Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)
Harga logam mulia bergerak melemah pada awal pekan, Senin 29 Juni 2026, setelah reli selama dua sesi sebelumnya terhenti.
Penurunan terjadi di tengah perkembangan terbaru konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran yang mulai menunjukkan tanda-tanda deeskalasi menjelang pembicaraan damai.
Harga emas turun ke kisaran 4.050 Dolar AS per ons pada perdagangan Senin pagi. Pelemahan ini mengakhiri penguatan selama dua hari yang sebelumnya didorong oleh meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, yang sempat mengerek harga minyak dan memicu kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global.
Sejak Kamis lalu, konflik meningkat setelah Iran menyerang sejumlah target, termasuk kapal kontainer, kapal pengangkut minyak Qatar, serta pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain. Serangan tersebut dibalas oleh militer AS. Namun, kedua negara kemudian sepakat menghentikan sementara aksi militer menjelang dimulainya kembali perundingan damai di Doha, Qatar, pada pekan ini.
Di sisi lain, data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang dirilis Jumat lalu sesuai dengan ekspektasi pasar. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar sedikit mengurangi ekspektasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan oleh Federal Reserve pada tahun ini.
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada rilis data ketenagakerjaan bulanan AS dan indeks manufaktur ISM yang diperkirakan menjadi petunjuk penting mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS ke depan.
Senada dengan emas, harga perak juga terkoreksi ke sekitar 58,5 Dolar AS per ons, sekaligus menghentikan tren penguatan selama dua hari.
Pergerakan perak dipengaruhi sentimen yang sama, yakni perkembangan konflik AS-Iran yang sempat memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan kekhawatiran inflasi. Meski demikian, keputusan kedua negara untuk menangguhkan serangan sementara menjelang perundingan damai mengurangi permintaan terhadap aset safe haven.
Selain itu, data inflasi PCE AS yang sejalan dengan proyeksi turut meredakan ekspektasi pasar terhadap pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut. Investor kini menanti data tenaga kerja AS dan PMI Manufaktur ISM sebagai acuan baru untuk memperkirakan langkah Federal Reserve dalam beberapa bulan mendatang.