Berita

Bendera nasional Malaysia dipajang di luar FGV Holdings Berhad/Net

Bisnis

AS Blokir Sawit Malaysia

JUMAT, 02 OKTOBER 2020 | 06:45 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Amerika Serikat akan menahan pengiriman minyak sawit dan produknya dari produsen utama di Malaysia setelah berbagai indikator pelecehan ketenagakerjaan ditemukan, termasuk kekerasan fisik dan seksual, serta pekerja di bawah umur.

Perintah pemotongan pajak terhadap FGV Holdings Berhad berlaku segera setelah penyelidikan, kata Brenda Smith, asisten komisaris eksekutif di Kantor Perdagangan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS.

"Kami akan mendesak komunitas pengimpor AS untuk melakukan pengujian," katanya, seraya menambahkan mereka harus melihat rantai pasokan minyak sawit mereka.


"Kami juga akan mendorong konsumen AS untuk bertanya tentang dari mana produk mereka berasal," katanya lagi, seperti dikutip dari CBS, Jumat (1/10).

FGV adalah salah satu perusahaan minyak sawit terbesar di dunia dan terkait erat dengan Felda, yang dimiliki oleh pemerintah Malaysia.

Perintah Bea Cukai datang seminggu setelah investigasi pelanggaran ketenagakerjaan di industri minyak sawit di Malaysia dan Indonesia, di mana keduanya sama-sama menghasilkan sekitar 85 persen dari pasokan global  65 miliar dolar.

Beberapa pelanggaran terjadi di perkebunan yang dioperasikan oleh Felda.

FGV mengeluarkan pernyataan pada akhir pekan yang menguraikan komitmennya terhadap hak asasi manusia, termasuk langkah-langkah yang diambil untuk memastikan para pekerjanya memiliki akses ke paspor dan gaji mereka.

"Meskipun ada kritik dan tuduhan terhadap FGV, kami akan melanjutkan upaya kami untuk memperkuat praktik kami untuk menghormati hak asasi manusia dan menegakkan standar ketenagakerjaan," isi pernyatan FGV.

"Komitmen kami jelas. Kami bertekad untuk mencapai tujuan dan target yang telah kami tetapkan sebagai bisnis yang bertanggung jawab dan berkelanjutan," lanjut FGV

Minyak sawit adalah minyak nabati yang paling banyak dikonsumsi di dunia, memenuhi hampir setengah rak supermarket. Produksi melonjak secara global,  dari 5 juta ton pada tahun 1999 menjadi 72 juta saat ini, menurut data Departemen Pertanian AS. AS sendiri telah melihat lonjakan permintaan 900 persen selama waktu yang sama.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Muhammadiyah Himpun Rp6 Miliar untuk Korban Gempa NTT, Rp3,4 Miliar Telah Disalurkan

Sabtu, 05 September 2026 | 10:18

Emas Antam Ambruk Rp30.000, Termurah Dibanderol Rp1,3 Juta

Sabtu, 05 September 2026 | 09:19

Banding Kasus Penyiraman Air Keras, Hukuman Dua Pelaku Diringankan

Sabtu, 05 September 2026 | 08:50

Hari Pelanggan Nasional 2026, Pertagas Perkuat Layanan dan Keandalan Energi

Sabtu, 05 September 2026 | 08:14

112 Tersangka Kasus Karhutla Sudah Ditangkap, 55 Perkaran Dilidik

Sabtu, 05 September 2026 | 07:41

RUU Perampasan Aset Potensial Menjarah Aset Seluruh Rakyat

Sabtu, 05 September 2026 | 06:46

112 Tersangka Kasus Karhutla Ditangkap, Terbanyak di Riau

Sabtu, 05 September 2026 | 06:34

Muhammadiyah Layani Penyintas Gempa NTT

Sabtu, 05 September 2026 | 06:17

JHL Foundation Beri Beasiswa Kelapa untuk 100 Mahasiswa UBB

Sabtu, 05 September 2026 | 06:02

Operasi Modifikasi Cuaca Dioptimalkan di Kalbar dan Kalteng

Sabtu, 05 September 2026 | 05:52

Selengkapnya