Berita

Pajak Rajapaksa/Net

Dahlan Iskan

Pajak Rajapaksa

SELASA, 03 DESEMBER 2019 | 05:00 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

BEGITU mendarat di Sri Lanka saya ingat Buddha. Saya pernah dua kali dianggap Buddha dan Buddhis.

Buddha telah membuat saya lancar masuk ke Sri Lanka. Antrian visa on arrival Jumat lalu itu panjang. Di belakang petugas ada tulisan USD 40. Untuk sekali masuk negara itu.

Saya pun tahu cara untuk lancar. Saya sudah siapkan jawaban untuk pertanyaan 'tujuan ke Sri Lanka'.


"Ke kuil Buddha," jawab saya.

"Anda Buddhis?"

Yang bertanya menghadap komputer. Saya diam saja. Diam itu rupanya disamakan dengan 'ya'.

Saya pun diantar ke loket imigrasi. Kasihan yang antre di belakang saya --ditinggal begitu saja.

Di imigrasi saya langsung diserahterimakan ke petugas paspor. Tanpa harus antre. Tidak ada pertanyaan lagi. Paspor pun langsung distempel.

Uang USD 40 dolar yang sudah saya pegang masuk ke saku lagi.

Toh di Colombo, ibu kota Sri Lanka, saya harus ke kuil terbesar di situ. Seperti kalau ke Eropa harus ke gereja legendaris.

Dan lagi saya toh sangat familiar dengan kuil Buddha. Begitu banyak kuil Buddha yang mengundang saya --di Medan yang luasnya 30 hektare itu, di Jakarta yang dekat Ancol itu, di Gorontalo yang dekat teluk itu. Tak terhitung.

Buddha Empat Wajah di Kenjeran Surabaya saya juga yang diminta meresmikan. Demikian juga kuil yang di Samarinda --sampai teman saya yang Islam harus salat asar di dalam kuil itu-- seijin Biksu di situ.

Saya juga pernah diminta mewakili umat Buddha --untuk memberi sambutan di depan Bapak Presiden SBY di Borobudur.

Kini saya datang ke negara Buddha. Lebih 65 persen penduduk Sri Lanka adalah Buddha.

Ups, saya juga ingat saat di Kamboja awal tahun ini. Di Kamboja-lah saya mengurus visa ke India.

Saya pun ke perusahaan pengurusan visa. Tinggal serahkan copy paspor dan bayar di situ. Semua formulir ia yang mengisi.

Setelah semua berkas selesai barulah saya ke kedutaan besar India di Phnom Phen.

Dalam perjalanan itu saya baca-baca isi dokumen. Saya pun tersenyum: di situ ditulis agama saya Buddha.

Kini Sri Lanka kembali menarik perhatian saya. Dengan presiden barunya yang 'hanya' berangkat letnan kolonel: Gotabaya Rajapaksa.

Hampir saja Letkol Gota gagal jadi capres. Penyebabnya: ia telanjur jadi warga negara Amerika Serikat.

Sepuluh tahun Letkol Gota tinggal di Amerika. Sejak memutuskan pensiun dini dari dinas kemiliteran. Di sana Letkol Gota ambil gelar doktor. Bidang komputer. Lalu bergabung ke sebuah perusahaan besar di California.

Isu kewarganegaraan itu tidak muncul selama Letkol Gota menjabat menteri pertahanan. Di zaman kakak kandungnya, Mahinda Rajapaksa, menjabat Presiden Sri Lanka. Padahal 10 tahun Letkol Gota menjadi menteri.

Begitu mencapreskan diri, soal kewarganegaraan itu tidak hanya digugat --bahkan diperkarakan lewat pengadilan.

Akhirnya pengadilan memutuskan: Letkol Gota berhak menjadi capres. Waktu menjadi warga negara Amerika itu Letkol Gota tidak melepaskan kewarganegaraan Sri Lanka. Ia memegang dua paspor --dwikewarganegaraan.

Putusan itu agak telat: 4 Oktober lalu. Sampai-sampai Letkol Gota tidak ikut debat publik pertama: 5 Oktober.

