Berita

Ilustrasi wayang Pandawa Lima/Ist

Jaya Suprana

Aritmetika Wayang Purwa

SENIN, 15 JUNI 2020 | 18:54 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

DI DALAM kisah Wayang Purwa kerap tersirat dan tersurat ihwal aritmetika alias ilmu hitung. Misalnya pada kuku Anoman dan Werkudara yang disebut sebagai Pancanaka.

Pancanaka

Panca adalah sebutan aritmetika dalam bahasa Sanskrit untuk angka lima dalam bahasa Indonesia. Sementara “naka” adalah tujuan, maka Pancanaka dapat dimaknakan sebagai lima tujuan hidup yang terdiri dari lima pengendalian terhadap nafsu membunuh, nafsu seksual, nafsu keduniawian, nafsu kekuasaan serta nafsu merugikan orang lain. Bisa juga ditafsirkan sebagai lima hawa sakti di dalam diri setiap insan manusia yaitu prana, apana, samana, udana, dan vyana.


Kuku Pancanaka adalah pusaka pamungkas untuk mengalahkan kejahatan sebagai musuh kebenaran dengan menggenggamkan seluruh jari di kedua tangan seerat mungkin sambil menonjolkan kedua ibu jari sebagai pemusatan pikiran dan kesadaran akan lima kekuatan hawa sakti.

Pancasona

Pancasona adalah sebuah kesaktian dahsyat yang semula dimiliki Subali namun kemudian secara curang berhasil dimiliki oleh Rahwana. Aji Pancasona merupakan suatu kesaktian memstahilkan insan yang memilikinya untuk dibinasakan, bahkan menjadi makin sakti mandraguna setelah tubuh menyentuh tanah.

Di samping Pancasona, Rahwana juga memiliki aji Rawarontek melipatgandakan daya kesaktian Rahwana sehingga tak tertandingi oleh manusia mau pun dewa.

Hanya panah sakti Sri Rama, Kiai Danu yang bisa berbicara itu yang berhasil menaklukkan Rahwana dengan tidak membunuh, tapi terus-menerus menyayat kulit dan daging sambil mencaci-maki sehingga lahir batin Rahwana luar biasa menderita akibat rasa sakit dan rasa jengkel tanpa bisa mati, sebab terlanjur memiliki Pancasona plus Rawarontek. Kandungan falsafah Pancasona pada hakikatnya sama dengan Pancanaka.

100 Kurawa

Jumlah Kurawa yang genap seratus merupakan bukti bahwa Wayang Purwa mengutamakan aritmetika. Kerap diperdebatkan apakah Dursilawati termasuk dalam 100 Kurawa. Apabila tidak, maka jumlah Kurawa bukan 100 tetapi 101. Angka 101 mirip angka dongeng 1001 Malam yang berasal dari kebudayaan Arab.

Sama halnya dengan Pandawa Lima yang berjumlah lima (tanpa menghitung putra sulung Dewi Kunthi dari Batara Surya sebagai bagian dari Pandawa) juga merupakan fakta bahwa aritmetika memang berperan di dalam kisah-kisah Wayang Purwa.

Jumlah Punakawan adalah empat yang terdiri dari Semar, Gareng, Petruk dan Bagong di samping dua yang terdiri dari Togog dan Bilung sementara 4:2= 2. Namun di sisi lain, bentuk dagu bawah Cakil yang memanjang ke depan lebih cenderung geometris ketimbang aritmatis.

Keadilan Yudhistira

Aritmetika merupakan pertimbangan utama Yudhistira ketika menghadapi pertanyaan Batara Yama tentang siapa di antara empat saudara Yudhistira yang semuanya tewas akibat nekat minum air dari telaga (dalam versi Mahabharata disebut sebagai sungai Yamuna) yang diinginkan Yudhistira untuk dihidupkan kembali oleh Batara Yama.

Yudhistira meyakini bahwa keadilan lebih bisa dicapai melalui Aritmetika yang bisa diukur kebenarannya ketimbang hukum yang mustahil diukur kebenarannya. Berdasar fakta bahwa putra Kunthi berjumlah tiga sementara putra Madrim berjumlah dua, maka andaikata yang dihidupkan adalah Bima atau Arjuna, maka jumlah putra Kunthi yang hidup berjumlah dua yaitu Yudhistira plus Bima atau Arjuna, sementara putra Madrim yang hidup adalah nol alias nihil.

Demi keadilan aritmatis, Yudhistira memilih Nakula yang dihidupkan kembali agar putra Kunthi dan putra Madrim sama-sama berjumlah satu orang yaitu Yudhistira dan Nakula. Kagum atas kearifan keadilan Aritmetika Yudhistira, maka Batara Yama menghidupkan segenap empat saudara Yudhistira. Meski sebenarnya masih bisa lanjut diperdebatkan mengenai apakah jumlah tiga putra Kunthi adalah adil bagi Madrim yang cuma berputra dua.

Sementara baik Kunthi mau pun Madrim sendiri sama sekali tidak pernah mempermasalahkannya. Apabila titian serambut ingin dibelah tujuhkomatujuhpuluhtujuh, maka bisa juga dipertanyakan alasanologinya mengenai kenapa Madrim bukan Kunthi yang ikut mati obong ketika konon Pandu wafat akibat konon kena kutukan pasangan begawan-begawati yang konon menyamar menjadi kijang lalu konon dipanah mati oleh Pandu sebab keliru disangka sebagai dua kijang.

Penulis sempat nyantrik pada Ki Nartosabdho demi mempelajari falsafah Wayang Purwa

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Keempat Kalinya Indonesia Jadi Tuan Rumah PENSA 2026

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:25

OMC Bantu Sejukkan Jakarta

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:02

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

TVRI dan PIM Jajaki Kolaborasi Angkat Kiprah Perempuan Indonesia

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:23

KNMP Kota Sorong Buka Peluang Pasar bagi Nelayan Lokal

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:00

Modal Asing Kabur Imbas Sentimen MSCI, BI Jamin Likuiditas Rupiah Memadai

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:44

Kapal Asal Malaysia Bawa 1,16 Ton Ketamin, Dasco Tegaskan Jaga Generasi Muda

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:16

BSI Himpun Dana Tabungan Haji Rp18 Triliun, Nasabah Gen Z Naik 30 Persen

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:15

Wilayah Berdekatan, Mengapa Jakarta Lebih Panas Saat Bogor Masih Diguyur Hujan?

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:03

KemenHAM Tampilkan Peta Pemenuhan Hak Dasar Hingga Tingkat Desa Berbasis Digital

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 18:35

Selengkapnya