Berita

Ilustrasi Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Matematika Dan Kemanusiaan

SENIN, 24 AGUSTUS 2020 | 16:11 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

MANTAN deputi Menristek merangkap Mahaguru Sains dan Teknologi saya, DR. Idwan Suhardi mendukung prakarsa saya mendirikan Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan untuk mempelajari apa yang disebut sebagai kemanusiaan. Namun beliau merasa heran ketika saya mulai mempelajari angkamologi sebagai bagian dari apa yang disebut sebagai matematika.

Skeptis

Sebagai seorang ilmuwan terbiasa dengan pemikiran sains maka senantiasa skeptis, beliau bertanya kepada saya mengenai apa hubungan antara kemanusiaan dengan matematika. Pertanyaan tersebut sempat membuat saya tertegun. Belum pernah terlintas di benak saya bahwa ada hubungan antara kemanusiaan dan matematika yang sekilas seolah mengada-ada akibat terkesan absurd.


Pertanyaan mantan deputi Menristek merangsang naluri penasaran saya tentang keterkaitan antara apa yang disebut kemanusiaan dengan apa yang disebut sebagai matematika. Ternyata ada.

Kesatwaan

Keberadaan korelasi kemanusiaan dengan matematika bisa dijawab secara utilitarianistis. Dipandang dari sisi manfaat dapat disimpulkan bahwa kemanusiaan lebih merupakan suatu jenis tujuan, sementara matematika lebih merupakan suatu jenis alat untuk mencapai tujuan. Dan justru pada sisi manfaat itulah langsung kemanusiaan memiliki keterkaitan dengan matematika.

Dengan menggunakan manfaat yang terkandung di dalam matematika, manusia bahkan mahluk hidup bisa mencapai tujuan. Contoh paling nyata pada satwa memanfaatkan matematika untuk mencapai tujuan kesatwaaan menangkap mangsa demi keterlanjutan kehidupan adalah laba-laba yang secara naluriah membentuk sarang yang berbentuk geometris (matematikal!) demi mampu menangkap mangsa demi keterlanjutan hidup sang pemangsa.

Sarang laba-laba berbentuk geometris merupakan bukti bahwa ada keterkaitan antara kesatwaan dengan matematika. Apa yang secara maematikal dilakukan oleh laba-laba demi mencapai tujuan kesatwaan terbukti juga secara matematikal dilakukan oleh manusia demi mencapai tujuan kemanusiaan.

Kemanusiaan

Dengan menggunakan unsur-unsur matematikal, manusia mencapai tujuan kemanusiaan dalam bidang kesehatan seperti telah terbukti pada kasus pageblug Corona yang dilawan oleh manusia dengan menggunakan alat deteksi suhu badan, tes rapid atau swab, respirator, pengukur detak jantung, tekanan darah, kadar gula darah dan segenap peralatan medis yang hanya bisa berfungsi dengan dukungan angka serta simbol matematikal.

Penelitian vaksin mutlak butuh data-data matematikal kimiawi. Pendidikan tidak lengkap apabila tidak dilengkapi pendidikan aritmatika, kalkulus, aljabar, logaritma, geometri dll elemen matematikal. Penanggulangan kemiskinan merupakan bagian hakiki dari tujuan utama upaya perjuangan kemanusiaan. Untuk dapat mengukur keberhasilan atau kegagalan suatu kebijakan menanggulangi kemiskinan demi mempersempit jurang kesenjangan sosial mutlak membutuhkan data statistik yang merupakan unsur matematika.

Dengan penghitungan biaya secermat mungkin perumahan bisa dibangun dengan harga yang terjangkau kaum miskin. Uni Emirat Arab, Oman, Qatar, Kuba, Korut secara matematis menganalisa anggaran biaya kemanusiaan sehemat agar perumahan dapat diberikan kepada rakyat secara gratis. Kesejahteraan erat terkait dengan kemakmuran erat terkait dengan apa yang disebut sebagai uang alias duwit yang hanya bisa dihitung dengan menggunakan unsur matematika yang terkandung di dalam mulai ilmu akuntasi sampai ekonometri.

Asuransi kesehatan sebagai bagian hakiki Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab hanya mampu berhasil apabila ditatalaksana dengan ilmu aktuaris sebagai sub ilmu matematika.

Nilai

Matematika merupakan bahasa yang berdayaguna bagi sains maka juga berdayaguna bagi teknologi, keuangan, kesenian, kebudayaan yang kesemuanya memiliki daya manfaat bagi kemanusiaan. Namun sebagai sekedar alat sewajibnya matematika jangan dikultuskan apalagi diberhalakan. Nilai mutu daya manfaat matematika bukan terukur pada pencapaian tujuan namun lebih pada bagaimana dan untuk tujuan apa daya matematikal digunakan.

Perhitungan matematikal pada teknologi nuklir bernilai positif apabila digunakan untuk tujuan diagnosa kesehatan atau tenaga pembangkit listrik namun langsung bernilai destruktif apabila untuk membinasakan manusia. Menggusur rakyat miskin dan masyarakat adat atas nama pembangunan jelas tidak selaras makna adiluhur yang terkandung di dalam sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.

Perhitungan matematikal terkandung dalam penelitian biologis terhadap ras manusia yang dimanfaatkan Adolf Hitler untuk membenarkan kebiadaban membantai jutaan kaum Yahudi jelas sangat bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Ibarat pisau bernilai konstruktif ketika digunakan sebagai alat bedah demi menyelamatkan manusia bermakna destruktif ketika digunakan untuk membunuh manusia

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Tumbuhkan Mimpi Puluhan Anak Nelayan Cilincing Lewat Nobar Film

Senin, 14 September 2026 | 03:18

Sejumlah Alutsista TNI Gercep Sisir Korban KM Virgo Transport 8

Senin, 14 September 2026 | 02:55

Kesehatan di Tepi Republik

Senin, 14 September 2026 | 02:29

Ekonomi Batam Tumbuh 7,28 Persen Bukti Kepercayaan Dunia Usaha Terus Menguat

Senin, 14 September 2026 | 01:54

Terpilih jadi Ketum HPK Kosgoro 1957, Eric Hermawan Langsung Tancap Gas Konsolidasi

Senin, 14 September 2026 | 01:24

Abu Vulkanik Berbahaya bagi Air dan Ikan, Begini Penjelasannya

Senin, 14 September 2026 | 00:55

KDM Dinilai Lebih Utamakan Pencitraan Ketimbang Solusi Defisit APBD Jabar

Senin, 14 September 2026 | 00:33

Menuju HUT ke-81, Panglima TNI Buka Rangkaian 72 Lomba Open Turnamen

Senin, 14 September 2026 | 00:11

SOKSI Siap Tempuh Jalur Hukum Gugat 'Bocor Alus Tempo'

Minggu, 13 September 2026 | 23:48

Asta Cita, Zakat, dan Jalan Baru Mengentaskan Kemiskinan

Minggu, 13 September 2026 | 23:24

Selengkapnya