Berita

Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)

Bisnis

Harga Emas dan Perak Melemah di Tengah Meredanya Ketegangan AS-Iran

SENIN, 29 JUNI 2026 | 08:21 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga logam mulia bergerak melemah pada awal pekan, Senin 29 Juni 2026, setelah reli selama dua sesi sebelumnya terhenti. 

Penurunan terjadi di tengah perkembangan terbaru konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran yang mulai menunjukkan tanda-tanda deeskalasi menjelang pembicaraan damai.

Harga emas turun ke kisaran 4.050 Dolar AS per ons pada perdagangan Senin pagi. Pelemahan ini mengakhiri penguatan selama dua hari yang sebelumnya didorong oleh meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, yang sempat mengerek harga minyak dan memicu kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global.


Sejak Kamis lalu, konflik meningkat setelah Iran menyerang sejumlah target, termasuk kapal kontainer, kapal pengangkut minyak Qatar, serta pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain. Serangan tersebut dibalas oleh militer AS. Namun, kedua negara kemudian sepakat menghentikan sementara aksi militer menjelang dimulainya kembali perundingan damai di Doha, Qatar, pada pekan ini.

Di sisi lain, data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang dirilis Jumat lalu sesuai dengan ekspektasi pasar. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar sedikit mengurangi ekspektasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan oleh Federal Reserve pada tahun ini.

Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada rilis data ketenagakerjaan bulanan AS dan indeks manufaktur ISM yang diperkirakan menjadi petunjuk penting mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS ke depan.

Senada dengan emas, harga perak juga terkoreksi ke sekitar 58,5 Dolar AS per ons, sekaligus menghentikan tren penguatan selama dua hari.

Pergerakan perak dipengaruhi sentimen yang sama, yakni perkembangan konflik AS-Iran yang sempat memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan kekhawatiran inflasi. Meski demikian, keputusan kedua negara untuk menangguhkan serangan sementara menjelang perundingan damai mengurangi permintaan terhadap aset safe haven.

Selain itu, data inflasi PCE AS yang sejalan dengan proyeksi turut meredakan ekspektasi pasar terhadap pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut. Investor kini menanti data tenaga kerja AS dan PMI Manufaktur ISM sebagai acuan baru untuk memperkirakan langkah Federal Reserve dalam beberapa bulan mendatang.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Cerita Zulhas, Numpang Helikopter TNI ke Bogor

Kamis, 17 September 2026 | 21:47

Hari Transportasi Nasional, Momentum Wujudkan Kedaulatan Energi Bersama Program B50

Kamis, 17 September 2026 | 21:17

Ulasan Buku: Sumbangan Filsafat dari Indonesia untuk Dunia yang Kehilangan Makna

Kamis, 17 September 2026 | 21:15

KPK Amankan Dokumen dan Bukti Elektronik dari Penggeledahan di Kementerian ATR/BPN

Kamis, 17 September 2026 | 20:53

Bahlil Pastikan BUK Pengganti SKK Migas Langsung di Bawah Presiden

Kamis, 17 September 2026 | 20:41

Haji Isam Borong 10 Miliar Saham Bayan Resources

Kamis, 17 September 2026 | 20:21

Prabowo Pimpin Sidang Dewan Energi Nasional, Dorong Persiapan Produksi E50

Kamis, 17 September 2026 | 20:04

Ekoteologi PTKIN Raih Penghargaan UI GreenMetric 2026

Kamis, 17 September 2026 | 19:44

Ratusan Karyawan PT HD Arjuna Tuntut Kembali Bekerja

Kamis, 17 September 2026 | 19:44

Bahlil Akui Kasus Korupsi Fahd A Rafiq Musibah bagi Golkar

Kamis, 17 September 2026 | 19:38

Selengkapnya