Berita

Pemimpin Oposisi Malaysia Anwar Ibrahim/Net

Dunia

Imbas Wabah Covid-19, Anwar Ibrahim: Pemerintah Harus Tegas, Jangan Pecat Pekerja Tapi Potonglah Gaji Pejabat

JUMAT, 27 MARET 2020 | 06:06 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pemimpin oposisi Malaysia Anwar Ibrahim mengecam sikap pemerintah Malaysia yang dinilai masih diam atas terjadinya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) oleh perusahaan di negeri jiran.

Wabah virus corona memang membuat semua dunia usaha terancam. Namun,  wabah yang terjadi ini tidak benar-benar mengancam perusahaan besar yang selama ini telah meraup keuntungan miliaran dolar.

Saat ini mereka hanya mengalami kemerosotan keuntungan. Anwar beranggapan tindakan pemecatan hanya karena keuntungan mereka yang merosot di saat-saat seperti ini sangat tidak bijak.


“Saya tidak mengerti mengapa Kementerian Sumber Daya Manusia dan pemerintah tidak menegaskan bahwa pekerja tidak dapat dipecat dan upah mereka dipotong dalam situasi seperti saat ini, karena keuntungan [perusahaan] kecil,” ujar Anwar dalam konferensi persnya melalui media sosial Facebook, Kamis (26/3).

Anwar mengatakan para pekerja tersebut bekerja di perusahaan kaya yang memiliki keuntungan miliaran dolar. Perusahaan-perusahaan itu hanya sempat mengalami kerugian ketika krisis ekonomi melanda.

"Ini bukan sistem yang perlu kita pertahankan," ujar Presiden Partai Keadilan Rakyat (PKR) itu.

Untuk rencana memotong gaji dari perdana menteri, menteri, dan wakil menteri, selama dua bulan untuk disumbangkan bagi pasien Covid-19, ia menyatakan sependapat dan menyambut baik.
“Ini berarti tuntutan yang digaungkan rakyat telah direspons [pemerintah],” ujar Anwar.

Bahkan, ia menambahkan anggota parlemen PKR juga didesak untuk menyumbangkan gajinya di daerah pemilihan sebanyak mungkin, terutama bagi warga miskin.

Anwar juga menuntut keseriusan pemerintah Malaysia untuk menangguhkan cicilan rumah dan kendaraan akibat wabah Covid-19.
Angka kematian di Malaysia akibat virus corona bertambah menjadi 23 orang per Kamis (26/3).

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Deklarasi New Delhi, Terjemahkan Komitmen Jadi Hasil Nyata

Sabtu, 12 September 2026 | 21:55

Usulan Masa Jabatan Kades Tak Terbatas Harus Ditolak

Sabtu, 12 September 2026 | 21:10

Polisi Beberkan Peran Tiga Tersangka Pengeroyokan Maut Pejompongan

Sabtu, 12 September 2026 | 20:32

Prabowo Perkuat Peran Indonesia dalam Kerja Sama Multilateral di KTT BRICS 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 19:48

Morits L Tamaela Terpilih Sebagai Sekjen ADEKSI, Konsolidasi DPRD Kota Seluruh Indonesia Diperkuat

Sabtu, 12 September 2026 | 19:32

Menyusuri Perkebunan Sawit dan Karet, Mantri BRI Jaga Akses Keuangan Sumatera Selatan

Sabtu, 12 September 2026 | 19:27

Purbaya Tak Mau Ikuti Jepang Pangkas PPN, Ini Alasannya

Sabtu, 12 September 2026 | 18:18

Cek Bansos BPNT September 2026, Ada Pencairan hingga Rp600.000

Sabtu, 12 September 2026 | 18:11

Patahan Surabaya Jadi Sorotan di Medsos, Ini Penjelasan Pakar ITS

Sabtu, 12 September 2026 | 17:54

Cek Daftar HP yang Tak Bisa Lagi WhatsApp Mulai September 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 17:40

Selengkapnya