Tapi Letkol Gota punya nama. Ia pernah mendapat gelar pahlawan --biar pun masih hidup. Di masa ia jadi Menhan-lah perang sipil selama 30 tahun berakhir.

Letkol Gota pun memenangi pilpres. Dengan perolehan suara 52 persen. Suku mayoritas Sinhala Buddha memihaknya.

Ia kalah di lingkungan suku Tamil --baik Tamil yang Hindu maupun Tamil Islam.

Tiga gebrakan langsung dilakukan presiden baru. Bukan di 100 hari pertama, tapi di satu minggu pertama.

Pertama, ia mengangkat kakaknya --mantan presiden itu-- sebagai perdana menteri Sri Lanka (Lihat DI's Way kemarin:Presiden Letkol).

Kedua, ia langsung mengunjungi India --yang renggang sejak 15 tahun lalu.

Ketiga, melakukan pemotongan pajak besar-besaran. Bahkan beberapa jenis pajak dihapus.

Tiga hari Presiden Gota di New Delhi. "Pokoknya saya akan bikin hubungan dengan India pada level yang tertinggi," ujarnya ketika di New Delhi Sabtu lalu.

Waktu saya mendarat di Colombo, ia mendarat di New Delhi.

Tiga hal yang membuat India renggang dengan Sri Lanka. Semua tidak terkait penculikan Dewi Sita oleh Rahwana.

Pertama, soal banyaknya nelayan India yang ditangkap di Sri Lanka.

Kedua, soal mesranya hubungan Sri Lanka dengan Pakistan --temannya musuh adalah juga musuhnya.

Ketiga, ehm, terbentuknya poros Colombo-Beijing (DI's Way kemarin).

India menjadi dikepung dari tiga arah mata angin --utara (Tiongkok), barat (Pakistan) dan selatan (Sri Lanka).

"Please, India tanam modal di Sri Lanka," ujar Presiden Gota di New Delhi.

Ia juga minta Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan negara barat tanam modal di Sri Lanka.

"Agar kami tidak tergantung pada Tiongkok," katanya. "Hubungan kami dengan Tiongkok adalah komersial biasa," tambahnya.

Dengan menancapkan jangkar di Sri Lanka dan Pakistan Tiongkok memang langsung menguasai jalur strategis Samudera Hindia.

Sri Lanka memang hanya negara satu pulau kecil. Di tangan Dinasti Rajapaksa ia ingin jadi Singapura kedua.

Ups, kalimat terakhir itulah nomor 4 --yang membuat India was-was.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Deklarasi New Delhi, Terjemahkan Komitmen Jadi Hasil Nyata

Sabtu, 12 September 2026 | 21:55

Usulan Masa Jabatan Kades Tak Terbatas Harus Ditolak

Sabtu, 12 September 2026 | 21:10

Polisi Beberkan Peran Tiga Tersangka Pengeroyokan Maut Pejompongan

Sabtu, 12 September 2026 | 20:32

Prabowo Perkuat Peran Indonesia dalam Kerja Sama Multilateral di KTT BRICS 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 19:48

Morits L Tamaela Terpilih Sebagai Sekjen ADEKSI, Konsolidasi DPRD Kota Seluruh Indonesia Diperkuat

Sabtu, 12 September 2026 | 19:32

Menyusuri Perkebunan Sawit dan Karet, Mantri BRI Jaga Akses Keuangan Sumatera Selatan

Sabtu, 12 September 2026 | 19:27

Purbaya Tak Mau Ikuti Jepang Pangkas PPN, Ini Alasannya

Sabtu, 12 September 2026 | 18:18

Cek Bansos BPNT September 2026, Ada Pencairan hingga Rp600.000

Sabtu, 12 September 2026 | 18:11

Patahan Surabaya Jadi Sorotan di Medsos, Ini Penjelasan Pakar ITS

Sabtu, 12 September 2026 | 17:54

Cek Daftar HP yang Tak Bisa Lagi WhatsApp Mulai September 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 17:40

Selengkapnya