Berita

Hinca Pandjaitan/Net

Nusantara

Demokrat: Seharusnya Presidential Threshold 0 Persen Jika Ada Pemilu Serentak

RABU, 21 OKTOBER 2020 | 00:58 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Pasca pengesahan Undang Undang Cipta Kerja (Ciptaker) yang diikuti dengan kondisi demokrasi di tanah air sedang mengalami kemunduran.

Imbas kemunduran itu ada yang mempengaruhi kelangsungan demokrasi Indonesia. Salah satunya, UU Kepemiluan yang melalui aturan-aturan turunannya yang bisa menentukan masa depan demokrasi.

Ketua Dewan Kehormatan Partai Demokrat Hinca Pandjaitan mengatakan, tingginya angka presidential threshold yang juga diatur dalam UU Pemilu itu akan berpengaruh pada kelangsungan demokratisasi di Indonesia.


"Minggu-minggu kedepan ini setelah nanti masuk masa reses tanggal 8 November, saya kira akan segera masuk UU Pemilu yang jadi acuan utama kita merancang lagi 5 tahun ke depan Indonesia seperti apa. Pastilah isunya tentang pembatasan-pembatasan lagi," kata Hinca Pandjaitan dalam Forum Demokrasi Forum (PDF) yang diselenggarakan Balitbang DPP Partai Demokrat, Selasa malam (20/10).

Menurut Hinca, pengalaman yang lalu-lalu seharusnya mengajarkan kepada semua pihak termasuk partai politik untuk tidak lagi ada Presidential Threshold (ambang batas pencalonan Presiden) 20 persen.

Hal itu, kata Hinca, justru tidak relevan dengan kebijakan pemerintah melakukan Pemilu Serentak.

"Seharusnya tidak ada lagi itu presidential threshold. Harus 0 persen. Itu (Presidential Threshold) tidak ada lagi kalau Pemilunya serentak. Itu tidak ada relevansinya lagi," tegasnya.

"Pengalaman di Baleg DPR menyebut bahwa kita terus kecolongan begitu ya. Ini juga akan akan menjadi perdebatan yang sangat serius tahapan berikut adalah UU pemilu," sambungnya.

Hinca mengatakan berbagai pertanyaan tentang bagaimana mengamankan kekuasaan kedepan pasti mengemuka. Meski demikian, dalam UU Pemilu harus menjamin hak dasar dipilih dan memilih.

"Harus jadi jaminan kita semua untuk sama-sama memperhatikan UU ini. Pengalaman-pengalaman periode ini saya kira menjadi pengalaman paling berharga," demikian Hinca Pandjaitan.

Selain Hinca Pandjaitan, narasumber lain dalam diskusi virtual tersebut yakni Divisi Advokasi YLBHI Mohammad Isnur, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Azyumardi Azra, Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Abdul Manan, dan Ketua Balitbang DPP Demokrat Herzaky Mahendra Putra.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Tak Perlu Takut dengan Ide Kewarganegaraan Ganda Prabowo

Minggu, 16 Agustus 2026 | 10:26

Cara Mengubah Desil DTSEN Secara Online dan Offline, Lengkap dengan Langkahnya

Minggu, 16 Agustus 2026 | 10:15

Tak Cuma Revisi, DPR Sepakat Regulasi Baru Migas

Minggu, 16 Agustus 2026 | 10:14

GBNI Dukung Program Kerakyatan Prabowo

Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:37

B50 Perkuat Kemandirian Energi, Hemat Devisa, dan Dorong Transformasi Ekonomi

Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:34

Presiden Perintahkan Penanganan Darurat, Wamensos Terjun ke Lokasi Gempa NTT

Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:28

21 Kantong Parkir Disiapkan Saat Perayaan HUT ke-81 RI di Jakarta

Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:31

MBG Harus Kembali ke Tujuan Awal Bukan Jadi Ladang Bisnis

Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:21

Ruas Jalan di Jakarta Direkayasa Saat Perayaan HUT ke-81 RI

Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:12

Besok! Ongkos Transjakarta, MRT, dan LRT Jakarta Cuma Rp8

Minggu, 16 Agustus 2026 | 07:30

Selengkapnya