Berita

Dr. Lo Siaw Ging/Net

Jaya Suprana

Belajar Kemanusiaan Dari DR. Lo

JUMAT, 24 JULI 2020 | 07:21 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

MANTAN Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama mengeluh bahwa bangsanya sudah tidak memiliki peka-rasa terhadap kaum miskin, sehingga ketidakadilan sosial di negara Paman Sam makin parah akibat kaum miskin tidak mampu membayar biaya pelayanan kesehatan.

Gejala yang sama juga terasa di persada Nusantara masa kini. Syukur alhamdullilah, masih ada para warga Indonesia memiliki sisa nurani kemanusiaan. Satu di antaranya adalah dr. Lo Siaw Ging.

Dokter


Lo Siaw Ging lahir di Magelang, sehari sebelum 17 Agustus dan sebelas tahun sebelum 1945. Setelah lulus SMU, Lo Siaw Ging menyatakan kepada orangtuanya tentang cita-citanya untuk menjadi dokter.

Ayahnya, Lo Ban Tjiang yang mengharapkan anaknya meneruskan usaha bisnisnya memberi nasihat bahwa menjadi dokter dan berbisnis tidaklah sejalan. Lo menerima nasihat itu dengan kearifan bahwa seorang dokter tidak seharusnya hanya mengejar pendapatan materi karena tugas utama seorang dokter adalah menolong orang-orang yang membutuhkan.

Lo Siaw Ging menjadi dokter pada tahun 1963 dan bekerja di poliklinik Tsi Sheng Yuan milik dokter Oen Boen Ing (1903-1982), seorang dokter terkenal di Solo. Pada masa Orde Baru, poliklinik tersebut berubah nama menjadi Rumah Sakit Panti Kosala, dan kini menjadi Rumah Sakit Dokter Oen.

Selama 15 tahun, dokter Lo banyak belajar dari dokter Oen yang disebutnya “Dr. Oen  tidak hanya seorang dokter yang brilian tetapi juga sangat sopan dan memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi”.

Pengabdian


Setelah Dr.Oen meninggal dunia, Dr. Lo melanjutkan pengabdian kemanusiaan Dr.Oen. Selain melayani pasien kurang mampu tanpa menerima bayaran, dokter Lo bahkan juga membayar biaya pengobatan pasien yang benar-benar tidak memiliki uang.

Setiap akhir bulan, apotek langganan dokter Lo akan memberikan tagihan obat yang besarnya bervariasi antara ratusan ribu hingga jutaan per bulan. Untuk pasien yang sakit parah, dokter Lo juga menyediakan dana pribadi untuk keperluan rawat pasien di Rumah Sakit Kasih Ibu.

“Aku tahu pasien mana yang mampu membayar dan mana yang tidak. Mengapa mereka wajib membayar biaya pengobatan dokter jika nantinya mereka tidak dapat membeli beras? Kasihan anak-anak mereka jika sampai kekurangan makan."

Suatu pemikiran kemanusiaan yang seharusnya dimiliki pemerintah sebagai penyelenggara BPJS. Di masa huruhara terjadi di Kota Solo, Dokter Lo tetap membuka praktek untuk menolong para korban: “Banyak orang membutuhkan pertolongan,  bagaimana aku bisa menolak mereka? Jika semua dokter berhenti praktik, siapa yang akan melayani pasien?

Dr. Lo tetap praktek di masa usia lanjut, “selama aku masih cukup kuat, aku tidak berpikir untuk pensiun. Seorang dokter hanya akan pensiun jika sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Pelayananku memberiku kepuasan yang tidak dapat dibeli dengan uang”.

Kemanusiaan

Seharusnya Donald Trump banyak menimba pelajaran pelayanan kesehatan berdasar Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab dari  Dr. Lo Siaw Ging.

Keberpihakan kepada kaum miskin Dr. Lo Siaw Ging bukan sekedar slogan atau filsafat yang dihafal namun sudah mendarah-daging di jiwa-raga putra terbaik bangsa Indonesia ini.

Andaikata pelayanan kesehatan Indonesia diejawantahkan bukan berdasar paham kapitalisme, utilitarianisme atau pragmatisme materialistik berorientasi pada kepentingan profit, namun pada Pancasila atas pengabdian kemanusiaan dan keadilan sosial seperti yang dilakukan Dr. Lo Siaw Ging maka tidak ada warga Indonesia terpaksa menderita tidak memperoleh pelayanan kesehatan hanya akibat tidak punya uang.

Atas nama seluruh rakyat Indonesia yang menderita akibat tidak mampu membayar biaya pelayanan kesehatan, dengan penuh kerendahan hati saya menyampaikan penghargaan, hormat, dan terima kasih kepada Dr. Lo Siaw Ging.

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Tumbuhkan Mimpi Puluhan Anak Nelayan Cilincing Lewat Nobar Film

Senin, 14 September 2026 | 03:18

Sejumlah Alutsista TNI Gercep Sisir Korban KM Virgo Transport 8

Senin, 14 September 2026 | 02:55

Kesehatan di Tepi Republik

Senin, 14 September 2026 | 02:29

Ekonomi Batam Tumbuh 7,28 Persen Bukti Kepercayaan Dunia Usaha Terus Menguat

Senin, 14 September 2026 | 01:54

Terpilih jadi Ketum HPK Kosgoro 1957, Eric Hermawan Langsung Tancap Gas Konsolidasi

Senin, 14 September 2026 | 01:24

Abu Vulkanik Berbahaya bagi Air dan Ikan, Begini Penjelasannya

Senin, 14 September 2026 | 00:55

KDM Dinilai Lebih Utamakan Pencitraan Ketimbang Solusi Defisit APBD Jabar

Senin, 14 September 2026 | 00:33

Menuju HUT ke-81, Panglima TNI Buka Rangkaian 72 Lomba Open Turnamen

Senin, 14 September 2026 | 00:11

SOKSI Siap Tempuh Jalur Hukum Gugat 'Bocor Alus Tempo'

Minggu, 13 September 2026 | 23:48

Asta Cita, Zakat, dan Jalan Baru Mengentaskan Kemiskinan

Minggu, 13 September 2026 | 23:24

Selengkapnya