Berita

Jaya Suprana

Jaya Suprana

Kearifan Leluhur Terkait Wabah

SENIN, 04 MEI 2020 | 07:16 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

NASKAH 'Menumpas Corona-Birawa' (22 April 2020) memperoleh tanggapan dari guru besar ilmu pengetahuan budaya departemen arkeologi Universitas Indonesia, Prof. Agus Munandar.

“Kisah pewayangan yang menarik. Metaforenya tepat!” sambil mengirimkan foto arca Bhairawa diiringi komentar, “Inilah arca Bhairawa Chakra-chakra pemunah kejahatan, wabah dan bencana digubah pada zaman pemerintahan Raja Kertanagara di Singhasari (1268-1292 M). Hanya sayangnya sang Chakra-chakra sekarang di Negeri Belanda, kita segera minta dikembalikan saja untuk menjaga akasa-prthiwi Nusantara dari segala bencana. (keris sang Pahlawan Goa Selarong udah kembali, waktunya arca-arca Singhasari diminta juga)”.
 
Wabah
Sementara sang mahaguru lontaromologi, DR. Sugi Lanus berbagi sebuah naskah Ajaran Leluhur Bali Dalam Menyapa Wabah yang dimuat Bali Post (7 April 2020) yang kini saya petik bagian awalnya sebagai berikut:  

Sementara sang mahaguru lontaromologi, DR. Sugi Lanus berbagi sebuah naskah Ajaran Leluhur Bali Dalam Menyapa Wabah yang dimuat Bali Post (7 April 2020) yang kini saya petik bagian awalnya sebagai berikut:  

Leluhur Bali memang mewariskan berbagai ajaran tertulis dan lisan untuk menghormati alam dan isinya. Secara konsisten ajaran ini teguh dipegang ketika wabah datang menghampiri. Para tetua memaknai yang wabah datang sebagai pembawa pesan dari niskala, “Mangda nenten merkak dados jadma” (Agar tidak congkak sebagai manusia). Datangnya wabah pun menjadi momentum kesadaran, “mulat sarira” (memasuki dan memahami diri).

Memeriksa ke dalam, bukan menyalahkan keluar.
Wabah bisa menyerang lahan pertanian, ternak dan manusia. Para petani umumnya punya berbagai kisah kegagalan panen karena serangan hama. Biasanya disebabkan oleh hama walang sangit, ulat, wereng dan tikus.
Hidup petani yang sahaja dibuat morat-marit. Walang sangit, ulat, wereng dan tikus seperti mengikat janji, bergilir menyerang sawah dan lumbung petani.
 
JRO
Alih-alih mengumpatnya, para petani malah memberi gelar kehormatan “jro” kepada wereng dan tikus. Hama diajak ngomong dan disapa dalam upakara: “Mekaon mekaon jro, mekaon jrone mekaon.” (Pergi pergilah tuan dan puan, pergi pergilah tuan dan puan).

Diucapkan tanpa nada benci. Jauh dari perasaan bermusuhan atau dimusuhi. Diucapkan dalam suasana ritus suci penaklukan hama, Nangkluk Mrana. Tikus diberi gelar kehormatan lebih spesifik sebagai “Jro Ketut”.

Kalau petani sudah habis-habisan berdoa, dan tetap saja subak dilalap tikus untuk kesekian kali panen, barulah tikus diburu. Ini dilakukan lewat prosesi permohonan maaf pinuning yang sangat serius. Perburuan dihayati sebagai ritus suci. Ditutup dengan upakara penyucian somya: Ngaben Tikus.

Baik Nangluk Mrana dan Ngaben Tikus dilandasi permintaan maaf dan permohonan suci kehadapan Batara Bedugul, berakar kata dari “Bedogol” (arca penjaga) yang tidak lain dari personifikasi Batara Hyang Ganapati (Ganeśa) yang menguasai segala kekuatan alam bawah dan penghubung ke alam atas.

Menyapa
Menarik adalah sementara saya terbiasa menggunakan kata melawan  terhadap virus Corona, DR. Sugi Lanus menggunakan kata yang jauh lebih ramah yaitu menyapa.

Terasa bagaimana kearifan leluhur Bali menganggap virus sebagai bukan sesuatu yang harus dibenci apalagi dimusuhi, namun bagian dari kehidupan di alam semesta ini.

Kearifan leluhur Bali tidak menganggap alam semesta ini sebagai suatu kancah peperangan dengan saling merusak bahkan membinasakan dalam suasana destruktif, namun suatu kesatuan dan persatuan kehidupan yang jauh lebih indah apabila dihadapi dengan suasana konstruktif.

Maka filsafat kesehatan leluhur Nusantara memang lebih cenderung bukan kuratif membinasakan virus yang sudah terlanjur menyerang manusia namun lebih cenderung fokus pada upaya preventif sesuai paradigma kesehatan WHO abad XXI yaitu senantiasa menjaga kesehatan demi memperkuat daya tahan tubuh manusia agar mampu mencegah jangan sampai diserang oleh virus dan berbagai sumber penyakit lain-lainnya.

Penulis adalah pembelajar kearifan leluhur bangsa Indonesia


Populer

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Kasus OTT Pemalang: Anggota Polri yang Bertugas di KPK Jadi Tersangka

Kamis, 30 Juli 2026 | 10:29

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Polri Didesak Usut Donatur Penyebar Hoaks Kerusuhan Agustus

Minggu, 09 Agustus 2026 | 17:47

Zelensky Klaim 50 Ribu Tentara Korut Sedang Dalam Perjalanan ke Rusia

Minggu, 09 Agustus 2026 | 17:24

Ekonomi Indonesia Mustahil Saingi Vietnam jika Abaikan Sektor Luar Negeri

Minggu, 09 Agustus 2026 | 17:23

Rezim Hubungan Industrial Maritim Indonesia Belum Terintegrasi

Minggu, 09 Agustus 2026 | 17:14

KPK Kuliti Ahmad Dedi Usut Dugaan Pengaturan Jalur Merah-Hijau Impor Blueray

Minggu, 09 Agustus 2026 | 16:51

Iran Waspadai Pakta Pertahanan Mekkah Bentukan Turki, Saudi, dan Pakistan

Minggu, 09 Agustus 2026 | 16:29

Kejari Tanjung Perak Bantah Isu Pemerasan 6 Eks Pejabat Pelindo dan APBS

Minggu, 09 Agustus 2026 | 15:36

Penguatan Kopdes Merah Putih Kunci Kemandirian Ekonomi Papua

Minggu, 09 Agustus 2026 | 15:08

Turki Tegaskan Pakta Pertahanan Mekkah Dibentuk Bukan untuk Hadapi Iran

Minggu, 09 Agustus 2026 | 14:53

Usai Putusan MK, Siaga 98 Dorong Penataan BGN Lewat Perpres Baru

Minggu, 09 Agustus 2026 | 14:36

Selengkapnya