Berita

Sri Mulyani Indrawati (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube Oxford Policy Pod)

Bisnis

Negosiasi Tarif AS Jadi Momentum Reformasi dan Penguatan Ekonomi Indonesia

SABTU, 28 FEBRUARI 2026 | 07:29 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Mantan Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, menegaskan bahwa kebijakan tarif sepihak Amerika Serikat (AS) telah mengubah tatanan sistem perdagangan global berbasis aturan (rule-based system) yang selama ini dikoordinasikan oleh World Trade Organization (WTO).

Hal itu disampaikan Sri Mulyani dalam podcast Oxford Policy Pod beberapa waktu lalu. Dalam diskusi tersebut, ia membahas dinamika perdagangan global, kepemimpinan dalam manajemen krisis, serta strategi kebangkitan ekonomi Indonesia.

Menurut Sri Mulyani, selama ini perdagangan dan investasi internasional berjalan dalam kerangka kerja sama multilateral yang meski tidak sempurna, tetap menjadi dasar kesepakatan bersama. Namun, penerapan tarif secara unilateral oleh AS telah mendorong banyak negara untuk memilih jalur negosiasi bilateral.


“Setiap negara pada akhirnya tidak punya banyak pilihan selain bernegosiasi langsung secara bilateral dengan Amerika Serikat,” ujar Sri Mulyani, dikutip redaksi di Jakarta, Sabtu 28 Februari 2026.

Dalam proses negosiasi tersebut, Indonesia menghadapi sejumlah permintaan dari AS, terutama terkait hambatan non-tarif (non-tariff barriers). Namun, Sri Mulyani melihat hal ini justru sejalan dengan agenda reformasi domestik Indonesia.

Pemerintah memang tengah melakukan pembenahan dalam iklim usaha, perdagangan, dan investasi. Hambatan non-tarif dinilai berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap daya saing ekonomi nasional, khususnya dalam menarik investasi dan membangun perusahaan yang kompetitif.

Upaya mengatasi hambatan perdagangan tersebut penting untuk meningkatkan daya saing ekonomi nasional, baik dalam menarik investasi maupun memperkuat basis industri domestik.

Sri Mulyani juga menyoroti peluang kerja sama perdagangan yang saling menguntungkan. Indonesia memiliki sejumlah komoditas yang dibutuhkan AS. Di sisi lain, Indonesia juga mengimpor beberapa produk strategis seperti gandum dan kedelai, serta membuka peluang kerja sama di sektor minyak dan gas hingga pembelian pesawat.

Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak memandang kebijakan tarif sebagai hambatan hubungan dagang, melainkan sebagai peluang untuk memperkuat hubungan ekonomi yang saling menguntungkan kedua negara.

Di tingkat kawasan, Sri Mulyani menyebut negara-negara ASEAN juga menghadapi dinamika berbeda. Beberapa negara seperti Vietnam mendapat perlakuan khusus dari AS karena menjadi basis produksi manufaktur yang terhubung dengan rantai pasok China.

Meski demikian, negara-negara ASEAN sepakat bahwa sebagai sebuah kelompok, kawasan ini memiliki peluang besar untuk memainkan peran konstruktif dalam ekonomi regional maupun global.

“ASEAN memiliki posisi strategis untuk tetap relevan dan berkontribusi secara positif di tengah perubahan lanskap perdagangan dunia,” tutup Sri Mulyani.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:30

UPDATE

Sambut Wacana Revisi UU Tipikor, Komisi III DPR: Perlu Dikaji Lebih Mendalam

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:32

Mahasiswa Bentangkan Poster Raksasa Tolak Karhutla

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:27

Asta Cita Sulit Berjalan Tanpa Stabilitas Keuangan dan Pemerintahan Bersih

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:22

Sahroni Minta Polisi Jaga Adik-adik Mahasiswa

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:11

Mahasiswa Demo Mabes Polri, Jangan Kriminalisasi Pegawai PLN

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:57

Nasdem Bedah Pemikiran Bung Hatta untuk Perkuat Etika Politik

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:51

Koperasi Sawit Didorong Bangun Pabrik CPO hingga Kilang Minyak Goreng

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:45

Massa Tertahan di Depan Gedung UOB, Desak Polisi Buka Jalan

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:41

IHSG Menguat Tipis Usai RUPSLB BEI Setujui Dividen Rp1,56 T

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:24

Massa Berbaju Hitam Lewat Kantor KPU RI Menuju Bundaran HI

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:14

Selengkapnya