Berita

Jaya SUprana/Ist

Jaya Suprana

Pengakuan Seorang Dungu

SELASA, 19 MEI 2020 | 19:39 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

NIAT saya menulis naskah sederhana ini adalah menghibur para warga yang disiplin mengkarantinakan diri di dalam rumah masing-masing demi memutus mata-rantai Corona. Bagi yang tidak butuh hiburan, silakan baca naskah ini sampai di sini saja agar tidak  merasa jengkel. Apabila nekat lanjut membaca, maka risiko menjadi tanggung-jawab yang membaca sendiri.
 
Sejauh jangkauan daya ingat saya yang di masa lansia terus menerus makin melemah, ketika pertama kali guru SD saya mengajarkan bahwa 2+2=4 langsung saya bertanya kenapa bisa begitu. Maka guru berhitung saya memberikan penjelasan bahwa  menurut kesepakatan mereka yang dianggap dan menganggap diri pintar berhitung memang 2+2=4.

Menyerah


Terpaksa saya tidak bertanya lebih lanjut sebab guru berhitung saya sudah terlanjur tegas menegaskan bahwa kesepakatan itu sudah mutlak final maka dogmatis alias tidak bisa sebab tidak boleh dibantah apalagi dipertanyakan oleh seorang dungu  seperti saya!

Kemudian guru berhitung saya lanjut mengajarkan bahwa 4-2=2  yang saya tidak berani bertanya kenapa begitu sebab takut dianggap melawan dogma agama eh ilmu berhitung meski pada masa itu saya tidak mengerti dogma itu apa.

Puas berkat saya tidak bertanya maka guru berhitung saya lanjut mengajari saya bahwa 2-2=0 yang juga tidak saya pertanyakan kenapa begitu sebab di samping pasti dogmatis juga masih cukup logis untuk dimengerti oleh sedikit daya logika tersisa di otak tumpul saya.

Saya juga tetap manut ketika diajarkan bahwa 2x2=4.  Meski agak heran bahwa penambahan dan pengalian  hasilnya sama lalu kenapa mesti dibedakan antara penambahan dengan pengalian ? Gitu aja kok repot, demikian pasti Gus Dur bilang!

Penasaran

Namun sanubari saya mulai  berontak ketika guru berhitung lanjut mengajari saya bahwa (-2) - (-2) konon kalau tidak salah (jika ternyata salah mohon diampuni) = 0. Meski penasaran namun saya masih belum berani bertanya mengenai kenapa begitunya. Sebab pasti pertanyaan mubazir saya dijawab bahwa itu adalah dogma matematikal yang sudah disepakati oleh para matematikawan.

Namun kemudian akhirnya saya gagal menahan desakan nafsu syahwat untuk bertanya kenapa begitu ketika pak atau bu (saya lupa!) berhitung saya mencoba meyakinkan saya bahwa dua angka minus apabila saling dikalikan maka langsung hasilnya wajib menjadi angka plus.

Jika tidak keliru, saya masih ingat bagaimana pada saat itu menderita krisis kepercayaan cukup parah. Sementara guru berhitung saya serius berusaha memberikan penjelasan tentang kenapa bilangan dengan tanda minus di depannya apabila dikalikan alias dengan bilangan yang sama-sama bertanda minus di depannya mau-tidak-mau diwajibkan menghasilkan angka tanpa tanda apa pun di depannya yang berarti sebenarnya telah disepakati untuk dapat diyakini sebagai tanda plus. Demi tidak terlalu menjengkelkan sang guru maka saya pura-pura mengerti.

Gagal Paham

Sampai saat menulis naskah ini, terus terang saya masih gagal paham bahwa perkalian dua bilangan minus tidak-bisa-tidak wajib harus  menghasilkan bilangan plus.

Ternyata saya tidak bingung sendirian, sebab sang mahapujangga Prancis, Stendhal penggubah Le Rouge et le Noir juga bingung! Naga-naganya secara andaikatamologis masalah menjadi lebih liar berkeliaran ke sana ke mari andaikata saya nekat bertanya kenapa bilangan minus dibagi bilangan minus hasilnya menjadi bilangan apa?

Maklum daya pikir otak saya memang dangkal maka tidak mampu menangkap makna teori-teori matematika kelas langitan apalagi yang sudah didogmasisasi berdasar konspirasi para mahamatematikawan kelas langit di atas langitannya langit-langit.

Mohon dimaafkan apabila setelah membaca naskah ini ternyata anda tidak merasa terhibur sebab naskah ini memang pengakuan seorang dungu seperti saya maka mustahil dapat menghibur seorang yang tidak dungu seperti anda.

Penulis adalah seorang dungu-matematika namun nekat berusaha mempelajari matematika


Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

UPDATE

Tumbuhkan Mimpi Puluhan Anak Nelayan Cilincing Lewat Nobar Film

Senin, 14 September 2026 | 03:18

Sejumlah Alutsista TNI Gercep Sisir Korban KM Virgo Transport 8

Senin, 14 September 2026 | 02:55

Kesehatan di Tepi Republik

Senin, 14 September 2026 | 02:29

Ekonomi Batam Tumbuh 7,28 Persen Bukti Kepercayaan Dunia Usaha Terus Menguat

Senin, 14 September 2026 | 01:54

Terpilih jadi Ketum HPK Kosgoro 1957, Eric Hermawan Langsung Tancap Gas Konsolidasi

Senin, 14 September 2026 | 01:24

Abu Vulkanik Berbahaya bagi Air dan Ikan, Begini Penjelasannya

Senin, 14 September 2026 | 00:55

KDM Dinilai Lebih Utamakan Pencitraan Ketimbang Solusi Defisit APBD Jabar

Senin, 14 September 2026 | 00:33

Menuju HUT ke-81, Panglima TNI Buka Rangkaian 72 Lomba Open Turnamen

Senin, 14 September 2026 | 00:11

SOKSI Siap Tempuh Jalur Hukum Gugat 'Bocor Alus Tempo'

Minggu, 13 September 2026 | 23:48

Asta Cita, Zakat, dan Jalan Baru Mengentaskan Kemiskinan

Minggu, 13 September 2026 | 23:24

Selengkapnya