Berita

Ketua Komisi Uni Afrika, Moussa Faki Mahamat/Net

Dunia

Gara-gara Ada Kasus Baru Virus Corona Pada Warga Nigeria, China Diserbu Kecaman Dari Afrika

SENIN, 13 APRIL 2020 | 06:22 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

  Ketua Komisi Uni Afrika, Moussa Faki Mahamat, memanggil  Duta Besar Tiongkok untuk serikat pekerja, Liu Yuxi untuk menyampaikan keprihatinannya mengenai kabar diskriminasi yang terjadi kepada orang-orang Afrika di Guangzhou.

"Kami betul-betul prihatin atas kabar adanya tuduhan penganiayaan terhadap orang Afrika di Guangzhou. Kami minta agar hal ini menjadi perhatian,” ujar Moussa, seperti dituliskan SCMP, Minggu (12/4).

Negara-negara Afrika seperti Kenya, Uganda, Ghana, Nigeria, dan Sierra Leone juga telah menulis protesnya ke Beijing. Beijing diduga melakukan tindakan kekerasan terhadap warga mereka di Kota Guangzhou China Selatan termasuk memaksa melakukan tes Covid-19.


Mereka juga menuntut penghentian pengujian paksa, karantina, dan perlakuan tidak manusiawi lainnya yang dijatuhkan kepada orang Afrika di Provinsi Guangdong khususnya.

Protes itu dilayangkan setelah adanya laporan bahwa orang-orang Afrika di ibukota provinsi Guangdong menjadi sasaran diskriminasi sejak lima orang warga Nigeria diketahui positif Covid-19. Dalam laporannya, disebutnya warga Afrika dipaksa keluar dari tempat tinggal mereka dan diusir oleh hotel.

Yang Rihua, Wakil Direktur Jenderal Departemen Keamanan Publik Guangdong, mengatakan semua orang asing di Guangdong harus melakukan tes Covid-19 dan mematuhi langkah-langkah pengendalian epidemi lainnya. Mereka yang menentang akan dihukum, dan mungkin dideportasi, katanya.

Walikota Guangzhou Wen Guohui menyebut saat ini ada 30.768 orang asing yang tinggal di Guangzhou, di mana 4.553 adalah orang Afrika. Sejumlah 4.600 di antara mereka sedang dilakukan tes.

“Dalam hal itu, baik orang asing maupun warga negara Tiongkok diperlakukan sama persis,” tegas Guohui, Minggu (12/4).

Menteri Luar Negeri Afrika Barat, Ghana Shirley Ayorkor Botchwey, mengatakan ia menerima laporan tentang perlakuan tidak manusiawi yang diberikan kepada warga Ghana dan warga negara Afrika lainnya di China sehubungan dengan wabah Covid-19.

"Saya menyesal dan sangat mengutuk tindakan perlakuan buruk dan diskriminasi rasial ini," katanya.

Investigasi virus corona di Guangzhou  berpusat di distrik kota Yuexiu, yang dikenal sebagai ‘Afrika kecil’, sejak penemuan kasus baru virus crona pada lima orang warga Nigeria.

Beredar video di media sosial tentang orang-orang Afrika yang diperlakukan dengan buruk pasca penemuan kasus baru virus corona.

Para diplomat Afrika melakukan pertemuan dengan para pejabat kementerian luar negeri China, termasuk kepala divisi urusan Afrika, di Beijing pada hari Kamis lalu.

Kedutaan Besar Republik Sierra Leone dalam sebuah pernyataannya menyebut bahwa perwakilan dari duta besar Afrika telah menyampaikan keprihatinan dan kecaman mereka atas pengalaman yang mengganggu dan memalukan yang dialami warga negaranya.

Sebelumnya, pemerintah Guangzhou melakukan aturan  penjagaan ketat di pintu masuk serta pemeriksaan suhu, pasca ditemukannya kasus positif Covid-19 pada lima warga Nigeria.

Warga mengeluh akan adanya pembatasan tetapi mereka harus mengikuti aturan pemerintah. Orang-orang Afrika yang biasanya terlihat beraktivitas di Jalan Kuangquan di distrik Yuexiu untuk melakukan bisnis, kini tidak terlihat lagi.

Pejabat Guangzhou melaporkan bahwa kota itu  memiliki 111 kasus impor Covid-19 termasuk setidaknya 16 pasien dari berbagai negara di Afrika, pada Selasa (7/4).

Pejabat kesehatan China telah memperingatkan negara itu untuk berjaga-jaga terhadap kasus impor dari negara-negara seperti Inggris dan Italia tetapi juga dari daerah dengan sistem kesehatan yang kurang berkembang seperti Afrika.

Guangzhou adalah pusat perdagangan utama dan industri garmen yang menarik banyak pedagang dari seluruh dunia, termasuk Afrika.  Bahkan di Jalan Kuangquan di distrik Yuexiu, Guanhzhou, disebut sebagai 'Little Africa'.

Yang menyedihkan adalah orang-orang Afrika yang tetap nekad datang untuk mencari peruntungan di Guangzhou dan tidak mengetahui akan adanya pembatasan ini. Bukannya bisnis yang mereka dapatkan, tetapi mereka malah menghabiskan uang untuk menyewa hotel untuk karantina.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Deklarasi New Delhi, Terjemahkan Komitmen Jadi Hasil Nyata

Sabtu, 12 September 2026 | 21:55

Usulan Masa Jabatan Kades Tak Terbatas Harus Ditolak

Sabtu, 12 September 2026 | 21:10

Polisi Beberkan Peran Tiga Tersangka Pengeroyokan Maut Pejompongan

Sabtu, 12 September 2026 | 20:32

Prabowo Perkuat Peran Indonesia dalam Kerja Sama Multilateral di KTT BRICS 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 19:48

Morits L Tamaela Terpilih Sebagai Sekjen ADEKSI, Konsolidasi DPRD Kota Seluruh Indonesia Diperkuat

Sabtu, 12 September 2026 | 19:32

Menyusuri Perkebunan Sawit dan Karet, Mantri BRI Jaga Akses Keuangan Sumatera Selatan

Sabtu, 12 September 2026 | 19:27

Purbaya Tak Mau Ikuti Jepang Pangkas PPN, Ini Alasannya

Sabtu, 12 September 2026 | 18:18

Cek Bansos BPNT September 2026, Ada Pencairan hingga Rp600.000

Sabtu, 12 September 2026 | 18:11

Patahan Surabaya Jadi Sorotan di Medsos, Ini Penjelasan Pakar ITS

Sabtu, 12 September 2026 | 17:54

Cek Daftar HP yang Tak Bisa Lagi WhatsApp Mulai September 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 17:40

Selengkapnya