Berita

Ali al-Qaradaghi mengkritik pernyataan presiden Prancis yang menyebut Islam sebagai 'agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia/Net

Dunia

Katakan Islam Dalam Krisis, Macron Tuai Kecaman Muslim Dunia

SABTU, 03 OKTOBER 2020 | 09:31 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Reaksi keras datang dari kalangan Muslim dunia kepada Presiden Prancis Emmanuel Macron yang dianggap telah menghina dan mendiskreditkan Islam lewat pidatonya pada Jumat (2/10).

Salah satu kecaman itu datang dari seorang sarjana Muslim terkemuka Ali al-Qaradaghi, sekretaris jenderal Persatuan Internasional untuk Cendekiawan Muslim (IUMS) di akun media sosial Facebook pribadinya.

"Jangan khawatir tentang agama kami, karena tidak pernah bergantung pada dukungan otoritas atau mengangkat pedang di hadapan orang-orang yang menentangnya untuk memaksakan panji/dirinya," tulisnya, seperti dikutip dari Anadolu Agency, Sabtu (3/10).


Sebelumnya, dalam pidatonya pada hari Jumat Macron menggambarkan Islam sebagai 'agama yang mengalami krisis di seluruh dunia'.

Al-Qaradaghi menilai, pidato Macron mengekspresikan rasa takut terhadap Islam.

"Masa depan kami adalah untuk agama Islam, dan kami takut akan masa depan masyarakat yang menjadikan agama dan kesucian orang lain sebagai target yang sah."

"Kami takut masyarakat dari otoritas kecanduan membuat dan menciptakan musuh untuk dirinya sendiri," tambah cendekiawan Muslim itu.

"Kami mengasihani seorang penguasa yang masih hidup dalam krisis dan momok perang agama di abad pertengahan," kata al-Qaradaghi, seraya menambahkan: "Jika benar-benar ada krisis, itu karena standar ganda dari beberapa politisi Barat."

Dia menekankan bahwa: "Para penguasa di sebagian besar negara Arab dan Islam adalah orang-orang yang Anda ciptakan atau seorang pembangkang yang diberkati dengan mencapai keputusan pada tengkorak orang yang tidak bersalah.

"Presiden Macron; Anda berada dalam krisis moral, kemanusiaan dan krisis politik; dan Islam tidak dapat menanggung beban para pemimpin kartun palsu yang menciptakan krisis dengan sponsor Anda," tegas al-Qaradaghi.

Dalam pidatonya itu Macron mengungkapkan krisis Islam itu tidak hanya terjadi di Prancis tetapi juga di seluruh dunia.

“Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia saat ini, kami tidak hanya melihat ini di negara kami,” katanya. Dia mengumumkan bahwa pemerintah akan mengajukan RUU pada bulan Desember untuk memperkuat undang-undang 1905 yang secara resmi memisahkan gereja dan negara di Prancis.

Pidato Macron itu juga dikecam secara luas oleh Muslim Prancis karena kekhawatiran bahwa RUU yang akan diajukan ke parlemen pada bulan Desember mendatang itu dapat memicu pelecehan terhadap mereka.

Beberapa LSM atau organisasi yang bertindak melawan hukum dan nilai-nilai negara mungkin akan ditutup atau menghadapi audit keuangan yang ketat, menurut rencana baru tersebut.

Macron mengklaim bahwa beberapa orang tua Muslim tidak mengizinkan anak-anak mereka menghadiri kelas musik atau pergi ke kolam renang di sekolah. Sama seperti dia juga mendengar adanya aturan bahwa hijab atau kerudung, tidak boleh dipakai di dalam sekolah.

"Sekolah akan berada di bawah kendali yang ketat dan Prancis tidak mentolerir 'pengaruh asing'," katanya.

Namun rencana kontroversial tersebut telah memicu kritik sejak pertama kali diusulkan, dengan beberapa perwakilan komunitas Muslim menggambarkan langkah tersebut sebagai Islamofobia.

Presiden Dewan Muslim Prancis Mohammed Moussaoui sebelumnya memperingatkan bahwa mereka akan menentang setiap penargetan Muslim yang mempraktikkan agama mereka dengan menghormati hukum.

Diperkirakan 6 juta Muslim tinggal di Prancis, atau 8 persen dari populasi. Ini adalah kumpulan Muslim terbesar di negara Eropa.

Pidato kontroversial Macron juga dikritik di media sosial. Seorang aktivis hak asasi manusia Prancis, Yasser Louati, menulis di Twitter setelah pidato Macron bahwa penindasan terhadap Muslim telah menjadi ancaman, dan sekarang itu berubah menjadi janji.

“Dalam pidato satu jam #Macron mengubur #laicite - sekularisme -, memberanikan sayap kanan, anti-Muslim kiri dan mengancam kehidupan pelajar Muslim dengan menyerukan pembatasan drastis pada home schooling meskipun pandemi global," tulisnya.

Seorang ilmuwan politik Portugis, Bruno Macaes, juga menulis di Twitter: “Macron tidak lagi menyembunyikan perasaannya tentang Islam. Bukan lagi Islam radikal, sekarang hanya Islam yang jadi masalah. Saya rasa tidak ada pemimpin Barat yang pernah berbicara tentang Islam seperti ini. Selalu ada perbedaan yang cermat antara Islam dan gerakan fundamentalis."

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Muhammadiyah Himpun Rp6 Miliar untuk Korban Gempa NTT, Rp3,4 Miliar Telah Disalurkan

Sabtu, 05 September 2026 | 10:18

Emas Antam Ambruk Rp30.000, Termurah Dibanderol Rp1,3 Juta

Sabtu, 05 September 2026 | 09:19

Banding Kasus Penyiraman Air Keras, Hukuman Dua Pelaku Diringankan

Sabtu, 05 September 2026 | 08:50

Hari Pelanggan Nasional 2026, Pertagas Perkuat Layanan dan Keandalan Energi

Sabtu, 05 September 2026 | 08:14

112 Tersangka Kasus Karhutla Sudah Ditangkap, 55 Perkaran Dilidik

Sabtu, 05 September 2026 | 07:41

RUU Perampasan Aset Potensial Menjarah Aset Seluruh Rakyat

Sabtu, 05 September 2026 | 06:46

112 Tersangka Kasus Karhutla Ditangkap, Terbanyak di Riau

Sabtu, 05 September 2026 | 06:34

Muhammadiyah Layani Penyintas Gempa NTT

Sabtu, 05 September 2026 | 06:17

JHL Foundation Beri Beasiswa Kelapa untuk 100 Mahasiswa UBB

Sabtu, 05 September 2026 | 06:02

Operasi Modifikasi Cuaca Dioptimalkan di Kalbar dan Kalteng

Sabtu, 05 September 2026 | 05:52

Selengkapnya