Berita

Jaya Suprana/Ist

Jaya Suprana

Norma Baru

SENIN, 25 MEI 2020 | 20:34 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

PADA masa virus Corona sedang asyik merajalela, bermunculan kreasi istilah baru. Semisal: New Normal.  Demi menghormati bahasa bangsa sendiri maka saya paksakan untuk mengalih-bahasakan ”New Normal” menjadi “Norma Baru” akibat putus asa mencari kata bahasa Indonesia untuk “normal”.   

Mumpung banyak waktu di masa lockdown alias WFH (work frome home) alias bertapa di dalam rumah atau kos-kosan sendiri akibat PSBB gegara pageblug Corona, maka mari kita coba simak apa sebenarnya makna istilah “New Normal” .
Makna

Menurut KBBI ternyata kata Normal bermakna 1) menurut aturan atau menurut pola yang umum; sesuai dan tidak menyimpang dari suatu norma atau kaidah; sesuai dengan keadaan yang biasa; tanpa cacat; tidak ada kelainan 2) bebas dari gangguan jiwa.  

Menurut KBBI ternyata kata Normal bermakna 1) menurut aturan atau menurut pola yang umum; sesuai dan tidak menyimpang dari suatu norma atau kaidah; sesuai dengan keadaan yang biasa; tanpa cacat; tidak ada kelainan 2) bebas dari gangguan jiwa.  

Sementara kata Baru agak lebih merepotkan sebab menurut KBBI ada 12 maknanya yaitu 1) belum pernah ada (dilihat) sebelumnya  2) belum pernah didengar (ada) sebelumnya  3) belum lama selesai (dibuat, diberikan 4) belum lama dibeli (dimiliki); belum pernah dipakai 5) segar (belum lama dipetik atau ditangkap)-; 6) belum lama menikah   7) belum lama bekerja  8) awal  9) modern 10) belum lama antaranya 11) kemudian; setelah itu 12)  sedang; lagi .

Berarti secara leksikal rangkaian kata Norma Baru dapat dimaknakan sebagai sangat beranekaragam. Misalnya bebas dari gangguan jiwa yang belum pernah ada sebelumnya. Namun agar terkesan lebih sopan mungkin lebih santun dimaknakan sebagai sesuatu yang menurut aturan secara belum pernah ada sebelumnya. Atau semacam itu, terserah maunya yang memaknakan.

Baru

Namun terlepas semantika, sebenarnya kata “baru” itu sendiri an sich sudah rawan menimbulkan dampak masalah baru yaitu jika ada yang baru berarti pasti ada yang lama. Jika tidak ada yang lama berarti tidak ada yang baru.

Lalu menjadi masalah tersendiri mengenai makna apa yang disebut sebagai “lama” yang menurut KBBI ternyata juga tidak kalah  rumit ketimbang “baru”. Maka adalah jauh lebih bermakna bagi yang ingin mengetahui makna “lama” secara lebih mendetail, silakan repot simak sendiri di link https://www.google.com/amp/s/kbbi.web.id/lama.html.

Nisbi

Terjemahan kata “normal” menjadi “norma” memang layak dipermasalahkan akibat memang saya paksakan. Apalagi jika kita mencoba menerawang makna kata “normal” yang ternyata potensial polemik tanpa batas akhir mau pun awal.

Di samping kata “normal” masih ada kata “abnormal” dan di antaranya masih ada istilah “agak normal” tanpa kejelasan “agak normal” lebih mendekati normal atau abnormal.

Sementara juga masih ada terminologi “normalisasi” sebagai eufemisme politik penggusuran. Meski Gus Dur sudah bilang “Gitu Aja Kok Repot” namun kita kerap saja kerap repot mempertanyakan di mana letak garis pembatas yang tegas membedakan antara yang normal dengan yang abnormal.

Kenisbian makna normal dan abnormal juga tampak jelas pada kenormalan sikap yang meyakini bahwa yang abnormal pasti orang lain sementara yang normal pasti lah diri sendiri. Memang jarang orang gila menganggap dirinya abnormal sebab meyakini dirinya sebagai yang normal akibat  yang gila pasti orang lain.

Dengan nekat menulis naskah berjudul “Norma Baru” ini berarti saya juga harus siap dicemooh sebagai tua bangka abnormal sebab memang terkesan  “gila” alias “edan.

Simpang-Siur

Kesimpang-siuran masing masing kata “norma” maupun “baru” serta merta dengan sendirinya menjadi makin simpang-siur, apabila dua kata simpang-siur itu digabung menjadi suatu kesatuan dan persatuan.

Maka pada hakikatnya, layak diyakini bahwa wejangan “Gitu Aja Kok Repot”-nya Gus Dur adalah bijak.  Pada kenyataan memang masih begitu banyak yang lebih berguna dan bermanfaat (sambil juga lebih aman) untuk repot dibahas, ketimbang repot mencoba membahas makna  istilah New Normal yang serba simpang-siur itu.

Yaaaaah, namanya juga iseng isi waktu di masa karantina diri akibat virus abnormal baru yang disebut Corona yang normalnya adalah nama jenis merek mobil yang sebenarnya sudah tidak terlalu baru itu.

Penulis adalah pembelajar semantika

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

UPDATE

Tumbuhkan Mimpi Puluhan Anak Nelayan Cilincing Lewat Nobar Film

Senin, 14 September 2026 | 03:18

Sejumlah Alutsista TNI Gercep Sisir Korban KM Virgo Transport 8

Senin, 14 September 2026 | 02:55

Kesehatan di Tepi Republik

Senin, 14 September 2026 | 02:29

Ekonomi Batam Tumbuh 7,28 Persen Bukti Kepercayaan Dunia Usaha Terus Menguat

Senin, 14 September 2026 | 01:54

Terpilih jadi Ketum HPK Kosgoro 1957, Eric Hermawan Langsung Tancap Gas Konsolidasi

Senin, 14 September 2026 | 01:24

Abu Vulkanik Berbahaya bagi Air dan Ikan, Begini Penjelasannya

Senin, 14 September 2026 | 00:55

KDM Dinilai Lebih Utamakan Pencitraan Ketimbang Solusi Defisit APBD Jabar

Senin, 14 September 2026 | 00:33

Menuju HUT ke-81, Panglima TNI Buka Rangkaian 72 Lomba Open Turnamen

Senin, 14 September 2026 | 00:11

SOKSI Siap Tempuh Jalur Hukum Gugat 'Bocor Alus Tempo'

Minggu, 13 September 2026 | 23:48

Asta Cita, Zakat, dan Jalan Baru Mengentaskan Kemiskinan

Minggu, 13 September 2026 | 23:24

Selengkapnya