Berita

Ilustrasi

Bisnis

Rupiah Makin Keok di Tengah Klaim Pertumbuhan Ekonomi

SENIN, 08 JUNI 2026 | 14:20 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Pelemahan nilai tukar Rupiah yang menembus level Rp18.000 per Dolar AS memunculkan kekhawatiran terhadap kondisi perekonomian nasional. 

Analis ekonomi politik Kusfiardi menilai terdapat sejumlah persoalan struktural yang perlu mendapat perhatian serius pemerintah di tengah tekanan terhadap rupiah dan pasar keuangan domestik.

Menurut Kusfiardi, salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah saat ini adalah kebijakan nilai tukar bebas yang diterapkan Indonesia sejak krisis 1998. 


"Rupiah menjadi mata uang yang nilainya ditentukan oleh aktivitas perdagangan di pasar," kata Kusfiardi di Kanal Youtube Abraham Samad, Senin, 8 Juni 2026.

Selain itu, Indonesia juga menganut rezim devisa bebas yang memungkinkan arus modal keluar dan masuk tanpa pembatasan ketat. Kondisi ini membuat pasar keuangan domestik sangat sensitif terhadap sentimen global maupun pergerakan investor.

"Orang bisa membawa uang masuk ke Indonesia kapan saja dan bisa keluar kapan saja. Dampaknya terlihat pada pergerakan pasar saham dan nilai tukar rupiah," ujarnya.

Kusfiardi menyoroti situasi yang menurutnya cukup mengkhawatirkan karena pelemahan rupiah saat ini terjadi bersamaan dengan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Padahal dalam kondisi normal, pergerakan keduanya sering kali saling mengimbangi.

"Nah sekarang dua-duanya turun, IHSG turun dan rupiah juga melemah," jelasnya.

Meski demikian, Kusfiardi menilai pernyataan pemerintah yang menyebut kondisi ekonomi nasional masih relatif baik tidak sepenuhnya keliru. Sejumlah indikator memang masih menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang positif.

Namun, ia mengingatkan bahwa pertumbuhan tersebut masih banyak ditopang oleh konsumsi masyarakat sehingga belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil yang dirasakan seluruh lapisan masyarakat.

Menurut Kusfiardi, munculnya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah sektor membuat sebagian masyarakat mempertanyakan manfaat pertumbuhan ekonomi tersebut.

"Banyak masyarakat yang terkena PHK. Sulit bagi mereka merasakan ekonomi tumbuh ketika kehilangan pekerjaan dan pendapatan tetap," ujarnya.

Selain persoalan ketenagakerjaan, Kusfiardi juga menyoroti kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ia menilai ruang fiskal pemerintah menghadapi tantangan karena tingginya belanja negara belum sepenuhnya diimbangi oleh peningkatan penerimaan yang memadai.

"Ruang fiskal kita problem karena belanja pemerintah yang besar tidak diikuti dengan kemampuan untuk mendapatkan sumber penerimaan negara yang baik," pungkasnya.


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Penyerahan Aset Hasil Kejahatan ke Negara jadi Benchmark Baru Penegakan Hukum

Rabu, 07 Oktober 2026 | 22:12

Polda Kalteng Berjibaku Lakukan Pembasahan di Area Titik Panas

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:59

Mazhab Tebet dan Pokok-pokok Pikiran Ekonomi Heterodoks

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:51

Peringati Hari Tani, PalmCo Dorong Kemandirian KUD Melalui Tata Kelola Sawit Berkelanjutan

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:44

Melihat Sahara dari Denyut Pembangunan

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:27

3.474 Napi Pindah ke Nusakambangan, 115 dari Rutan Depok

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:04

Bos Danantara Ungkap Hilirisasi Dongkrak Ekspor Nikel RI 10 Kali Lipat

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:55

KPK Geledah Dinkes Pemkot Madiun, Sita Dokumen hingga Uang Tunai

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:32

Titiek Soeharto Diminta Turun Gunung Pimpin FKPPI

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:25

RUU Migas dan BUK Migas Harus Menyalakan Kembali Mesin Eksplorasi Indonesia

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:01

Selengkapnya