Berita

Ilustrasi/Net

Nusantara

Berpotensi Salahtafsir, Rasio Kematian Covid-19 Sebaiknya Tidak Diumumkan Pemerintah

KAMIS, 26 MARET 2020 | 14:37 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Pemerintah diminta tidak mengumumkan rasio kematian dalam kasus virus corona baru (Covid-19). Pasalnya, persentase tingkat fatalitas atau Case Fatality Rate (CFR) maupun Death Rate berpotensi disalahartikan pihak tertentu.

Demikian diungkapkan Poly Network (PN), sebuah kelompok peneliti jaringan sosial kualitatif independen dan nonpartisan yang berisikan pada akademisi antropologi, sosial politik, dan praktisi teknologi informasi.

“CFR maupun Death Rate berpotensi menyesatkan dan dapat disalahtafsirkan untuk kepentingan yang tidak menguntungkan upaya percepatan penanganan wabah Covid-19,” ujar Direktur PN, Johan Neesken, Kamis (26/3).


Bahkan, Johan menyatakan, lembaga resmi dunia seperti badan kesehatan dunia WHO dan CDC US pun tidak melakukan hal tersebut. Sebagian besar diskusi terkini tentang risiko kematian akibat Covid-19 dilakukan fokus pada CFR.

“Dalam kasus terburuk, banyak yang menyesatkan bahwa CFR memberikan jawaban untuk pertanyaan seberapa besar kemungkinan seseorang terinfeksi Covid-19 meninggal karenanya,” tutur Johan kepada Kantor Berita RMOLJabar.

Meski CFR sebagai metrik yang relevan, namun tidak memberi tahu tentang risiko kematian orang  terinfeksi.

“Itu hanyalah rasio antara jumlah kematian yang dikonfirmasi dari penyakit dan jumlah kasus yang dikonfirmasi (bukan total kasus),” tegasnya.

Adapun Death Rate sebagai yang ukuran sangat berbeda dihitung melalui cara membagi jumlah kematian akibat penyakit dengan total populasi.

“Ini penting untuk dibedakan, karena sayangnya orang juga terkadang mengacaukan CFR dengan Death Rate,” imbuhnya.

Dia mencontohkan pandemik flu Spanyol pada 1918. Perkiraan yang sering dikutip Johnson dan Mueller (2002) adalah 50 juta orang meninggal secara global, hal tersebut menyiratkan 2,7 persen dari populasi dunia meninggal pada saat itu.

“Ini berarti death rate adalah 2,7 persen. Tetapi 2,7 persen sering salah dilaporkan sebagai CFR. Jika faktanya Death Rate adalah 2,7 persen, maka tingkat CFR jauh lebih tinggi karena tidak semua orang di dunia terinfeksi flu Spanyol,” jelasnya.

Menurutnya, CFR yang umum dilaporkan sebagai nilai tunggal bahkan konstanta biologis, juga patut disayangkan. Sebab, CFR bukan nilai terkait dengan penyakit yang diberikan, tetapi sebaliknya mencerminkan keparahan dalam konteks tertentu, pada waktu tertentu, dan dalam populasi tertentu.

Johan menekankan, justru Infection Fatality Risk (IFR) yang sebenarnya mampu memberikan jawaban atas pertanyaan seberapa besar kemungkinan seseorang yang terinfeksi Covid-19 meninggal.

“Kemungkinan seseorang meninggal karena suatu penyakit tidak tergantung pada penyakit itu sendiri, tetapi juga respons sosial dan individu terhadapnya, tingkat dan waktu perawatan yang mereka terima, serta kemampuan individu untuk pulih dari penyakit itu,” tandasnya.  

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

UPDATE

Forum Lintas-Generasi Ketuk Pintu KWI Serukan Kebangkitan Moral Bangsa

Rabu, 15 April 2026 | 22:14

Gaduh Motor Listrik, Muncul Desakan Copot Kepala BGN

Rabu, 15 April 2026 | 21:53

BTN Salurkan KPR Rp530 Triliun untuk 6 Juta Rumah dalam 5 Dekade

Rabu, 15 April 2026 | 21:34

Dipimpin Ketum Peradi Profesional, Yuhelson Dikukuhkan Sebagai Guru Besar

Rabu, 15 April 2026 | 21:03

Terbongkar, Bisnis Whip Pink Ilegal Raup Omzet hingga Rp7,1 Miliar

Rabu, 15 April 2026 | 20:51

Pakar dan Praktisi Kupas Tata Kelola Intelijen di Tengah Geopolitik Global

Rabu, 15 April 2026 | 20:42

2,1 Juta Peserta BPJS PBI Kembali Aktif

Rabu, 15 April 2026 | 20:30

Revisi UU Pemilu Bukan Cuma Ambang Batas

Rabu, 15 April 2026 | 20:10

Sejarah Panjang Trem Jakarta dari Masa ke Masa

Rabu, 15 April 2026 | 20:05

Film The Legend of Aang: The Last Airbender Diduga Bocor di X Jelang Tayang Oktober 2026

Rabu, 15 April 2026 | 19:45

Selengkapnya