritas dan Kepercayaan Publik di Kasus Listyo Sigit

Rabu, 04 November 2026 | 20:17

Aturan Penyadapan Ilegal di Indonesia, Ini Ancaman Hukuman bagi Pelaku

Rabu, 04 November 2026 | 20:11

Ketum KNPI Minta Penegak Hukum Serius Usut Dugaan Penyadapan Presiden

Rabu, 04 November 2026 | 20:07

Tanggapan Allianz Setelah Digugat Rp5,2 Miliar di PN Jaksel

Rabu, 04 November 2026 | 20:02

Jorindo Indonesia Gandeng Mubarak Dubai Jalin Kerja Sama Operasi Salvage

Rabu, 04 November 2026 | 19:57

4 Kasus Penyadapan Presiden Indonesia, dari Habibie hingga Prabowo

Rabu, 04 November 2026 | 19:52

BRI Kukuhkan 35 Penerima Beasiswa BRI Fellowship Journalism 2026

Rabu, 04 November 2026 | 19:49

Kasus Intimidasi Meningkat, Dewan Pers Tegaskan Komitmen Lindungi Wartawan

Rabu, 04 November 2026 | 19:48

Selengkapnya